Fusilatnews – Di sekolah elit, anak-anak dijemput Pajero, makan siang tampak bergizi, dan sepiring MBG bisa dihitung nilainya: Rp 10.000. Kedengarannya mahal untuk makanan sekolah gratis, tapi tetap kalah jauh dibandingkan sekali jajan di KFC yang bisa mencapai Rp 50.000 per anak—dan lebih aman dari segi rasa maupun kebersihan. Ironi? Sangat.
Dua cucu Mahfud MD menjadi contoh pahitnya realita ini. Mereka keracunan MBG di sekolah Yogyakarta. Salah satunya bahkan harus dirawat empat hari di rumah sakit. Delapan anak dalam satu kelas langsung muntah-muntah setelah menyantap “makanan bergizi gratis” yang seharusnya menyehatkan. Bukannya sehat, anak-anak di sekolah elit justru menghadapi risiko serius di piring mereka sendiri.
Mahfud menegaskan, persoalan MBG bukan sekadar angka 0,0017 persen dari 30 juta porsi. Satu anak yang sakit, satu keluarga yang cemas, itu sudah cukup untuk menjadi isu nasional. Apalagi bila kualitas MBG di sekolah elit—yang seharusnya contoh—bisa menimbulkan keracunan.
Bahkan dokter Tan Shot Yen menyoroti bahwa MBG seharusnya mengenalkan pangan lokal, bukan produk olahan ultra-processed food (UPF) yang dikemas seolah bergizi. Ironisnya, anak-anak di daerah elit yang memiliki akses terbaik pun tidak kebal dari masalah ini.
Bayangkan sekolah biasa, di daerah yang jauh dari pengawasan ketat: apakah anak-anak mereka akan mendapat MBG yang aman dan bergizi, atau sekadar makanan murah yang tampak menarik tapi miskin nutrisi? Fakta ini menyoroti ketimpangan gizi dan absurnya tata kelola program yang semestinya memberi manfaat nyata bagi semua anak—tanpa pandang kelas sosial.
Mahal atau murah, elit atau biasa, bergizi atau hanya tampak bergizi: tanggung jawab pemerintah jelas. MBG bukan sekadar porsi gratis. Ini soal kesehatan, keselamatan, dan masa depan anak-anak Indonesia. Jangan sampai program yang bernama “Bergizi” justru menjadi risiko tersembunyi di piring anak-anak kita.
























