Oleh : Malika Dwi Ana
Di tengah hiruk-pikuk politik pasca-Pilpres 2024, Nahdlatul Ulama (NU) – organisasi Islam terbesar di Indonesia – sedang mengalami retakan internal yang semakin dalam. Bukan hanya soal dukungan politik yang terbelah, tapi juga perdebatan sengit tentang nasab (garis keturunan) para habib Yaman, simbol keagamaan bagi sebagian besar warga Nahdliyin. Tiba-tiba, di pertengahan Oktober ini, sebuah tayangan televisi memicu amarah massal: program Xpose Uncensored Trans7 yang menyoroti Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dengan narasi sinis, seolah mengejek tradisi santri dan martabat kiai. Apakah ini sekadar blunder media, atau bagian dari skenario lebih besar untuk menyatukan basis NU yang terpecah sambil mengangkat citra habib-habib Yaman yang sedang terpuruk? Sebuah teori konspirasi yang beredar di media sosial mulai menarik perhatian, menghubungkan titik-titik dari konflik kuburan Yaman hingga pertemuan Jokowi dengan Abu Bakar Ba’asyir.
Retakan NU: Dari Dukungan Jokowi 80% ke Polarisasi yang Mengkhawatirkan
NU, dengan 90 juta anggota, pernah menjadi benteng utama Jokowi sejak Pilpres 2014. Survei Indikator Politik Indonesia pada September 2024 mencatat tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi mencapai 75%, didorong oleh basis NU tradisional di Jawa Timur dan Tengah. Namun, pasca-Pilpres 2024, dukungan itu terbelah. PDI-P (Megawati Soekarnoputri) yang mengusung Ganjar Pranowo menarik sebagian besar NU loyalis, sementara Jokowi-Gibran mengandalkan relawan seperti Projo dan basis urban. Survei Poltracking Indonesia (3-10 Oktober 2025) menunjukkan mayoritas masyarakat (56,8%) tidak percaya isu ijazah palsu Jokowi, tapi wacana pemakzulan Gibran justru memanaskan suasana di kalangan NU garis keras.
Estimasi internal: dukungan NU ke Jokowi yang dulu 80% kini merosot ke sekitar 40%, terutama di basis tradisional seperti pesantren di Jatim. “NU terpecah karena dinamika politik dan isu internal seperti nasab habib,” kata pengamat politik Adi Prayitno dari Parameter Politik Indonesia. Polarisasi ini bukan hanya soal suara, tapi juga soal identitas: NU tradisional (anti-radikalisme impor) vs kelompok yang lebih terbuka terhadap pengaruh habib Yaman.
Konflik Kuburan Habib Yaman: Tuduhan Makam “Palsu” yang Memanaskan Internal NU
Pemicu retakan terbaru adalah kontroversi nasab Ba Alawi, klan habib Yaman yang dihormati di NU. Sejak 2024, peneliti Yaman mengungkap bahwa makam-makam tokoh Ba Alawi di Hadramaut dibangun belakangan (abad 9 H/1400-an), bukan abad 5 H seperti klaim awal. Ini memicu tudingan tentang “makan-makan palsu” dari sebagian NU, terutama terhadap Habib Lutfi bin Yahya – ulama Pekalongan yang mundur dari Mustasyar PBNU pada 2022 untuk fokus pada Jaringan Ahlussunnah Wal Jamaah Tarekat Munqodoroh (JATMAN).
Habib Lutfi, guru spiritual bagi banyak tokoh seperti Gus Miftah, menjadi sasaran utama. “Banyak orang NU memusuhi Yaman karena ini,” tulis seorang Nahdiyin, merujuk perdebatan yang meluas ke isu nasionalisme NU vs “impor” ulama asing. Konflik Yaman secara geopolitik (Houthi-Israel) pun ikut bercampur, dengan sebagian NU dukung Palestina via Yaman, tapi yang lain khawatir radikalisme merembet ke Indonesia. Di platform X, tagar #HabibLutfi dan #KabibYaman ramai sejak awal Oktober, dengan post-post yang menyerang kepalsuan nasab Lutfi.
Tayangan Trans7 Mendiskreditkan Lirboyo: Musuh Bersama atau Skenario Terselubung?
Puncak amarah meledak pada 13 Oktober 2025, saat Xpose Uncensored Trans7 menayangkan segmen berjudul “Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?” Narasi itu menggambarkan santri Lirboyo – pesantren NU tertua di Kediri (didirikan 1910) – dengan nada sinis: kiai “menerima amplop sambil ngesot” dan santri “rela terhina demi berkah”. Alumni seperti KH Said Aqil Siradj (eks Ketua PBNU) dan Ning Imaz disebut sebagai jebolan, tapi tayangan justru menodai martabat KH Anwar Manshur, pendiri pesantren.
Reaksi instan: Tagar #BoikotTrans7 trending di X dengan 137 ribu interaksi dalam 24 jam, didukung PBNU (Gus Yahya ancam jalur hukum), MUI, dan KPI yang selidiki. Trans7 minta maaf resmi pada 14 Oktober, mengakui keteledoran dari production house, dan audiensi dengan alumni. Bahkan muncul petisi cabut izin siaran dengan 10 ribu tanda tangan. Dan NU lalu sibuk mengurus ketersinggungan sampai demo di Transmart dan keluar orasi diluar batas “menggorok leher.”
Kenapa Lirboyo dari sekian banyak pesantren? Lirboyo adalah benteng NU tradisional di Jatim, basis anti-habib ekstrem yang vokal soal nasab Yaman. Di beberapa platform, post-post spekulatif menyebut ini fitnah dari luar untuk satukan NU yang terpolarisasi. Dugaan lain: tayangan sengaja tayang pas pengumuman KPK soal kasus Antam (14 Oktober) dan pengembalian aset PT Timah (6 Oktober, rugi Rp300 T), untuk alihkan isu korupsi.
Peran Gus Miftah: Dari Murid Habib Lutfi ke Seruan Boikot Trans7
Gus Miftah (KH Miftah Maulana Habiburrahman), murid tarekat Habib Lutfi sejak lama, justru jadi aktor kunci. Sebagai Utusan Khusus Presiden Prabowo untuk Kerukunan Beragama (dilantik 22 Oktober 2025), Gus Miftah serukan #BoikotTrans7, sebut tayangan itu “mencederai penjaga moral bangsa”. Ini ironis: murid habib Lutfi (yang dituduh “bernasab palsu”) malah bela Lirboyo, basis NU yang anti-habib.
Dalam Teori Konspirasi: bisa bermakna tayangan yang menyasar ke Lirboyo memang sengaja untuk menciptakan “musuh bersama”, biar nama habib Yaman harum lagi dan kembali berkibar. Gus Miftah, pecinta habib, disebut mengorkestrasi via jaringan media. Meski tidak ada bukti undangan spesifik Habib Lutfi ke Ivan Gunawan atau Deddy Corbuzier di medio Oktober 2025, Deddy pernah undang Habib Umar bin Hafidz (19 Oktober 2025) untuk doa Palestina, dan Gus Miftah ajak Deddy sowan Lutfi sejak 2019. Di platform medsos, banyak post menghubungkan ini sebagai “exposure positif” ketika Lirboyo diserang.
Jokowi Himpun Kekuatan “Islam Garis Keras”: Pertemuan Ba’asyir di Rumah Jokowi dan dukungan untuk Gibran.
Di balik retakan NU, Jokowi tampak menghimpun basis alternatif. Pada 29 September 2025, Abu Bakar Ba’asyir (eks pemimpin JI) kunjungi Solo, ketemu Jokowi 20-30 menit. Ba’asyir menasehati agar “kembali ke hukum Islam” dan “jangan takut miskin kalau mengembalikan uang negara”; Jokowi sungkem hormat. Eks BIN sebut pertemuan ini “rekayasa” (karena Ba’asyir harus nunggu 3 jam), tapi Jokowi bilang ini spontan. Ini simbol: Jokowi merekrut massa “Islam keras” (FPI/JI) untuk dukung Gibran di 2029, saat dukungan NU tinggal 40%.
Hubungan dengan habib? Prabowo (eks Menteri Pertahanan) pernah kunjungi Habib Lutfi di Pekalongan (2023), didampingi Gus Miftah. Strategi: bagi-bagi musuh (dan Lirboyo sebagai target) untuk satukan basis non-NU.
Benang Merah atau Kebetulan? Implikasi untuk Politik 2029
Teori ini spekulatif: Trans7 blunder produksi, pertemuan dengan Ba’asyir yang spontan, exposure habib kebetulan. Tapi timelinenya saat kejadian: ada konflik nasab Yaman (Oktober), serangan ke Lirboyo (13/10), doa Deddy-Habib Umar (19/10), dan survei tolak pemakzulan Gibran (20/10). Di berbagai platform, diskusi ramai: “Ini skenario biar kabib laku lagi, NU pecah dimanfaatkan Jokowi.”
Implikasinya apa? Jika dugaan diatas benar, maka ini perang narasi untuk 2029: Jokowi sedang membangun koalisi luas, lalu NU harus rekonsiliasi. PBNU tuntut Trans7 bertanggung jawab moral-hukum, sementara Gus Miftah mendorong moderasi. Yang pasti, pesantren seperti Lirboyo – sebagai penjaga moral bangsa – tidak boleh menjadi korban politik. Di era digital, satu tayangan bisa ubah alur sejarah. Jadi apakah ini akhir dari “musuh bersama”, atau awal badai yang baru? Waktu yang akan mejawabnya.(Malika’s Insight, 20 Oktober 2025)

Oleh : Malika Dwi Ana






















