Makassar-FusilatNews – Di tengah pesatnya pembangunan dan geliat kebudayaan di Kota Makassar, kelompok difabel masih menghadapi keterbatasan dalam mengakses ruang seni dan budaya. Minimnya akses, stigma sosial, hingga kurangnya fasilitas menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.
Daeng Malik, seorang difabel netra yang menjadi penulis sekaligus sutradara dalam produksi teater Makassar Lintas Indra, menilai seni sebagai medium untuk menyuarakan pengalaman dan perlawanan terhadap diskriminasi.
“Suara itu bukan hanya soal audio, tetapi bagaimana kita menyuarakan keresahan, kritik, dan pengalaman diskriminasi,” ujar Malik, 3 April 2026.
Tema tersebut, menurut Malik, berangkat dari pengalaman personalnya, termasuk kehilangan sang ibu serta ingatan terhadap suara-suara medis dan sirene ambulans yang membekas. Ia kemudian mengolah pengalaman tersebut menjadi karya sebagai bentuk penyembuhan sekaligus kritik sosial.
Dalam proses produksinya, Malik membuka casting bagi difabel—sebuah langkah yang jarang dilakukan di Makassar. Ia menyebut produksi ini sebagai upaya serius dengan melibatkan tim profesional, mulai dari penata panggung hingga dramaturgi.
Namun, tantangan tetap ada. Sebagai sutradara netra yang mengarahkan aktor dengan beragam disabilitas, termasuk tuli, Malik mengakui prosesnya tidak mudah.
“Cukup tricky,” katanya.
Meski demikian, ia melihat teater sebagai ruang untuk menjembatani sekat antarkelompok difabel yang selama ini masih terjadi.
Sementara itu, Muh. Ilham, mahasiswa difabel netra di Universitas Hasanuddin, mengaku kesempatan berkesenian bagi difabel masih sangat terbatas. Ia menyambut antusias kesempatan mengikuti casting tersebut.
“Senang sekali… akhirnya setelah sekian lama, baru lagi rasa pengalaman main drama,” ujarnya, 5 April 2026.
Ilham menilai dunia seni masih cenderung berorientasi pada visual, sehingga difabel netra kerap dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan pertunjukan. Stigma tersebut, menurutnya, menjadi penghambat utama berkembangnya potensi difabel.
“Masih kurang sekali kesempatan untuk teman-teman netra untuk akses kesenian,” tegasnya.
Ia meyakini bahwa banyak difabel memiliki potensi di berbagai bidang seni, seperti musik dan seni suara, namun tidak memiliki wadah yang memadai untuk berkembang.
Di sisi lain, Regina Widyadhana Hasibuan atau Nadine menyoroti persoalan akses informasi dan fasilitas fisik. Menurutnya, banyak kegiatan seni tidak sampai ke komunitas difabel karena kurangnya distribusi informasi.
“Informasinya belum menyebar ke komunitas-komunitas disabilitas dan juga ke SLB-SLB,” ujarnya, 6 April 2026.
Sebagai pengguna kursi roda, ia juga menekankan pentingnya infrastruktur yang ramah difabel. Ramp yang terlalu curam, misalnya, justru menjadi hambatan baru bagi mobilitas.
“Sudah ada, tapi terlalu terjal… saya tidak bisa sendiri,” katanya.
Dari berbagai perspektif tersebut, persoalan utama yang dihadapi difabel dalam berkesenian bukan terletak pada kemampuan, melainkan pada keterbatasan akses—baik akses ruang, informasi, maupun fasilitas.
Meski demikian, upaya seperti produksi teater Makassar Lintas Indra menunjukkan bahwa ruang inklusi masih dapat dibangun. Melalui seni, difabel di Makassar perlahan menegaskan keberadaan mereka sebagai bagian utuh dari kehidupan budaya, bukan sekadar penonton.


























