Oleh MIKE STOBBE
NEW YORK–Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr pada Selasa (27/5) menyatakan bahwa vaksin COVID-19 tidak lagi direkomendasikan bagi anak-anak yang sehat dan perempuan hamil — keputusan yang langsung menuai sorotan dan kekhawatiran dari berbagai ahli kesehatan masyarakat.
Dalam video berdurasi 58 detik yang diunggah di platform media sosial X, Kennedy mengumumkan bahwa dirinya telah mencabut rekomendasi vaksin COVID-19 dari daftar imunisasi untuk dua kelompok tersebut yang sebelumnya dikeluarkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Tidak ada perwakilan dari CDC yang muncul dalam video tersebut, dan pihak CDC sendiri merujuk pertanyaan wartawan ke Kennedy serta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS).
Pernyataan Kennedy tak disertai penjelasan lebih lanjut, sementara HHS juga belum memberikan tanggapan terkait mekanisme pengambilan keputusan tersebut.
Sejumlah pakar kesehatan menilai kebijakan itu mengejutkan dan membingungkan.
“Tidak ada data baru atau informasi ilmiah yang mendasari keputusan ini. Mereka seolah membuat kebijakan sambil jalan,” kata Michael Osterholm, Direktur Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular Universitas Minnesota.
Selama ini, otoritas kesehatan AS mengikuti rekomendasi para pakar penyakit menular dengan menganjurkan vaksin booster COVID-19 tahunan untuk seluruh warga berusia 6 bulan ke atas.
Meski diskusi untuk memfokuskan vaksinasi pada kelompok usia 65 tahun ke atas memang mengemuka seiring meredanya pandemi, para ahli tetap menekankan pentingnya proses ilmiah dalam mengubah kebijakan vaksinasi.
Komite penasihat CDC dijadwalkan bertemu pada bulan Juni untuk membahas rekomendasi vaksin COVID-19 di musim gugur. Salah satu opsi yang akan dibahas adalah memberikan vaksin bagi kelompok berisiko tinggi, sambil tetap membiarkan kelompok risiko rendah memilih untuk divaksinasi.
Namun, Kennedy — yang dikenal sebagai tokoh anti-vaksin sebelum menjabat sebagai Menteri Kesehatan — tampak tidak menunggu hasil peninjauan ilmiah tersebut. Ia menyebut bahwa pemberian vaksin booster tahunan kepada anak-anak dilakukan “tanpa adanya data klinis” yang memadai.
Keputusan Kennedy memicu kekhawatiran di kalangan dokter dan tokoh kesehatan masyarakat, karena dianggap mengabaikan proses peninjauan ilmiah terbuka yang sudah menjadi tradisi selama puluhan tahun.
“Ini preseden berbahaya. Kalau ini bisa dilakukan terhadap vaksin COVID, maka bisa juga diterapkan ke vaksin lain seperti campak-gondongan-rubella,” ujar Osterholm.
Keputusan ini juga menimbulkan pertanyaan baru, seperti apakah asuransi kesehatan masih akan menanggung vaksin COVID-19, dan apakah akses terhadap vaksin akan semakin sulit bagi warga yang tetap ingin divaksinasi.
“Alasan kita memberikan vaksin pada orang sehat adalah untuk melindungi mereka,” kata Dr Georges Benjamin, Direktur Eksekutif American Public Health Association.
Menurut data CDC, lebih dari 1,2 juta orang di AS meninggal akibat COVID-19, mayoritas berusia lanjut. Namun anak-anak juga tak luput: lebih dari 1.300 anak meninggal akibat virus corona sejak pandemi dimulai.
Komisioner FDA Dr. Marty Makary dan Kepala National Institutes of Health Dr. Jay Bhattacharya turut muncul dalam video bersama Kennedy.
Saat pencalonannya awal tahun ini, Kennedy sempat meyakinkan anggota parlemen dari Partai Republik bahwa ia tidak akan mengubah jadwal vaksinasi nasional. Namun kenyataannya, sejak menjabat, Kennedy dan sejumlah pejabat pemerintahan Trump telah mengubah sistem persetujuan dan penggunaan vaksin.
Minggu lalu, FDA mengumumkan bahwa persetujuan vaksin COVID-19 rutin hanya akan berlaku bagi lansia dan individu dengan risiko kesehatan tertentu. Sementara vaksin untuk kelompok sehat menunggu penelitian lebih lanjut.
Para ahli juga menyoroti dampak pengumuman Kennedy terhadap persepsi publik terhadap risiko COVID-19, khususnya bagi perempuan hamil.
Selama masa puncak pandemi, angka kematian ibu hamil dan pasca-melahirkan meningkat tajam — tertinggi dalam 50 tahun terakhir. Kehamilan juga sebelumnya masuk daftar kondisi medis yang menjadi prioritas vaksinasi COVID-19 dalam kerangka kebijakan FDA.
“Pernyataan bahwa mereka tidak berisiko sangat menyesatkan,” ujar Dr. Sean O’Leary dari American Academy of Pediatrics.
Presiden American College of Obstetricians and Gynecologists, Dr. Steven Fleischman menegaskan, “Ilmu pengetahuan tidak berubah. Bukti sangat jelas bahwa infeksi COVID selama kehamilan dapat menyebabkan kecacatan berat dan dampak yang menghancurkan bagi keluarga.”
























