Salah satu yang menjadi perhatian saya adalah, pertanyaan dari Prof. Dr. Martani Huseini, Guru Besar UI dalam bidang Komunikasi, kepada promovendus Dian Anggraeni, yang dikenal juga “Dian Umar”, pada sidang Doktoral, Fikom Unpad, 8/2/22. “Apa pendapat promovemdus, mengani keputusan Nasdem, mencalonkan Anies Baswedan, dilihat dari konteks public relations?”, tanya Prof Huseini. Karena sebelumnya memang, menurut promovendus, praktek-praktel public relations seringkali banyak dilakukan oleh Parpol-parpol dan para politisi. Hal ini, bahkan telah menjadi atensi khusus, yaitu dari para pelaku Purel di Dunia usaha.
Promovendus, yang mendapat predikat “sangat memuaskan” itu, mengurai perubahan paradigma ke Public relationan dalam judul disertasinya “ Pergerseran Paradigma Public Relations dari Relationship ke Leadership”. Temuan dan Pikiran-pikiran baru itu, mendalami evolusi dari Public Relations sebagai Image building ke fungsi leadership dalam membangun engagement values.
Komitmen Surya Paloh, Ketua Umum Nasdem, bahwa menyatakan akan tetap bersama koalisi Jokowi sampai dengan tahun 2024, tetapi menjadi fenomenal ketika Nasdem mendeklarasikan diawal “Anies Baswedan” sebagai Capres 24 yang disusung oleh Nasdem.
Situasi inilah, barangkali, apa yang ingin diungkap dan dipertajam, bagaimana peran Public Relations, dibalik apa yang ditanyakan Prof Huseini kepada Promovendus.
Promovendus mengurai bahwa Surya Paloh dengan Nasdemnya, telah membangun suatu perdaban nilai baru dalam dunia perpolitikan tanah air, yang tidak dilakukan oleh partai lainnya. Nasdem sesungguhnya tidak cukup suara untuk bisa mengusung Capres 24, bakaitan dengan syarat PT 20%. Tetapi pada gilirannya, Partai Demokrat telah menyatakan dukungan resmi kepada Anies Baswedan sebagai Capres 24, disusul kemudian oleh PKS.
Sempalan-sempalan dari Partai Golkar, PPP dan PAN juga menggema dukungan kepada Anies Baswedan. Bahkan Partai Ummat akan mengundang secra khusus Anies Baswedan pada Rakernas pertamanya.
Beberapa uraian yang menarik adalah, bahwa relasi dan komunikasi yang dahulu dibangun dan menjadi tugas seorang Public Relations Officers (PRO), kini justru dilakukan oleh masing-masing individu melalui berbagai media yang mereka kelola sendiri, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dsb. Bahkan bukan hal yang mustahil keahlian humas dalam membuat press release, dalam waktu dekat sudah bisa dibuat secara digital oleh mesin-mesin Artificial Intelligence.
Secara kelembagaan mulai tidak diperlukan lagi, tetapi fungsi-fungsi PR justru semakin melekat pada tataran leadership papan atas. Tetapi sebaliknya struktur organisasi PR (Humas) masih melembaga di tingkat daerah-daerah yang lebih rendah.
Perubahan dan dinamika social yang sangat cepat ini, terutama berkaitan dengan semakin menglobalnya relasi antar persona, teknologi IT dan artificial Intelligence telah membawa paradigma baru, yang menyebabkan fungsi-fungsi PR sebagai image builder itu, mulai bergeser kepada pengembangan “engagement values”. Seperti yang terjadi diranah human management; dari Human Resources ke Human Capital dan kini ke Human Talents.
Desertasi Dian Anggraeni tersebut, menjadi potret dan lenskap, bagaimana dapat memperjelas berbagai pergeseran nilai, peran dan fungsi-fungsi PR serta tolok ukur sampai sejauh mana peran PR dan kemajuannya di Indonesia, terutama berkaitan dalam mewujudkan goals dan objectives management.
























