• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Ali Syarief by Ali Syarief
March 27, 2026
in Cross Cultural, Feature
0
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Share on FacebookShare on Twitter

IIyama – Nagano, Di tengah arus globalisasi pangan, ada satu paradoks yang layak direnungkan: mengapa beras di Jepang bisa jauh lebih mahal dibandingkan beras impor, tetapi petaninya tetap hidup, bahkan terjaga keberadaannya? Sementara di Indonesia, di mana beras relatif lebih murah, justru petani kerap terpinggirkan dan kehilangan daya tahan ekonomi.

Pertanyaan ini bukan sekadar soal harga. Ia menyentuh pilihan mendasar sebuah bangsa: apakah petani diposisikan sebagai beban pasar, atau sebagai fondasi peradaban?


Negara Hadir atau Absen dalam Pasar?

Di Jepang, negara tidak pernah benar-benar “melepaskan” pertanian ke mekanisme pasar bebas. Pemerintah secara sadar memasang tembok proteksi tinggi—tarif impor beras yang ekstrem, kuota ketat, serta subsidi langsung kepada petani. Kebijakan ini bukan tanpa konsekuensi: harga beras menjadi mahal.

Namun di balik itu, terdapat logika yang sederhana sekaligus strategis: pangan adalah kedaulatan. Ketika sebuah negara bergantung pada impor untuk makanan pokoknya, maka ia menyerahkan sebagian kedaulatannya kepada pihak luar.

Sebaliknya, Indonesia cenderung mengambil jalan yang lebih “pasaristik”. Impor dibuka ketika harga naik, dengan dalih menjaga stabilitas dan daya beli masyarakat. Dalam jangka pendek, kebijakan ini tampak rasional. Namun dalam jangka panjang, ia menciptakan efek sistemik: petani lokal harus bersaing dengan produk impor yang lebih murah, sementara mereka sendiri tidak memiliki perlindungan yang memadai.

Di titik inilah perbedaan itu menjadi nyata: Jepang melindungi petaninya dari pasar global, sementara Indonesia justru memasukkan petaninya ke dalam arena kompetisi yang timpang.


Petani: Subjek Strategis atau Objek Kebijakan?

Di Jepang, petani dipandang sebagai penjaga sistem sosial. Mereka bukan sekadar produsen beras, tetapi juga penjaga desa, lanskap, dan tradisi. Bahkan ketika banyak petani berusia lanjut, negara tetap mempertahankan mereka melalui berbagai insentif dan dukungan.

Ada kesadaran kolektif: jika petani hilang, maka desa akan mati. Jika desa mati, maka struktur sosial akan runtuh.

Di Indonesia, narasi ini sering kali terbalik. Petani diposisikan sebagai kelompok yang harus “dibantu” ketika krisis, tetapi jarang ditempatkan sebagai aktor utama dalam pembangunan. Kebijakan sering bersifat reaktif, bukan strategis.

Akibatnya, profesi petani tidak lagi menarik bagi generasi muda. Anak petani tidak ingin menjadi petani. Mereka melihat langsung bagaimana orang tuanya bekerja keras, tetapi tetap hidup dalam ketidakpastian.


Harga Murah: Siapa yang Sebenarnya Membayar?

Salah satu argumen klasik dalam kebijakan pangan adalah menjaga harga tetap murah untuk konsumen. Namun jarang disadari bahwa “murah” itu tidak pernah benar-benar gratis.

Di Indonesia, harga beras yang ditekan sering kali berarti margin petani yang semakin tipis. Dengan kata lain, konsumen membeli beras murah—tetapi petani yang menanggung selisihnya.

Di Jepang, logika ini dibalik. Konsumen membayar lebih mahal, tetapi selisih itu menjadi ruang hidup bagi petani. Ada semacam kontrak sosial yang tidak tertulis: masyarakat bersedia membayar lebih demi menjaga keberlanjutan produksi domestik.

Di sini, harga bukan sekadar angka, melainkan refleksi nilai yang dianut sebuah bangsa.


Pilihan Politik, Bukan Takdir Ekonomi

Perbedaan antara Jepang dan Indonesia bukanlah takdir geografis atau semata persoalan efisiensi. Ia adalah hasil dari pilihan politik.

Jepang memilih untuk:

  • Melindungi petani
  • Mengorbankan efisiensi pasar
  • Menjaga kedaulatan pangan

Indonesia, sejauh ini, lebih sering:

  • Menjaga stabilitas harga jangka pendek
  • Membuka ruang impor
  • Mengandalkan mekanisme pasar

Kedua pilihan ini memiliki konsekuensi masing-masing. Namun yang perlu digarisbawahi adalah: kondisi petani hari ini adalah cerminan dari arah kebijakan yang diambil negara.


Penutup: Siapa yang Ingin Kita Selamatkan?

Pada akhirnya, pertanyaan tentang harga beras membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang ingin kita selamatkan?

Apakah kita ingin menyelamatkan konsumen hari ini dengan harga murah?
Ataukah kita ingin menyelamatkan petani dan memastikan bahwa kita masih memiliki mereka di masa depan?

Jepang telah memilih jalannya—beras mahal, tetapi petani tetap ada.
Indonesia masih berada di persimpangan—antara menjaga harga, atau menjaga mereka yang menanamnya.

Dan mungkin, di situlah letak persoalan sebenarnya: bukan pada berasnya, tetapi pada keberpihakan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

PETANI TANPA BULOG
Economy

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026
Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara
Feature

Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara

March 26, 2026
Feature

MUNGKINKAH PENJAJAHAN DIHAPUSKAN DARI MUKA BUMI?

March 26, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026
Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara

Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara

March 26, 2026

MUNGKINKAH PENJAJAHAN DIHAPUSKAN DARI MUKA BUMI?

March 26, 2026
Harga BBM Mahal, Rakyat Terjepit: Membandingkan Jepang dan Indonesia dari Sudut Daya Beli

Harga BBM Mahal, Rakyat Terjepit: Membandingkan Jepang dan Indonesia dari Sudut Daya Beli

March 26, 2026
Japan Lepas Cadangan Minyak Negara untuk Stabilkan Pasokan Energi

Japan Lepas Cadangan Minyak Negara untuk Stabilkan Pasokan Energi

March 26, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...