Oleh: Malika Dwi Ana
08 Februari 2026
Sejak rilis bombastis 3 juta halaman lebih Epstein files oleh Department of Justice (DOJ) Amerika akhir Januari 2026 (di bawah Epstein Files Transparency Act yang Trump tandatangani dengan enggan), teori ini berkembang lagi seperti jamur di musim hujan. Bayangkan: Sebuah “cabal” rahasia dari birokrat CIA, FBI, dan elite tak kasatmata yang mengendalikan dunia dari bunker gelap, dan Jeffrey Epstein? Bukan sekadar predator seksual, melainkan “perwira penghubung” utama mereka—seorang boneka honeypot yang menjebak elite dengan pesta mewah, gadis di bawah umur, dan dugaan ritual okultisme demi kompromat abadi. Kematiannya di tahun 2019? Bukan bunuh diri, melainkan “disuicided” alias di-take down oleh Deep State demi menutup mulut. Jika Deep State begitu kuat, kenapa mereka biarkan files ini bocor? Atau ini hanya pembusukan dari dalam—elite saling tikam punggung karena bosan mengendalikan dunia?
Secara kritis, keterkaitan Deep State dengan Epstein files adalah masterpiece spekulasi: Files mengungkap nama seperti Trump (ribuan kali), Clinton, Gates, dan Musk, tapi DOJ bilang “no new charges” dan “final release”. Para penganut teori konspirasi bilang ini bukti Deep State lindungi “mereka sendiri” dengan redaksi tinta hitam yang sembunyikan client list asli, sementara korban dibiarkan membocorkan kesalahan. Ironisnya, jika Deep State beneran ada, mereka pasti lebih pintar dari sekadar menunda rilis (Trump lobi Grand Old Party [GOP] untuk delay sampai November 2025) atau membiarkan bipartisan seperti Massie dan Khanna tuntut special master. Files ini justru lebih seperti bukti korupsi yang nyata, apa itu? Yakni jaringan elite Barat yang menggunakan Epstein untuk bisnis/intelijen (seperti link Mossad via Ghislaine Maxwell), tapi bukan “global cabal” yang mengendalikan semuanya. Jika Deep State mengendalikan dunia, kenapa mereka gagal menutup kasus ini sejak 2019? Atau ini “pembusukan dari dalam” sehingga sesama elite sekutu saling ekspos untuk rebuild loyalitas, dimana orang seperti Epstein dijadikan korban, sementara “lord of the ring” (old money seperti Rothschild) tetap aman di bayang-bayang?
Lihat saja pola: File mengekspos “orang kaya baru” Barat (Trump, Musk) tapi absen pemimpin seperti Putin, Xi, atau Kim Jong-un—konspirasionis bilang ini bukti “pertarungan internal sekutu”, bukan pertarungan global. Secara kritis ini overreach. Epstein’s network terpusat di Barat (NY, London, Paris), bukan Beijing atau Pyongyang—absennya blok Timur lebih karena keterbatasan akses, bukan “aman karena bukan sekutu”. Apakah ini pembusukan dari dalam? Mungkin iya, kalau lihat tuntutan bipartisan untuk rilis penuh (Demokrat serang Trump, GOP seperti Greene mundur karena kritik internal)—tapi, kalau ini “rebuild soliditas”, kenapa hasilnya justru distrust publik naik, dan Trump malah untung dengan narasi “witch hunt”? Ok bukan pembusukan, tapi distraksi klasik: bahwa elite saling tuding sambil lindungi sistem.
Pada akhirnya, teori Deep State di Epstein files seperti obat bius untuk distrust: Enak dihirup, tapi bikin paranoia tanpa solusi. Bukan membuktikan cabal global, tapi korupsi elite yang nyata dan butuh ditransparansikan sungguhan, bukan konspirasi. Atau jika Deep State beneran ada, mereka pasti sudah menghapus tulisan ini. Atau ini bagian dari “pembusukan dari dalam” mereka sendiri? 😏

Oleh: Malika Dwi Ana






















