Fusilatnews – Dalam satu percakapan kecil di bawah pohon waru, saya pernah mendengar seseorang mengutip sebuah kalimat yang pahit: “Dead fish go with the flow.” Ikan mati itu pasrah, mengikuti arus tanpa arah, tanpa tenaga, tanpa makna. Barangkali memang begitulah nasib ideologi ketika ia ditinggal oleh keberanian untuk hidup, dan yang tersisa hanya tubuh hampa: lambang, jargon, dan mesin partai yang dingin.
Partai Keadilan Sejahtera (PKS), suatu masa dahulu, datang dengan gairah. Mereka menyebut diri sebagai partai dakwah, membawa panji moral dan visi Islam sebagai rahmat bagi semesta. Ada kesungguhan, setidaknya dari luar tampak seperti itu. Bukan hanya ingin berkuasa, tetapi membenahi kehidupan dengan cara yang dianggap suci. Mereka tak ingin jadi seperti partai-partai lain—mereka ingin “berbeda”. Tapi sejarah punya cara sendiri untuk mempermainkan tekad.
Sekarang, di tahun-tahun yang murung ini, kita melihat bagaimana PKS perlahan kehilangan bentuknya. Ideologi yang dahulu keras, kini mengempis. Di tengah panggung politik yang telah direkayasa sedemikian rupa oleh kepentingan oligarki, PKS terlihat tak lebih dari partai yang ikut arus. Tak ada lagi gugat, tak ada lagi garis batas. Mereka bergabung dengan arus besar: koalisi pendukung kekuasaan. Koalisi yang dulu mereka sebut sebagai lawan nilai. Apa yang tersisa dari idealisme “partai dakwah” ketika ia tak sanggup mengatakan “tidak”?
Kita tahu: kekuasaan menggoda. Tapi yang lebih menyedihkan dari kekuasaan adalah ketika sebuah partai yang dibangun di atas prinsip justru luluh lantak di altar kompromi politik. PKS seolah kehilangan keberanian untuk menjadi oposisi. Padahal, menjadi oposisi bukanlah aib, justru seringkali itu jalan terhormat ketika kekuasaan disusupi ketidakadilan.
Goethe pernah menulis, “Bila engkau kehilangan kemampuan untuk berkata tidak, maka engkau telah menyerahkan kebebasanmu.” Dan PKS, dalam kenyataan mutakhir, tampaknya telah kehilangan kata tidak. Mereka masuk ke pusaran koalisi besar bernama KIM Plus, bersama partai-partai yang dahulu mereka kritik. Apakah ini taktik atau tanda menyerah?
Dakwah—dalam makna yang luhur—bukanlah alat, melainkan tujuan. Tapi ketika tujuan itu ditekuk untuk menjadi kendaraan politik praktis, maka dakwah menjelma kosmetik. Ia tetap dipoles di bibir, tapi tak lagi di hati. Apa yang disebut ideologi berubah menjadi kendaraan, bukan arah.
Inilah tragedi partai berbasis nilai di tengah sistem demokrasi yang dikuasai logika transaksional. PKS bukan yang pertama. Banyak partai berbasis agama di dunia mayoritas Muslim yang akhirnya harus memilih antara relevansi dan resistensi. Tapi satu hal yang mestinya mereka ingat: relevansi yang diperoleh dengan menjual prinsip, bukan relevansi, melainkan sekadar eksistensi yang lemah dan kehilangan jiwa.
Kita hidup di zaman ketika kata “oposisi” terdengar seperti sumpah serapah. Zaman ketika keberpihakan dianggap radikal, dan keberanian dianggap sebagai ancaman. Dalam zaman seperti ini, menjadi oposisi adalah tindakan moral. Dan ketika PKS gagal memilih jalur itu, mereka tak hanya kehilangan posisi, tetapi kehilangan wajah mereka sendiri.
Apakah mereka masih partai dakwah, ataukah hanya partai yang kebetulan pernah memakai label itu?
Saya tak tahu. Mungkin sejarah yang akan menjawab. Tapi sementara itu, sungai terus mengalir. Dan ikan-ikan mati terus hanyut, tenang, tanpa melawan.
























