• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Benang Merah: Kontroversi Lirboyo, Habib Yaman, dan Manuver Politik NU di Tengah Badai 2025

fusilat by fusilat
October 21, 2025
in Feature, Komunitas
0
Benang Merah: Kontroversi Lirboyo, Habib Yaman, dan Manuver Politik NU di Tengah Badai 2025
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Malika Dwi Ana

Di tengah hiruk-pikuk politik pasca-Pilpres 2024, Nahdlatul Ulama (NU) – organisasi Islam terbesar di Indonesia – sedang mengalami retakan internal yang semakin dalam. Bukan hanya soal dukungan politik yang terbelah, tapi juga perdebatan sengit tentang nasab (garis keturunan) para habib Yaman, simbol keagamaan bagi sebagian besar warga Nahdliyin. Tiba-tiba, di pertengahan Oktober ini, sebuah tayangan televisi memicu amarah massal: program Xpose Uncensored Trans7 yang menyoroti Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dengan narasi sinis, seolah mengejek tradisi santri dan martabat kiai. Apakah ini sekadar blunder media, atau bagian dari skenario lebih besar untuk menyatukan basis NU yang terpecah sambil mengangkat citra habib-habib Yaman yang sedang terpuruk? Sebuah teori konspirasi yang beredar di media sosial mulai menarik perhatian, menghubungkan titik-titik dari konflik kuburan Yaman hingga pertemuan Jokowi dengan Abu Bakar Ba’asyir.

Retakan NU: Dari Dukungan Jokowi 80% ke Polarisasi yang Mengkhawatirkan

NU, dengan 90 juta anggota, pernah menjadi benteng utama Jokowi sejak Pilpres 2014. Survei Indikator Politik Indonesia pada September 2024 mencatat tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi mencapai 75%, didorong oleh basis NU tradisional di Jawa Timur dan Tengah. Namun, pasca-Pilpres 2024, dukungan itu terbelah. PDI-P (Megawati Soekarnoputri) yang mengusung Ganjar Pranowo menarik sebagian besar NU loyalis, sementara Jokowi-Gibran mengandalkan relawan seperti Projo dan basis urban. Survei Poltracking Indonesia (3-10 Oktober 2025) menunjukkan mayoritas masyarakat (56,8%) tidak percaya isu ijazah palsu Jokowi, tapi wacana pemakzulan Gibran justru memanaskan suasana di kalangan NU garis keras.

Estimasi internal: dukungan NU ke Jokowi yang dulu 80% kini merosot ke sekitar 40%, terutama di basis tradisional seperti pesantren di Jatim. “NU terpecah karena dinamika politik dan isu internal seperti nasab habib,” kata pengamat politik Adi Prayitno dari Parameter Politik Indonesia. Polarisasi ini bukan hanya soal suara, tapi juga soal identitas: NU tradisional (anti-radikalisme impor) vs kelompok yang lebih terbuka terhadap pengaruh habib Yaman.

Konflik Kuburan Habib Yaman: Tuduhan Makam “Palsu” yang Memanaskan Internal NU

Pemicu retakan terbaru adalah kontroversi nasab Ba Alawi, klan habib Yaman yang dihormati di NU. Sejak 2024, peneliti Yaman mengungkap bahwa makam-makam tokoh Ba Alawi di Hadramaut dibangun belakangan (abad 9 H/1400-an), bukan abad 5 H seperti klaim awal. Ini memicu tudingan tentang “makan-makan palsu” dari sebagian NU, terutama terhadap Habib Lutfi bin Yahya – ulama Pekalongan yang mundur dari Mustasyar PBNU pada 2022 untuk fokus pada Jaringan Ahlussunnah Wal Jamaah Tarekat Munqodoroh (JATMAN).

Habib Lutfi, guru spiritual bagi banyak tokoh seperti Gus Miftah, menjadi sasaran utama. “Banyak orang NU memusuhi Yaman karena ini,” tulis seorang Nahdiyin, merujuk perdebatan yang meluas ke isu nasionalisme NU vs “impor” ulama asing. Konflik Yaman secara geopolitik (Houthi-Israel) pun ikut bercampur, dengan sebagian NU dukung Palestina via Yaman, tapi yang lain khawatir radikalisme merembet ke Indonesia. Di platform X, tagar #HabibLutfi dan #KabibYaman ramai sejak awal Oktober, dengan post-post yang menyerang kepalsuan nasab Lutfi.

Tayangan Trans7 Mendiskreditkan Lirboyo: Musuh Bersama atau Skenario Terselubung?

Puncak amarah meledak pada 13 Oktober 2025, saat Xpose Uncensored Trans7 menayangkan segmen berjudul “Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?” Narasi itu menggambarkan santri Lirboyo – pesantren NU tertua di Kediri (didirikan 1910) – dengan nada sinis: kiai “menerima amplop sambil ngesot” dan santri “rela terhina demi berkah”. Alumni seperti KH Said Aqil Siradj (eks Ketua PBNU) dan Ning Imaz disebut sebagai jebolan, tapi tayangan justru menodai martabat KH Anwar Manshur, pendiri pesantren.

Reaksi instan: Tagar #BoikotTrans7 trending di X dengan 137 ribu interaksi dalam 24 jam, didukung PBNU (Gus Yahya ancam jalur hukum), MUI, dan KPI yang selidiki. Trans7 minta maaf resmi pada 14 Oktober, mengakui keteledoran dari production house, dan audiensi dengan alumni. Bahkan muncul petisi cabut izin siaran dengan 10 ribu tanda tangan. Dan NU lalu sibuk mengurus ketersinggungan sampai demo di Transmart dan keluar orasi diluar batas “menggorok leher.”

Kenapa Lirboyo dari sekian banyak pesantren? Lirboyo adalah benteng NU tradisional di Jatim, basis anti-habib ekstrem yang vokal soal nasab Yaman. Di beberapa platform, post-post spekulatif menyebut ini fitnah dari luar untuk satukan NU yang terpolarisasi. Dugaan lain: tayangan sengaja tayang pas pengumuman KPK soal kasus Antam (14 Oktober) dan pengembalian aset PT Timah (6 Oktober, rugi Rp300 T), untuk alihkan isu korupsi.

Peran Gus Miftah: Dari Murid Habib Lutfi ke Seruan Boikot Trans7

Gus Miftah (KH Miftah Maulana Habiburrahman), murid tarekat Habib Lutfi sejak lama, justru jadi aktor kunci. Sebagai Utusan Khusus Presiden Prabowo untuk Kerukunan Beragama (dilantik 22 Oktober 2025), Gus Miftah serukan #BoikotTrans7, sebut tayangan itu “mencederai penjaga moral bangsa”. Ini ironis: murid habib Lutfi (yang dituduh “bernasab palsu”) malah bela Lirboyo, basis NU yang anti-habib.

Dalam Teori Konspirasi: bisa bermakna tayangan yang menyasar ke Lirboyo memang sengaja untuk menciptakan “musuh bersama”, biar nama habib Yaman harum lagi dan kembali berkibar. Gus Miftah, pecinta habib, disebut mengorkestrasi via jaringan media. Meski tidak ada bukti undangan spesifik Habib Lutfi ke Ivan Gunawan atau Deddy Corbuzier di medio Oktober 2025, Deddy pernah undang Habib Umar bin Hafidz (19 Oktober 2025) untuk doa Palestina, dan Gus Miftah ajak Deddy sowan Lutfi sejak 2019. Di platform medsos, banyak post menghubungkan ini sebagai “exposure positif” ketika Lirboyo diserang.

Jokowi Himpun Kekuatan “Islam Garis Keras”: Pertemuan Ba’asyir di Rumah Jokowi dan dukungan untuk Gibran.

Di balik retakan NU, Jokowi tampak menghimpun basis alternatif. Pada 29 September 2025, Abu Bakar Ba’asyir (eks pemimpin JI) kunjungi Solo, ketemu Jokowi 20-30 menit. Ba’asyir menasehati agar “kembali ke hukum Islam” dan “jangan takut miskin kalau mengembalikan uang negara”; Jokowi sungkem hormat. Eks BIN sebut pertemuan ini “rekayasa” (karena Ba’asyir harus nunggu 3 jam), tapi Jokowi bilang ini spontan. Ini simbol: Jokowi merekrut massa “Islam keras” (FPI/JI) untuk dukung Gibran di 2029, saat dukungan NU tinggal 40%.

Hubungan dengan habib? Prabowo (eks Menteri Pertahanan) pernah kunjungi Habib Lutfi di Pekalongan (2023), didampingi Gus Miftah. Strategi: bagi-bagi musuh (dan Lirboyo sebagai target) untuk satukan basis non-NU.

Benang Merah atau Kebetulan? Implikasi untuk Politik 2029

Teori ini spekulatif: Trans7 blunder produksi, pertemuan dengan Ba’asyir yang spontan, exposure habib kebetulan. Tapi timelinenya saat kejadian: ada konflik nasab Yaman (Oktober), serangan ke Lirboyo (13/10), doa Deddy-Habib Umar (19/10), dan survei tolak pemakzulan Gibran (20/10). Di berbagai platform, diskusi ramai: “Ini skenario biar kabib laku lagi, NU pecah dimanfaatkan Jokowi.”

Implikasinya apa? Jika dugaan diatas benar, maka ini perang narasi untuk 2029: Jokowi sedang membangun koalisi luas, lalu NU harus rekonsiliasi. PBNU tuntut Trans7 bertanggung jawab moral-hukum, sementara Gus Miftah mendorong moderasi. Yang pasti, pesantren seperti Lirboyo – sebagai penjaga moral bangsa – tidak boleh menjadi korban politik. Di era digital, satu tayangan bisa ubah alur sejarah. Jadi apakah ini akhir dari “musuh bersama”, atau awal badai yang baru? Waktu yang akan mejawabnya.(Malika’s Insight, 20 Oktober 2025)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kesehatan Mental Lansia: Lakukan Gerakan Ringan agar Tubuh Tidak Kaku

Next Post

Purbaya, Anak Macan yang Lawan Prabowo di 2029

fusilat

fusilat

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Era Jokowi: Ketika Angka dan Rasa Sama-Sama Memburuk

Purbaya, Anak Macan yang Lawan Prabowo di 2029

Kesehatan Mental Lansia: Sejukkan Diri, Segarkan Pikiran

Kesehatan Mental Lansia: Sejukkan Diri, Segarkan Pikiran

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...