Oleh : Dr. Susilawati Saras SE.,MM.,MA.,M.han – Intelektual Bela Negara
Pola yang terbentuk dalam panggung politik demokrasi nasional, saat kader terbaik bangsa menerima amanah rakyat sebagai Presiden Republik Indonesia, dipastikan kemudian saat putra-putra Presiden maju dalam kompetisi demokrasi baik legislatif maupun eksekutif langsung mendapat sambutan positif dari masyarakat dan terpilih. Apakah kehadiran mereka di panggung politik atas kemauan sendiri ataukah dorongan dari pihak lain, atau dimanfaatkan oleh pihak yang mengambil keuntungan dari keberadaan mereka selama dalam jalur yang baik maka tidak menjadi persoalan.
Dalam politik demokrasi kemenangan didasarkan pada perolehan suara terbanyak sehingga putra-putra sang Presiden lebih mudah memenangkan kompetisi, karena sangat terlihat dan menonjol di ruang publik dampak kepopuleran orangtua mereka seperti Puan Maharani putri Megawati (Presiden ke lima), Edhie Baskoro Yudhoyono putra Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden ke enam), Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Afif Nasution putra/menantu Joko Widodo (Presiden ke tujuh).
Hanya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang berbeda, walau sebagai putra seorang Presiden namun memilih tampil di panggung politik nasional saat orangtua sudah tidak lagi sebagai Presiden sehingga menghadapi tantangan, rintangan, gangguan yang cukup besar secara mandiri. Sebenarnya situasi ini menjadi peluang yang dapat diberdayakan sebagai pembuktian diri dan validasi sebagai seorang pemimpin yang tangguh.
Berbagai persoalan selalu dihadapi dan disikapi dengan baik, sebagai seorang pemimpin bagaimana mengarahkan, mengerahkan, menguatkan kebersamaan dan mengontrol siklus kerja politik di partai baik ke dalam (internal) maupun keluar (eksternal). Semua dijalani secara berimbang dan bijak dengan tujuan agar roda partai terus berjalan dan tetap stabil, apalagi untuk menghadapi pemilihan umum (pemilu) 2024.
Selain menata kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat di seluruh Indonesia agar terpenuhi syarat verifikasi parpol, juga menetapkan dan melengkapi jumlah peserta calon legislatif (caleg) untuk didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), di sisi lain berupaya melakukan lobi-lobi untuk membangun koalisi antar partai politik (parpol) yang sevisi sebagai syarat Presidential Threshold (PT) 20% sebagaimana tercantum dalam UU politik di samping terus melakukan branding diri maupun partai agar dikenal lebih luas oleh rakyat Indonesia dengan mengunjungi berbagai wilayah di tanah air. Plus kesigapan dalam menghadapi para pembegal partai (orang lemah) yang masih berlangsung melalui proses hukum, semua menjadikan tantangan yang tidak kecil bagi kepemimpinan AHY. Namun AHY tetap bersemangat menghadapinya, dan semua itu dijadikan bara untuk semakin terpacu melakukan hal terbaik dan menang. Apalagi jika untuk kebaikan dan kebenaran sesuai norma dan aturan hukum yang menjadi dasar dan pedoman hidup bagi seluruh warga negara Indonesia (WNI).
Inilah situasi yang dihadapi sebagai seorang Ketua Umum parpol, rasanya tidak banyak orang yang akan mampu berada dalam situasi demikian, jika bukan karena kecintaan yang besar terhadap Indonesia. Selama bertujuan membangun dan memajukan Indonesia, tidak pernah takut oleh apapun hal yang menghalangi, selalu tulus dengan cara dan strategi terbaik untuk mengatasinya.
Penilaian publik terhadap AHY selama ini yang terus merendahkan dan dianggap minus prestasi terpatahkan sudah oleh dinamika yang dihadapi selama hampir lima tahun kepemimpinannya (2020-2025), hingga berhasil sukses membawa kemenangan besar bagi Partai Demokrat di tahun 2024, insya Allah.
Tidak ada dukungan ataupun pengaruh besar dari kekuasaan, semua dijalani dengan rasa percaya diri yang baik. Hampir sepuluh tahun lamanya orangtua tidak lagi sebagai Presiden yang berarti semua adalah kreasi dan kemampuan AHY bersama seluruh kader Partai Demokrat, berjuang keras untuk merebut kembali kejayaan Partai Demokrat.
Masa sepuluh tahun (dua periode) itu adalah waktu yang cukup bagi AHY untuk memantaskan diri (tumbuh di lingkungan keluarga kental militer dan politik yang membentuk karakter kokoh) agar dapat mewujudkan impian dalam memajukan Indonesia lewat ruang politik demokrasi sesuai UU politik, bahwa setiap WNI yang sudah terpenuhi syarat dapat dipilih dan memilih.
Indonesia saat ini memiliki bonus demografi yang sangat besar yang didominasi oleh kaum milenial, ini sebagai kekuatan bangsa Indonesia yang harus dimengerti dan dipahami kehendaknya dan hanya pemimpin milenial yang bisa memahami kebutuhan mereka agar terminimalisir masalah yang timbul dan pemimpin milenial tersebut adalah AHY.
























