• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Case Study PKS: “Ikan Mati dan Ideologi yang Larut”

Ali Syarief by Ali Syarief
June 27, 2025
in Feature, Politik
0
PKS Jabar akan Jagokan  Dua Nama dalam Ajang Pilkada Jabar
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Dalam satu percakapan kecil di bawah pohon waru, saya pernah mendengar seseorang mengutip sebuah kalimat yang pahit: “Dead fish go with the flow.” Ikan mati itu pasrah, mengikuti arus tanpa arah, tanpa tenaga, tanpa makna. Barangkali memang begitulah nasib ideologi ketika ia ditinggal oleh keberanian untuk hidup, dan yang tersisa hanya tubuh hampa: lambang, jargon, dan mesin partai yang dingin.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS), suatu masa dahulu, datang dengan gairah. Mereka menyebut diri sebagai partai dakwah, membawa panji moral dan visi Islam sebagai rahmat bagi semesta. Ada kesungguhan, setidaknya dari luar tampak seperti itu. Bukan hanya ingin berkuasa, tetapi membenahi kehidupan dengan cara yang dianggap suci. Mereka tak ingin jadi seperti partai-partai lain—mereka ingin “berbeda”. Tapi sejarah punya cara sendiri untuk mempermainkan tekad.

Sekarang, di tahun-tahun yang murung ini, kita melihat bagaimana PKS perlahan kehilangan bentuknya. Ideologi yang dahulu keras, kini mengempis. Di tengah panggung politik yang telah direkayasa sedemikian rupa oleh kepentingan oligarki, PKS terlihat tak lebih dari partai yang ikut arus. Tak ada lagi gugat, tak ada lagi garis batas. Mereka bergabung dengan arus besar: koalisi pendukung kekuasaan. Koalisi yang dulu mereka sebut sebagai lawan nilai. Apa yang tersisa dari idealisme “partai dakwah” ketika ia tak sanggup mengatakan “tidak”?

Kita tahu: kekuasaan menggoda. Tapi yang lebih menyedihkan dari kekuasaan adalah ketika sebuah partai yang dibangun di atas prinsip justru luluh lantak di altar kompromi politik. PKS seolah kehilangan keberanian untuk menjadi oposisi. Padahal, menjadi oposisi bukanlah aib, justru seringkali itu jalan terhormat ketika kekuasaan disusupi ketidakadilan.

Goethe pernah menulis, “Bila engkau kehilangan kemampuan untuk berkata tidak, maka engkau telah menyerahkan kebebasanmu.” Dan PKS, dalam kenyataan mutakhir, tampaknya telah kehilangan kata tidak. Mereka masuk ke pusaran koalisi besar bernama KIM Plus, bersama partai-partai yang dahulu mereka kritik. Apakah ini taktik atau tanda menyerah?

Dakwah—dalam makna yang luhur—bukanlah alat, melainkan tujuan. Tapi ketika tujuan itu ditekuk untuk menjadi kendaraan politik praktis, maka dakwah menjelma kosmetik. Ia tetap dipoles di bibir, tapi tak lagi di hati. Apa yang disebut ideologi berubah menjadi kendaraan, bukan arah.

Inilah tragedi partai berbasis nilai di tengah sistem demokrasi yang dikuasai logika transaksional. PKS bukan yang pertama. Banyak partai berbasis agama di dunia mayoritas Muslim yang akhirnya harus memilih antara relevansi dan resistensi. Tapi satu hal yang mestinya mereka ingat: relevansi yang diperoleh dengan menjual prinsip, bukan relevansi, melainkan sekadar eksistensi yang lemah dan kehilangan jiwa.

Kita hidup di zaman ketika kata “oposisi” terdengar seperti sumpah serapah. Zaman ketika keberpihakan dianggap radikal, dan keberanian dianggap sebagai ancaman. Dalam zaman seperti ini, menjadi oposisi adalah tindakan moral. Dan ketika PKS gagal memilih jalur itu, mereka tak hanya kehilangan posisi, tetapi kehilangan wajah mereka sendiri.

Apakah mereka masih partai dakwah, ataukah hanya partai yang kebetulan pernah memakai label itu?

Saya tak tahu. Mungkin sejarah yang akan menjawab. Tapi sementara itu, sungai terus mengalir. Dan ikan-ikan mati terus hanyut, tenang, tanpa melawan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ketua DPRD Jakarta Khoirudin: Ancaman Terbesar Politisi adalah Kriminalisasi

Next Post

NEGARA BERTUHAN, AGAMA MEMBISU : Ketuhanan Yang Maha Siswa

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
NEGARA BERTUHAN, AGAMA MEMBISU : Ketuhanan Yang Maha Siswa

NEGARA BERTUHAN, AGAMA MEMBISU : Ketuhanan Yang Maha Siswa

RUBEDA “KUTUK” ALAM  ATAS JOKOWI

RUBEDA “KUTUK” ALAM  ATAS JOKOWI

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist