• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Di Manakah Rasa Kemanusiaanmu?

Ali Syarief by Ali Syarief
March 8, 2026
in Feature, Perang
0
Di Manakah Rasa Kemanusiaanmu?
Share on FacebookShare on Twitter

Ketika perang meletus antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran, yang pertama kali jatuh bukanlah para jenderal, bukan pula para pengambil keputusan politik. Yang pertama tumbang justru mereka yang tidak pernah ikut rapat perang: rakyat sipil.

Anak-anak di sekolah, ibu yang sedang memasak, pedagang kecil di pasar, orang tua yang duduk di beranda rumahnya—mereka semua tidak tahu apa-apa tentang strategi militer, ambisi geopolitik, atau permainan kekuasaan antarnegara. Tetapi justru merekalah yang menjadi korban paling awal dan paling banyak.

Laporan berbagai organisasi kemanusiaan menunjukkan bahwa dalam konflik terbaru di kawasan tersebut, lebih dari seribu warga sipil telah tewas hanya dalam hitungan hari, termasuk ratusan anak-anak. Serangan udara bahkan menghantam sebuah sekolah perempuan di Iran dan menewaskan puluhan hingga ratusan murid yang sedang belajar. (TIME)

Di sisi lain, serangan balasan juga menimbulkan korban sipil di negara-negara lain di kawasan itu. Perang selalu memiliki pola yang sama: peluru dan bom tidak pernah benar-benar mengenal siapa yang bersalah dan siapa yang tidak. (The Ceasefire Centre for Civilian Rights)

Di titik inilah nurani kemanusiaan seharusnya berbicara.

Mendukung sebuah rezim yang memicu perang, atau membenarkan pemboman hanya karena dilakukan oleh pihak yang kita sukai, pada hakikatnya adalah bentuk kehilangan empati. Ia adalah cara halus untuk mengatakan bahwa kematian warga sipil bisa ditoleransi selama korban itu berasal dari pihak yang tidak kita bela.

Padahal dalam hukum kemanusiaan internasional, warga sipil harus dilindungi dari operasi militer. Serangan yang tidak membedakan antara target militer dan penduduk sipil dikategorikan sebagai serangan tanpa pandang bulu dan dilarang dalam hukum perang. (Wikipedia)

Namun dalam praktiknya, perang sering kali justru memperlihatkan betapa murahnya nyawa manusia ketika negara dan kekuasaan menjadi taruhan.

Ironisnya, publik dunia sering terjebak pada keberpihakan emosional. Ada yang membela Israel apa pun yang terjadi. Ada pula yang membela Iran tanpa kritik. Dalam hiruk-pikuk propaganda itu, yang hilang adalah suara korban—mereka yang tidak punya negara untuk dibela, tidak punya senjata untuk membalas.

Padahal kemanusiaan tidak seharusnya memilih korban.

Jika bom Israel menewaskan anak-anak Iran, itu adalah tragedi kemanusiaan.
Jika serangan balasan Iran membunuh warga sipil Israel atau negara lain, itu juga tragedi kemanusiaan.

Tidak ada darah yang lebih halal dari darah yang lain.

Karena itu pertanyaan yang paling penting bukanlah: kamu berada di pihak mana?
Tetapi: apakah kamu masih memiliki rasa kemanusiaan?

Jika seseorang hanya marah ketika korban berasal dari kelompoknya, tetapi diam ketika korban berasal dari pihak lain, maka yang berbicara bukanlah nurani—melainkan fanatisme.

Dan fanatisme adalah bahan bakar paling subur bagi perang yang tidak pernah selesai.

Pada akhirnya, sejarah selalu mencatat satu hal yang sama: perang mungkin dimulai oleh para pemimpin, tetapi kuburan selalu dipenuhi oleh rakyat biasa.

Maka sebelum kita membela sebuah rezim, sebuah negara, atau sebuah ideologi, ada satu pertanyaan sederhana yang harus dijawab terlebih dahulu:

Di manakah rasa kemanusiaan kita?

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ketika “Dewan Perdamaian” Lankahnya Perang

Next Post

Ketika Bangunan Cagar Budaya di Menteng “Dirusak”, Siapa Tanggung Jawab?

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Ketika Bangunan Cagar Budaya di Menteng “Dirusak”, Siapa Tanggung Jawab?

Ketika Bangunan Cagar Budaya di Menteng "Dirusak", Siapa Tanggung Jawab?

Jokowi Puji Prabowo  Karena Meningktanya Elektabilitas  Gerindra dan Dirinya

Teriak “Hidup Jokowi”, Lupa Menangkap Silferster

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...