FusilatNews – Siapa bilang anak muda tak bisa dipercaya menangani urusan luar negeri? Di tengah kekosongan posisi Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, bukankah sudah saatnya kita serahkan tugas penting itu kepada Wakil Presiden kita yang visioner—Gibran Rakabuming Raka? Tentu, siapa lagi yang lebih cocok untuk bernegosiasi dengan Presiden Donald Trump yang galak soal tarif, kalau bukan sosok yang lahir dari keluarga penuh talenta politik dan koneksi superpower?
Apalagi, pasar global sedang berdarah-darah. Saham-saham rontok, kekayaan para miliarder ludes seketika seperti uang arisan dibawa kabur bendahara. Elon Musk—CEO Tesla, juru bicara DOGE tidak resmi, dan yang katanya “bestie-nya” Trump—saja kehilangan 11 miliar dollar AS (sekitar Rp 190 triliun). Kalau tangan kanan Trump saja bisa babak belur karena kebijakan ini, bagaimana nasib ekspor Indonesia ke AS? Jangan-jangan, bukan cuma kekayaan para miliarder yang terpangkas, tapi juga kiriman udang, furnitur Jepara, dan keripik tempe dari Jawa Tengah.
Kita tak bisa tinggal diam. Karena jelas, kondisi ini terlalu rumit untuk dihadapi oleh diplomat senior yang terlalu paham etika diplomasi. Yang kita butuhkan adalah gaya fresh—anak muda yang paham TikTok, jago reply sindiran dengan “santuy”, dan bisa menjawab kritik dengan satu kata pamungkas: “Yo wis.”
Lagipula, Gibran punya latar belakang yang unik—berpengalaman memimpin Solo, kota yang relatif tenang, dan naik langsung ke kursi RI-2 tanpa transit. Jenjang karier yang inspiratif ini tentu memberikan bekal luar biasa untuk menghadapi raksasa ekonomi dunia. Diplomasi dagang? Gampang. Tinggal DM Trump, ajak makan tengkleng, dan bahas tarif sambil ngonten bareng. Mungkin, kita bisa ganti USTR (United States Trade Representative) dengan United Sambel Teri Ricebowl—kan lebih merakyat.
Kalau diplomasi gagal? Tenang. Kita bisa hibur Trump dengan mengundangnya ke IKN. Tunjukkan padanya Ibu Kota masa depan yang bisa jadi destinasi investasi. Siapa tahu Trump tertarik bangun Trump Tower di tengah hutan. Hitung-hitung ganti kerugian akibat tarif yang bikin miliarder-miliarder pada histeris itu.
Dengan Gibran di garis depan diplomasi Indonesia, kita bukan hanya berharap ekspor tidak hancur, tapi juga semoga pasar saham bisa tersenyum lagi. Atau setidaknya, kita bisa bilang pada dunia: Indonesia tidak kekurangan solusi kreatif. Ketika diplomasi konvensional gagal, selalu ada Plan B bernama putra presiden.
Salam hormat untuk para eksportir—semoga dagangan Anda tak ikut rontok seperti saham Meta dan Amazon. Dan untuk Gibran, siapkan jas abu-abu terbaikmu. Dunia menantimu.
























