Fusilatnews – Pendahuluan: Ketika Perang Bukan Lagi Sekadar Darah, tapi Juga Dolar
Juni 2025 menjadi saksi babak baru dalam sejarah konflik Timur Tengah. Iran dan Israel, dua kekuatan regional dengan dendam historis dan kepentingan geopolitik yang saling bertubrukan, kembali bertarung—bukan hanya dengan senjata, tapi juga dengan biaya yang membuat dunia ternganga. Sementara opini publik terbelah antara solidaritas ideologis dan kekhawatiran eskalasi global, satu hal menjadi terang: perang hari ini adalah peristiwa ekonomi sebesar ia adalah tragedi kemanusiaan.
Rudal dan Realitas: Biaya yang Membakar Langit
Israel, dengan kekuatan udara yang luar biasa, menggempur fasilitas-fasilitas militer Iran. Operasi ini bukan main-main. Dalam sehari, biaya perang mereka ditaksir mencapai US$200–725 juta. Sumber utama pengeluaran itu berasal dari sistem pertahanan seperti Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow 3, yang masing-masing rudalnya bisa mencapai harga antara US$100 ribu hingga US$4 juta.
Tak berhenti di sana, setiap kali jet tempur F-35 atau F-15 dikerahkan, negara mengeluarkan US$10.000 per jam penerbangan. Dan untuk setiap bom pintar yang dijatuhkan—seperti JDAM atau MK84—Israel mengeluarkan US$25.000–100.000. Jika dirata-rata, dalam sebulan perang ini bisa menelan biaya hingga US$12 miliar, atau sekitar Rp 190 triliun.
Sementara itu, Iran menempuh jalur ofensif lewat jalur jarak jauh: rudal balistik, rudal jelajah, dan drone kamikaze. Rudal seperti Zolfaghar dan Khorramshahr bisa menghabiskan US$5–8 juta per unit, sedangkan drone Shahed-136 lebih “murah”—hanya US$20.000–80.000. Namun, dengan peluncuran lebih dari 400 proyektil dalam satu minggu, Iran setidaknya membakar dana sekitar US$100 juta hanya untuk satu gelombang serangan—tanpa menghitung biaya logistik dan cadangan yang terkuras.
Dominasi Udara: Israel Menyerang Lebih Murah, Iran Bertahan Lebih Mahal
Menariknya, meski serangan udara Israel tampak masif, nyatanya lebih murah secara strategis dibanding respons Iran. Menurut laporan Business Insider, dominasi udara Israel memungkinkan mereka meluncurkan operasi presisi tinggi dengan biaya lebih efisien—sementara Iran harus mengeluarkan rudal-rudal mahal dengan probabilitas sukses yang kecil akibat sistem pertahanan berlapis milik Israel.
Iran juga menderita kerugian non-finansial: lebih dari 20% peluncur rudal mereka dihancurkan dan stok rudal dikuras hampir seperempatnya. Artinya, bukan hanya uang yang hilang, tetapi juga daya gentar strategis jangka panjang mereka.
Ketika Dunia Ikut Membayar
Dampak perang tidak berhenti di Iran dan Israel. Harga minyak dunia merespons cepat. Brent dan WTI melonjak ke kisaran US$76–80 per barel, dengan prediksi bisa mencapai US$100–110 jika Selat Hormuz—jalur vital ekspor minyak global—ditutup. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, harus bersiap dengan lonjakan harga BBM, tekanan inflasi, dan pelemahan mata uang.
Investor juga mulai cemas. Meski pasar saham global masih stabil, namun volatilitas meningkat dan sentimen investor terhadap kawasan Timur Tengah merosot tajam. Dunia menyaksikan, tapi semua ikut membayar.
Akhir Kata: Perang Modern Adalah Perang Ekonomi
Dulu, kemenangan perang ditentukan oleh jumlah tentara yang gugur dan wilayah yang direbut. Hari ini, ukurannya adalah berapa miliar dolar yang sanggup dibakar setiap hari. Perang Iran-Israel di Juni 2025 mengajarkan bahwa konflik di era modern bukan hanya soal kekuatan militer, tapi juga soal neraca keuangan, kecepatan produksi rudal, dan efisiensi teknologi.
Ironisnya, di tengah inflasi global, krisis pangan, dan kemiskinan di berbagai belahan dunia, dua negara ini memperlihatkan bagaimana kekuasaan bisa dipertahankan lewat serangan yang membakar langit dan membakar uang—sementara rakyat mereka, dan dunia, harus menanggung apinya.
Catatan Editor: Artikel ini ditulis berdasarkan data terbuka dari media kredibel seperti Wall Street Journal, Times of India, dan Business Insider.
























