“Sebaik-baiknya insan adalah mereka yang dipanjangkan usia untuk memperoleh prestasi pahala”, seraya memanjatkan hamdalah atas perjalanan sejarah terakhir HMI. Beberapa kader HMI yang telah Kembali kehadhirat-Nya, pimpinan kader PB HMI diantaranya Ridwan Saidi, Ferry Mursidan Baldan, Mulyadi P Tamsir, teriring do’a, semoga mendapatkan tempat yang baik disisiNya”.
Demikian sambutan dan Doa ustadz Syamsidar Tomagola (Pimpinan Garuda Mas : Gerakan Pemuda Masyarakat Sadar) bersama Raihan Ariatama (Ketua umum PB HMI Dipo), Prof DR Laode Masihu Kamaludin (Rektor UICI), Umiroh Fauziah (Ketua umum Kohati) Abdul Rizal (Panitia), Rival, Bahtiar Qori, pada acara malam Milad 76 tahun HMI pada 5 Febuari 2023, dengan mengambil thema ” Khidmat HMI untuk peradaban masa depan Peradaban ” di markas PB jalan Sultan Agung nomor 25 Setiabudi, Jakarta.
Riyanda Barmawi Ketua Bidang Ekonomi Pembangunan PB HMI TEPAT Minggu (5/2/2023), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menapaki usianya yang ke-76 tahun. Waktu yang tidak singkat ini menjadi pembuktian bahwa usia bukan sekedar umur yang menua. Pengalaman panjang yang berjejak dalam sejarah Republik, menjadi modal utama bagi himpunan untuk tetap istiqamah guna menjawab tantangan dan persoalan yang kian kompleks di era globalisasi.
Realitas kontemporer yang tidak lagi sama seperti periode awal HMI didirikan menyisakan pertanyaan. Apakah hari kelahiran HMI hanya dimaknai sebagai seremoni dan diglorifikasi sedemikian rupa atau moment ini menjadi titik beranjak memperjuangkan cita-cita dan tujuan?
Di bawah revolusi industri generasi keempat, atau kerap disebut dengan cyber physical system, yang menitikberatkan pada otomatisasi serta kolaborasi antarteknologi cyber, telah berhasil mendisrupsi tatanan sosial sehingga batas teritorial kian memudar, menuntut setiap organisasi agar beradaptasi (self-defence) dengan tuntutan zaman. Karenanya romantisme sejarah, atau terjebak ke dalam persoalan yang tidak produktif, seperti membenturkan keislaman dan keindonesiaan sudah seharusnya ditinggalkan.
Pasalnya, kalau berkaca pada embrio lahirnya HMI, keislaman dan keindonesiaan – Islam dan Pancasila – merupakan alasan yang melatari serta memotivasi pembentukan himpunan. Salah satu tujuan dari lahirnya HMI adalah mempertahankan negara Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, di samping menegakkan dan mengembangkan nilai agama Islam.
Hal ini kemudian di pertegas oleh sejarawan HMI Agussalim Sitompul (2002) jika memang pada dasarnya, sejak awal berdirinya, organisasi HMI telah mempunyai pemikiran keislaman dan keindonesiaan. Keislaman dan keindonesiaan tidak diletakkan dalam posisi yang dikotomis, apalagi harus mempertentangkan keduanya. Keduanya dipahami dalam kerangka saling berkaitan, sebab nilai-nilai keislaman kompatibel dengan Pancasila. Peniadaan kesenjangan ini menandakan titik temu atas dua nilai esensial yang menjadi basis fondasional perjuangan HMI dalam rangka mewujudkan cita-cita dan tujuan masyarakat adil makmur.
Alih-alih larut dalam perdebatan yang tak berpangkal tentang Islam dan negara, spirit titik temu itu hendaknya jadi modal HMI membumikan agenda keummatan dan kebangsaan yang lebih kontekstual. Islam Empowering Melalui pidatonya pada Dies Natalis ke-75 HMI, dengan tema “Arah Baru HMI, Berdaya Bersama Menuju Indonesia Emas di 2045”, Ketua Umum PB HMI Raihan Ariatama menawarkan gagasan Islam Empowering sebagai paradigma keislaman dan keindonesiaan HMI kontemporer.
Secara konseptual, gagasan ini hanya kelanjutan dari Islam modernisnya Nurcholis Majid. Hanya saja titik tekan dari Islam empowering terletak pada praksis untuk memperkuat kemandirian, partisipasi, jaringan kerja dan pemerataan.
Budaya Malam Peringatan milad HMI seperti biasa dihadiri oleh massa HMI, hingga melimpah ruah sampai acara penutupan dan puncak acara Milad 76 tahun HMI, merupakan hari akhir dari Priode Kepengurusan Raihan Insyalah di Jateng.
Mahdi
























