Ketika perang meletus antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran, yang pertama kali jatuh bukanlah para jenderal, bukan pula para pengambil keputusan politik. Yang pertama tumbang justru mereka yang tidak pernah ikut rapat perang: rakyat sipil.
Anak-anak di sekolah, ibu yang sedang memasak, pedagang kecil di pasar, orang tua yang duduk di beranda rumahnya—mereka semua tidak tahu apa-apa tentang strategi militer, ambisi geopolitik, atau permainan kekuasaan antarnegara. Tetapi justru merekalah yang menjadi korban paling awal dan paling banyak.
Laporan berbagai organisasi kemanusiaan menunjukkan bahwa dalam konflik terbaru di kawasan tersebut, lebih dari seribu warga sipil telah tewas hanya dalam hitungan hari, termasuk ratusan anak-anak. Serangan udara bahkan menghantam sebuah sekolah perempuan di Iran dan menewaskan puluhan hingga ratusan murid yang sedang belajar. (TIME)
Di sisi lain, serangan balasan juga menimbulkan korban sipil di negara-negara lain di kawasan itu. Perang selalu memiliki pola yang sama: peluru dan bom tidak pernah benar-benar mengenal siapa yang bersalah dan siapa yang tidak. (The Ceasefire Centre for Civilian Rights)
Di titik inilah nurani kemanusiaan seharusnya berbicara.
Mendukung sebuah rezim yang memicu perang, atau membenarkan pemboman hanya karena dilakukan oleh pihak yang kita sukai, pada hakikatnya adalah bentuk kehilangan empati. Ia adalah cara halus untuk mengatakan bahwa kematian warga sipil bisa ditoleransi selama korban itu berasal dari pihak yang tidak kita bela.
Padahal dalam hukum kemanusiaan internasional, warga sipil harus dilindungi dari operasi militer. Serangan yang tidak membedakan antara target militer dan penduduk sipil dikategorikan sebagai serangan tanpa pandang bulu dan dilarang dalam hukum perang. (Wikipedia)
Namun dalam praktiknya, perang sering kali justru memperlihatkan betapa murahnya nyawa manusia ketika negara dan kekuasaan menjadi taruhan.
Ironisnya, publik dunia sering terjebak pada keberpihakan emosional. Ada yang membela Israel apa pun yang terjadi. Ada pula yang membela Iran tanpa kritik. Dalam hiruk-pikuk propaganda itu, yang hilang adalah suara korban—mereka yang tidak punya negara untuk dibela, tidak punya senjata untuk membalas.
Padahal kemanusiaan tidak seharusnya memilih korban.
Jika bom Israel menewaskan anak-anak Iran, itu adalah tragedi kemanusiaan.
Jika serangan balasan Iran membunuh warga sipil Israel atau negara lain, itu juga tragedi kemanusiaan.
Tidak ada darah yang lebih halal dari darah yang lain.
Karena itu pertanyaan yang paling penting bukanlah: kamu berada di pihak mana?
Tetapi: apakah kamu masih memiliki rasa kemanusiaan?
Jika seseorang hanya marah ketika korban berasal dari kelompoknya, tetapi diam ketika korban berasal dari pihak lain, maka yang berbicara bukanlah nurani—melainkan fanatisme.
Dan fanatisme adalah bahan bakar paling subur bagi perang yang tidak pernah selesai.
Pada akhirnya, sejarah selalu mencatat satu hal yang sama: perang mungkin dimulai oleh para pemimpin, tetapi kuburan selalu dipenuhi oleh rakyat biasa.
Maka sebelum kita membela sebuah rezim, sebuah negara, atau sebuah ideologi, ada satu pertanyaan sederhana yang harus dijawab terlebih dahulu:
Di manakah rasa kemanusiaan kita?
























