Anies Baswedan sepertinya ingin memperlihatkan adanya jurang intelektual (intelektual gap) antara dirinya dengan Prabowo dan Ganjar karena dukungan dalam riset sain yang dimiliki Anies untuk menjawab pertanyaan dan melontarkan pertanyaan kembali
Meski debat berlangsung monoton, kering, tidak dinamis membuat debat perdana kontestasi Presiden 2024 mendatang berlangsung sangat tidak menarik. Namun bukan salah para kandidat yang terlibat dalam debat perdana ini, tapi murni salah KPU yang mengubah format debat, menjadfikan debat tahun ini berbeda dengan debat pada pilpres 2019 lalu
Meski demikian debat perdana yang berlangsung Selasa (12/11) malam nampaknya secara substansial cukup menarik, Anies Baswedan cukup mendominasi itu karena Anies nampak lebih piawai dalam memaparkan dan membangun narasi terkait konsep dan strategi dalam menyelesaikan sejumlah permasalahan bangsa dengan narasi sangat masuk akal dan terlihat jauh lebih unggul ketimbangi Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo.
Anies memulai debat dengan membawa isu intervensi penguasa dalam penegakan hukum. Dia menggunakan istilah “negara kekuasaan” dan “negara hukum”.
“Saat ini kita di persimpangan jalan, antara apakah tetap menjadi negara hukum di mana kekuasaan dikendalikan oleh hukum atau kita menjadi negara kekuasaan di mana hukum diatur dan dikendalikan oleh penguasa,” kata Anies dalam debat pertama capres Pilpres 2024 di Kantor KPU, Jakarta, Selasa (12/12).
Dia juga berkali-kali berdebat panas dengan Prabowo. Salah satunya saat membahas demokrasi di Indonesia.
Anies menilai ada masalah dalam demokrasi di Indonesia. Pernyataan itu membuat Prabowo berang dan mengungkit dukungannya untuk Anies di Pilkada DKI Jakarta 2017.
Anies juga menyinggung intervensi putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Putusan itu jadi sorotan publik karena berkaitan dengan pencalonan Gibran Rakabuming Raka, cawapres pendamping Prabowo.
“Sesudah Bapak mendengar bahwa ternyata pencalonan persyaratannya bermasalah secara etika, pertanyaan saya, apa perasaan Bapak ketika mendengar bahwa ada pelanggaran etika di situ?” ujarnya.
Dalam debat ini nampak sekali keunggulan Anies pada penalaran yang didukung oleh General knowledge yang lebih unggul dibanding ldua rivalnya membuat jawaban-jawaban anies lebih konsisten dengan lemparan-lemparan yang lebih aktual meski secara kesiapan levelnya sama
Sedangkan rival Anies baik Prabowo maupun Ganjar secara performa nampak sangat tidak optimal seperti Prabowo yang tidak mampu memanfaatkan sesi tanya jawab, terlihat dengan banyaknya sisa waktu yang tak dipakai.
Sementara itu, Ganjar berkali-kali memberi ruang kepada Anies untuk memberikan jawaban-jawaban yang menarik,. Misalnya, saat bertanya pendapat Anies tentang IKN.
Pertanyaan Ganjar oleh Anies justru untuk menegaskan ketidaksetujuannya dengan pemindahan ibu kota negara.dengan argumentasi yang menarikdan lebih rasional
Anies benar-benar sangat berani bahkan nekad karena dianggap menyerang Prabowo secara terang-terangan meskipun Anies dianggap punya utang budi politik ke Prabowo.
Adu argumentasi yang cukup panas antara Anies melawan Prabowo menunjukkan performa Anies Baswedan unggul sekaligus membuat Ganjar Pranowo nampak redup
Ada perbedaan misi yang cukup mendasar antara Anies yang berupaya memperjuangkan perubahan dengan msi Prabowo yang berupaya meneruskan misi Presiden Jokowi
Debat ini rupanya oleh Anies dimanfaatkan untuk membidik segmen pemilih mengayun (swing voter ) yang lebih kritis dan ini bisa dilihat dari gaya Anies bertanya dan menjawab yang selalu didasarkan pada fakta dan data yang cukup up to date
Yang menarik yaitu taktik Anies dalam melemahkan dua lawannya lewat labelisasi. Anies selalu menuding jawaban Ganjar ataupun Prabowo dengan “kurang komprehensif” ataupun “data kurang tepat”.
Anis sepertinya ingin memperlihatkan adanya jurang intelektual (intelektual gap) antara dirinya dengan Prabowo dan Ganjar karena dukungan dalam riset sain yang dimiliki Anies untuk menjawab pertanyaan dan melontarkan pertanyaan kembali


























