Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Siapa berani melawan Donald Trump, selain sekadar menyampaikan keprihatinan mendalam, paling banter kecaman, ketika Presiden Amerika Serikat (AS) itu menyerang Iran?
Ahad (22/6/2025) kemarin, militer AS membombardir Iran, terutama tiga fasilitas nuklir, yakni Fordo, Natanz dan Isfahan. Serangan ini sebagai bentuk dukungan AS atas Israel yang dalam beberapa hari belakangan ini terlibat konflik bersenjata dengan Iran.
Nyaris seluruh pemimpin dunia bungkam. Mereka cuma menyampaikan keprihatinan mendalam. Paling banter kecaman.
Termasuk Indonesia yang memang menganut sistem politik luar negeri bebas aktif, meskipun Alinea I Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 mengamanatkan, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
Palestina sejak dulu hingga kini masih dijajah Israel. Iran pun saat ini sedang “dijajah” Amerika.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pun hanya bisa bergumam lirih.
“Saya sangat prihatin atas penggunaan kekuatan oleh Amerika Serikat terhadap Iran hari ini. Ini adalah eskalasi berbahaya di kawasan yang sudah berada di tepi jurang, dan merupakan ancaman langsung bagi perdamaian dan keamanan internasional,” tulis Guterres di akun Instagram @antonioguterres seperti dikutip sejumlah media, Ahad (22/6/2025).
Bagaimana bisa seorang Sekjen PBB tak berdaya menghadapi kelakuan presiden negara anggotanya?
Bukan kali ini saja Sekjen PBB tak berdaya mengahadapi Amerika. Bahkan Dewan Keamanan PBB pun sama saja. Musababnya satu: Amerika terlalu kuat. Bahkan sumber keungan terbesar PBB yang bermarkas di New York, AS, pun berasal dari negara Paman Sam itu.
Akibatnya, Donald Trump seperti menjelma Dajjal. Dajjal Trump, namanya.
Dalam khasanah Islam, Dajjal digambarkan sebagai sosok manusia yang jahat dan pendusta, yang akan muncul menjelang hari kiamat nanti sebagai cobaan besar bagi umat manusia.
Ia akan mengaku sebagai Nabi Isa AS atau Al Masih (Mesias) dan Tuhan, serta menyebarkan fitnah dan kesesatan.
Dajjal digambarkan memiliki ciri-ciri fisik tertentu dan akan diikuti oleh banyak pengikut yang terpedaya oleh tipu dayanya.
Dajjal Trump pun kini sudah banyak membohongi dunia. Ia menyerang Iran dengan dalih menghancurkan fasilitas nuklirnya. Iran dicurigai AS sedang memproduksi senjata nuklir. Padahal tidak. Kalau Iran punya senjata nuklir, tentu sudah ditembakkan ketika mendapat serangan membabi buta baik dari Israel maupun Amerika.
Pun, ketika dibom tentara AS, tentu senjata nuklir Iran akan menimbulkan radiasi yang tak terperikan. Bahkan diprediksi 60% populasi dunia akan musnah.
Tapi tidak. Ketika Fordo, Natanz dan Isfahan dibom, tak ada radiasi nuklir yang ditimbulkannya. Rakyat Iran pun tenang-tenang saja.
Artinya, Dajjal Trump telah melakukan kebohongan. Ia seperti pendahulunya, George Walker Bush yang menginvasi Irak dan menggulingkan Saddam Husein tahun 2003 dengan dalih Irak punya senjata pemusnah massal. Ternyata tudingan itu hingga kini tak terbukti kebenarannya alias sekadar bualan Amerika saja.
Kini Dajjal Trump pun sedang mencari legitimasi moral atas serangan yang ia lancarkan terhadap Iran. Negara Islam yang kini dipimpin Ali Khamenei ini dituduh AS sedang memproduksi senjata nuklir. Ternyata tak terbukti.
Kini, ditunggu sosok pemimpin dunia yang berani melawan Dajjal Trump, seperti Isa melawan Dajjal sesungguhnya kelak menjelang hari kiamat.
Namun, turunnya Isa dari langit akan didahului dengan kemunculan Imam Mahdi yang akan memimpin dunia ini dengan adil dan bijaksana.
Lalu, siapa sosok Imam Mahdi saat ini yang berani melawan Dajjal Trump sebelum Isa turun?
Apakah Ali Khamenei? Bisa saja. Apakah Presiden Palestina Mahmoud Abbas? Bisa saja.
Ataukah Presiden Rusia Vladimir Putin? Mungkin ia hanya bisa omon-omon saja.
Ataukah Presiden Tiongkok Xi Jinping? Mungkin saja.
Sayangnya, banyak negara-negara Arab yang justru mendukung Israel dan Amerika. Apakah mereka juga perlu diperangi seperti Israel dan Amerika?

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)





















