• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Bahlil: Ketika Nilai Sakral Dijadikan Alat Politik – Krisis Sensitivitas Moral

fusilat by fusilat
March 8, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Indonesia Impor BBM dari Singapura Menteri Bahlil Heran, “Geleng-geleng Kepala”,

Ketum Golkar Bahlil

Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Di tengah kehidupan berbangsa yang semakin keras oleh tarik-menarik kepentingan, ada satu garis batas yang semestinya tidak boleh dilanggar: nilai-nilai sakral agama. Batas ini bukan sekadar etika sosial, melainkan pagar moral yang menjaga agar agama tidak berubah menjadi alat kekuasaan.

Namun belakangan ini, kita menyaksikan bagaimana batas tersebut kerap dilangkahi dengan mudah oleh para pejabat publik. Salah satu yang memicu kritik keras adalah pernyataan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia terkait Lailatul Qadar.

Pernyataan tersebut bukan sekadar kekeliruan retoris atau kesalahan memilih kata. Yang dipersoalkan publik adalah cara pandang yang terasa merendahkan kesakralan sebuah konsep spiritual dalam Islam.

Lailatul Qadar bukan sekadar istilah religius yang bisa dipakai untuk memperindah pidato politik. Ia adalah malam yang oleh Al-Qur’an disebut “lebih baik dari seribu bulan”, sebuah momentum spiritual yang sejak berabad-abad dihormati oleh umat Islam dengan penuh khidmat.

Karena itu, ketika konsep sakral seperti ini diperlakukan secara sembrono—dijadikan bahan analogi politik, bahkan dikaitkan dengan kalkulasi kekuasaan—reaksi keras dari publik sebenarnya sangat wajar.

Masalahnya bukan pada siapa yang berbicara, tetapi pada mentalitas yang memperlakukan simbol-simbol agama sebagai properti politik.

Inilah penyakit lama dalam politik Indonesia: agama sering dijadikan dekorasi legitimasi. Ketika dibutuhkan, simbol agama dipakai untuk menarik simpati. Tetapi ketika nilai-nilainya menuntut kejujuran, keadilan, dan kerendahan hati, nilai itu justru diabaikan.

Dalam kasus Bahlil, kritik publik sebenarnya sedang menyasar sesuatu yang lebih besar dari sekadar satu pernyataan. Kritik itu menyentuh krisis sensitivitas moral di kalangan elite kekuasaan.

Seorang pejabat publik seharusnya memahami bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya membawa konsekuensi. Apalagi ketika kata itu menyentuh wilayah yang bagi jutaan orang dianggap suci.

Kesadaran ini bukan soal kecerdasan intelektual, tetapi soal kedewasaan etika.

Agama tidak membutuhkan pembelaan dari pejabat negara. Ia telah bertahan ribuan tahun tanpa perlindungan politik. Yang justru diperlukan adalah sikap hormat dari mereka yang memegang kekuasaan.

Ketika kekuasaan mulai merasa bebas memainkan simbol-simbol sakral tanpa kehati-hatian, di situlah alarm moral masyarakat berbunyi.

Publik mungkin bisa memaafkan kesalahan administrasi, kebijakan yang gagal, bahkan janji politik yang tidak terpenuhi. Tetapi publik jauh lebih sensitif ketika nilai sakral yang mereka hormati terasa dipermainkan.

Dalam konteks ini, kritik terhadap Bahlil seharusnya tidak dilihat sebagai serangan pribadi. Ia adalah pengingat bahwa dalam kehidupan publik, tidak semua hal boleh dipolitisasi.

Ada wilayah yang harus dijaga dengan kehormatan: agama, nilai-nilai spiritual, dan keyakinan umat.

Jika batas itu terus dilanggar, maka yang rusak bukan hanya citra seorang pejabat, tetapi martabat ruang publik itu sendiri.

Dan ketika ruang publik kehilangan rasa hormat terhadap yang sakral, politik tidak lagi menjadi alat untuk memuliakan kehidupan bersama. Ia berubah menjadi sekadar arena kekuasaan yang kehilangan jiwa.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Trump “Dirukya” Pendeta, Prabowo Dido’akan Ulama: Backup Langit untuk Langkah Politik

Next Post

Dominasi Muslim di Eropa: Antara Demografi, Integrasi, dan Kecemasan Peradaban

fusilat

fusilat

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Dominasi Muslim di Eropa: Antara Demografi, Integrasi, dan Kecemasan Peradaban

Dominasi Muslim di Eropa: Antara Demografi, Integrasi, dan Kecemasan Peradaban

Muliakan Ramadan, Gammara Inklusi Gelar Khataman Al-Qur’an Braille di Masjid 99 Kubah CPI Makassar

Muliakan Ramadan, Gammara Inklusi Gelar Khataman Al-Qur’an Braille di Masjid 99 Kubah CPI Makassar

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist