FusilatNews – Pada suatu siang musim semi di Kota Suzhou, China bagian timur, Lin Wei (59 tahun) duduk termenung di kursi rotan di beranda rumahnya. Di tangannya tergenggam cangkir teh yang tak lagi hangat. Sudah hampir satu jam ia menatap kosong ke halaman depan tanpa sepatah kata. Sang istri, Meilan, hanya bisa menghela napas. “Dia lupa bagaimana caranya membuka pintu kamar mandi,” ujarnya lirih kepada wartawan South China Morning Post, sembari menahan air mata. “Padahal, dia baru pensiun dua tahun lalu.”
Kisah Lin Wei hanyalah sepotong kecil dari realitas besar yang kini menyelimuti Negeri Tirai Bambu. Data dari Pusat Penelitian Alzheimer China menunjukkan bahwa sekitar 15 juta penduduk negara itu menderita demensia, dengan lebih dari separuhnya mulai menunjukkan gejala sebelum usia 65 tahun. Fenomena ini membuat para ilmuwan geleng kepala: mengapa China menjadi episentrum baru “pikun dini” di dunia?
Penelitian dari The Lancet Public Health mengaitkan tingginya kasus demensia di China dengan gaya hidup urban yang penuh tekanan, jam kerja panjang, diet tinggi lemak, kurangnya aktivitas fisik, serta paparan polusi udara tingkat tinggi. Kombinasi faktor ini disebut mempercepat degenerasi saraf otak, terutama di kalangan penduduk usia produktif.
Efek Domino ke Seluruh Dunia
Di tengah kecemasan global atas stabilitas ekonomi pasca-pandemi, ledakan demensia dini di China menjadi bom waktu. Negara ini memegang posisi kunci dalam rantai pasokan dunia—dari elektronik, tekstil, hingga bahan baku obat. Ketika jutaan pekerja potensial terganggu kapasitas kognitifnya, risiko gangguan ekonomi bukan sekadar wacana.
“Dampaknya bisa sistemik,” kata Profesor Hiroshi Tanaka, ahli ekonomi kesehatan dari Universitas Kyoto. “Penurunan produktivitas kerja, meningkatnya biaya kesehatan, dan ketimpangan sosial akan menular ke negara-negara mitra dagang, termasuk Indonesia.”
Bank Dunia mencatat bahwa China menyumbang sekitar 18 persen dari total PDB dunia. Jika motor ekonomi ini tersendat oleh beban kesehatan yang makin berat, negara-negara berkembang yang menggantungkan investasi dan ekspor ke China bisa terdorong ke jurang resesi ringan.
Indonesia: Jalan Menuju Krisis yang Sama?
Indonesia belum mencatat lonjakan demensia dini sebesar China. Namun, tanda-tanda ke arah itu mulai tampak. Riset dari Universitas Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 1,2 juta lansia Indonesia mengalami gejala awal demensia, dan jumlah itu berpotensi melonjak menjadi 4 juta orang pada 2050.
Lebih mengkhawatirkan lagi, tren gangguan kognitif kini mulai merambah usia 40-an. Dosen Fakultas Kedokteran UGM, dr. Retno Pratiwi, menyebutkan bahwa gaya hidup sedentari, stres berkepanjangan, dan konsumsi makanan ultra-proses telah mempercepat kerusakan fungsi otak. “Saya pernah menangani pasien usia 47 tahun, mantan manajer perbankan, yang kehilangan orientasi waktu dan lupa arah jalan pulang dari kantor,” katanya.
Kasus lain menimpa Arman (nama samaran), 52 tahun, mantan pengusaha dari Surabaya. Ia kerap lupa nama anaknya sendiri, meski masih mampu menyetir mobil dan melakukan transaksi jual beli. “Kata dokter, saya kena demensia ringan. Tapi saya masih kuat olahraga,” ujarnya dengan nada datar, seperti tak yakin dengan kondisi dirinya sendiri.
Negara Masih Lengah
Kementerian Kesehatan belum menjadikan demensia dini sebagai prioritas nasional. Program Posyandu Lansia masih terfokus pada hipertensi dan diabetes. Padahal, data dari WHO menunjukkan bahwa demensia adalah penyebab utama keempat kematian di dunia, dan berpotensi menjadi yang pertama dalam dua dekade mendatang.
Berbeda dengan Jepang atau Korea Selatan yang sudah memiliki roadmap nasional untuk menghadapi penuaan populasi, Indonesia tampak belum memiliki arah yang jelas. Padahal, ledakan jumlah lansia akan tiba lebih cepat dari perkiraan. Pada 2035, Bappenas memperkirakan bahwa 20 persen penduduk Indonesia adalah lansia.
Mengambil Pelajaran dari China
Pelajaran dari China seharusnya menjadi alarm peringatan. Negara dengan kemajuan teknologi dan sistem informasi terbaik pun kelabakan menghadapi serbuan demensia dini. Mereka harus menggelontorkan miliaran yuan untuk membangun panti jompo pintar, robot perawat lansia, dan aplikasi pendeteksi dini gejala pikun.
Bagi Indonesia, saat ini mungkin masih ada waktu untuk bersiap. Kampanye kesehatan otak, pembenahan sistem jaminan sosial, serta insentif untuk gaya hidup sehat bisa menjadi langkah awal. Sebab jika tidak, sebagaimana kata pepatah lama, “ketika Cina bersin, dunia bisa ikut flu”—dan Indonesia tak akan kebal dari dampaknya.
























