Oleh : Dr. Susilawati Saras. SE., MM., MA, M.han – Intelektual Bela Negara
Pertemuan tokoh muda politik nasional hari ini antara Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) Ketua Umum Partai Demokrat dengan Puan Maharani Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang juga sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPRRI) adalah simbol Konstitusi dalam menjalankan proses penyelenggaraan negara dengan sistem politik demokrasi. Dimana kedua tokoh muda ini memiliki kesamaan konsep pikir bahwa perjalanan bangsa Indonesia harus dijalankan sesuai dan berdasarkan amanah Konstitusi sebagai aturan yang disepakati dan ditetapkan agar tidak melenceng dari arah dalam menuju cita-cita nasional, yaitu menyejahterakan kehidupan seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
Pada level kepemimpinan nasional, otomatis memahami dan menyadari bahwa hanya dengan menjalankan Konstitusi secara benar dan baik akan menghasilkan aturan turunan yang lebih terkontrol, yang dibutuhkan untuk mendukung kualitas hidup bangsa menjadi lebih baik dalam jangka panjang.
Sebuah pemerintahan yang sedang menjalankan amanah rakyat, saat menghadapi berbagai persoalan harus bisa menjawab dan menyikapi setiap persoalan berdasarkan bagaimana Konstitusi mengaturnya, tapi bukan dengan selalu ingin mengubah undang-undangnya karena Indonesia akan sulit maju serta melemahkan pemerintahan itu sendiri yang pada akhirnya melemahkan kehidupan rakyat Indonesia.
Pemerintah yang tangguh berprinsip dalam menyikapi setiap persoalan bangsa yang muncul harus berdasar Konstitusi sebagai petunjuk arah untuk menghasilkan solusi yang tepat dan tuntas sehingga menghadirkan lingkungan yang lebih aman, nyaman, tertib, tenang. Itulah tanggung jawab pemerintah atau negara, harus mampu mencerahkan, membina, menjaga dan melindungi warga negara sebagai fungsi hadirnya negara.
Di ruang sosial, utamanya di ruang media sosial sering terjadi kesalahpahaman dalam memaknai perbedaan dalam kehidupan demokrasi, berpikir bahwa perbedaan pandang politik itu sebagai musuh yang harus dilawan dan ditakhlukan sejatinya dengan spirit nasionalisme dapat dirangkul agar terhindar dari situasi ricuh dan gaduh yang terus menerus dikhawatirkan berdampak terganggunya kehidupan nasional yang berakhir chaos.
Para tokoh politik nasional dalam hal ini memiliki kendali besar dalam menuntun kehidupan nasional serta paling bertanggung jawab terhadap stabilitas nasional. Untuk itu dituntut lebih sadar dan lebih bijak dengan mengesampingkan kepentingan kelompoknya (ego masing-masing) agar kondisi negara terus terkendali baik, dengan berbeda justru bisa saling mengisi dan melengkapi untuk menguatkan dan mengayakan pilihan solusi yang dibutuhkan.
Demikianlah sejatinya warna kehidupan bangsa Indonesia, walau berasal dari keberagaman sosial namun tetap berpegang pada nilai persatuan yang mengikat jiwa seluruh anak bangsa yang disimbolkan dengan Bhineka Tunggal Ika (walau berbeda tetap bersatu), itulah spirit yang dipegang dan tidak pernah dilepaskan untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyat Indonesia. Ini adalah tugas besar dari tokoh politik nasional, dengan memiliki komitmen kuat untuk menciptakan lingkungan nasional yang menjadi mimpi besar bangsa Indonesia.
























