• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

ESKATOLOGI DI BALIK MESIU

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
March 8, 2026
in Feature, Perang
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Ada saat-saat ketika politik berhenti menjadi hitung-hitungan kepentingan, lalu berubah menjadi semacam liturgi. Di sana, peta tak lagi sekadar garis. Tanah tak lagi sekadar ruang hidup. Perang tak lagi dibicarakan sebagai kegagalan akal sehat, melainkan sebagai babak yang harus dilalui sejarah agar sebuah nubuat menjadi genap.

Di situlah kita sekarang berdiri, memandang Amerika Serikat, Israel, Iran, dan Timur Tengah yang tak habis-habisnya menjadi panggung ledakan. Orang akan berkata: ini soal hegemoni, minyak, jalur perdagangan, persaingan regional, industri senjata, atau sisa-sisa Perang Dingin yang tak pernah benar-benar usai. Semua itu mungkin benar. Tapi setelah hampir 80 tahun konflik, tidak ada yang benar-benar bisa menjelaskan mengapa Amerika Serikat mau mengorbankan 4.500 tentara tewas dan 32.000 terluka di kawasan yang penuh sejarah itu. Dalam Perang Iran sekarang ini tidak ada bom nuklir Iran, tidak ada rudal yang bisa menjangkau tanah Amerika Serikat, toh negara adikuasa itu memicu perang dengan menjatuhkan bom yang membunuh Ayatullah Ali Khameini, pemimpin tertinggi Iran.

Maka, seperti dinyatakan pada paragraf awal, penjelasan ditemukan dari sebuah lapisan lain yang lebih muram, lebih purba, dan justru karena itu lebih sulit dibantah dengan bahasa diplomasi: sebuah keyakinan bahwa kiamat bukan sesuatu yang ditunggu dengan gentar, melainkan sesuatu yang dapat dibantu kedatangannya.

Di Amerika, keyakinan itu punya nama: Zionisme Kristen.

Ia bukan sekadar simpati religius kepada bangsa Yahudi. Ia bukan pula sekadar dukungan politis kepada negara Israel. Ia adalah keyakinan bahwa sejarah telah diberi skenario, bahwa nubuatan telah diberi peta, dan bahwa manusia—ya, manusia yang penuh ambisi itu—boleh ikut membantu mempercepat penutupannya. Israel, dalam pandangan ini, bukan sekadar negara. Ia adalah tanda. Ia adalah jam. Ia adalah panggung yang harus disiapkan agar pada suatu hari langit terbuka, trompet berbunyi, dan sejarah berhenti.

Kita mengenal jenis keyakinan seperti ini dalam banyak bentuk. Tapi dalam tradisi politik modern, ia menjadi mengerikan ketika bertemu negara, bertemu senjata, bertemu presiden yang boleh memerintahkan perang, bertemu menteri pertahanan yang tidak sekadar berpikir tentang garis depan dan logistik, tapi juga tentang nubuat, bait suci, dan tanah yang dijanjikan.

Apa yang membuat keyakinan seperti ini berbahaya bukan pertama-tama soal salah atau benarnya dalam pengertian teologi. Yang membuatnya berbahaya adalah saat ia pindah dari ruang doa ke ruang keputusan, dari mimbar ke kabinet, dari tafsir Alkitab ke strategi militer. Pada saat itu, perang tak lagi dinilai dari jumlah mayat, dari anak-anak yang tertimbun beton, dari kota-kota yang menjadi arang. Ia dinilai dari kedekatannya dengan “rencana Tuhan”.

Dan jika perang telah masuk ke wilayah itu, apa lagi yang bisa menahannya?

Kita hidup di zaman yang mengaku rasional. Negara-negara memakai istilah “stabilitas”, “deterrence”, “keamanan kolektif”, “hak membela diri”, “ancaman eksistensial”. Bahasa modern selalu pandai menyembunyikan gairah purbanya. Ia memakai setelan jas. Ia berbicara di podium. Ia menyusun dokumen kebijakan. Tetapi adakalanya, di bawah semua itu, berdenyut hasrat tua manusia: menyaksikan akhir, atau bahkan menjadi pelayannya.

Saya kira di sinilah Zionisme Kristen bekerja dengan diam-diam tapi dalam. Ia memberi makna teologis kepada tindakan politik. Ia membuat dukungan kepada Israel tidak lagi sekadar soal sekutu strategis, melainkan soal kewajiban iman. Ia mengubah peta menjadi kitab. Ia mengubah konflik menjadi nubuat yang sedang dibuktikan.

Maka, perdamaian pun menjadi ganjil. Damai tidak selalu dirindukan. Negosiasi bahkan tampak seperti gangguan. Kompromi terasa seperti penundaan atas takdir. Sebab bagi cara pandang seperti ini, sejarah tidak dimaksudkan untuk diperbaiki, melainkan untuk diselesaikan. Dan penyelesaian itu bukanlah koeksistensi, melainkan klimaks.

Betapa mengerikan kata itu: klimaks.

Karena di dalamnya perang tidak lagi hadir sebagai dosa kolektif, tetapi sebagai tanda. Setiap ledakan bisa dibaca sebagai isyarat. Setiap perluasan konflik bisa dirayakan sebagai konfirmasi. Setiap kehancuran dapat dijadikan batu loncatan bagi keyakinan yang lebih besar. Manusia mati, kota runtuh, keluarga tercerai-berai—tetapi semua itu dapat diredam dalam satu kalimat dingin: sejarah memang sedang menuju akhirnya.

Padahal sejarah, kita tahu, tak pernah bergerak dengan agung seperti itu bagi mereka yang tubuhnya terbakar. Sejarah tak pernah puitis bagi anak yang kehilangan ibunya. Nubuat tak pernah menghiburkan bagi orang yang rumahnya jadi debu.

Di sinilah mungkin beda yang paling telanjang antara eskatologi yang dijadikan alat politik dan iman yang menahan diri di hadapan misteri. Dalam Islam, kiamat adalah rahasia Allah. Ia datang tanpa mandat manusia untuk mempercepatnya. Ia bukan proyek. Ia bukan agenda kekuasaan. Ia bukan sesuatu yang boleh dipancing dengan pembantaian. Yang diperintahkan kepada manusia justru sebaliknya: jangan membuat kerusakan di muka bumi. Jangan melampaui batas. Jangan menukar kuasa dengan kezaliman.

Maka ada jurang yang lebar antara menanti akhir dengan takut dan rendah hati, dan menata dunia seolah-olah kita tahu cara memanggilnya.

Saya kira, yang kedua itulah bentuk baru dari kesombongan modern. Ia tampak saleh, tapi sesungguhnya sombong. Ia bicara tentang Tuhan, tapi diam-diam ingin mengambil alih peran-Nya. Ia berkata bahwa sejarah ada dalam genggaman ilahi, namun pada saat yang sama bertindak seolah-olah manusia bisa menata syarat-syarat bagi campur tangan langit. Di situ iman berubah menjadi arogansi.

Dan arogansi itu menjadi fatal ketika ia memiliki senjata nuklir.

Kita tidak boleh menganggap ini sekadar metafora. Dalam sistem Amerika Serikat, keputusan penggunaan senjata nuklir pada akhirnya amat terkonsentrasi pada presiden. Di sinilah kegilaan modern bersembunyi di balik konstitusi dan rantai komando: peradaban manusia yang berusia ribuan tahun bisa berada di tepi kemusnahan karena satu keputusan, satu doktrin, satu ketakutan, satu keyakinan yang merasa dirinya suci.

Lalu kita bertanya: apakah para pembuat keputusan itu sungguh memikirkan dunia sebagai rumah bersama? Ataukah sebagian dari mereka justru melihat dunia sebagai panggung sementara yang boleh rusak, sebab yang penting keselamatan telah dijanjikan di tempat lain?

Jika seseorang percaya bahwa orang-orang beriman akan “diangkat”, diselamatkan dari malapetaka akhir, maka bumi dapat dengan mudah direduksi menjadi ruang transit. Dalam cara pandang seperti ini, kerusakan dunia tidak lagi memunculkan tanggung jawab mutlak. Ia dapat diterima sebagai fase, sebagai ongkos, sebagai langkah yang harus dilalui. Mengerikan, bukan? Tapi ideologi yang merindukan akhir zaman memang hanya bisa bekerja dengan satu cara: mengurangi nilai dunia yang sedang kita diami.

Dan ketika dunia telah dikurangi nilainya, manusia pun ikut susut nilainya.

Mereka menjadi angka. Mereka menjadi “collateral damage”. Mereka menjadi statistik yang dibacakan presenter berita dengan nada datar. Kita melihat reruntuhan rumah sakit, sekolah, masjid, gereja, jalan-jalan yang penuh puing, tubuh anak-anak yang bahkan belum sempat belajar kebencian, tetapi semua itu lalu ditutup dengan frase resmi: hak mempertahankan diri, operasi terbatas, sasaran strategis, stabilitas kawasan.

Bahasa memang pandai berbohong. Ia bisa memandikan darah dengan istilah teknis.
Tetapi ada saat ketika bahasa politik tak lagi cukup menjelaskan mengapa kekerasan dipertahankan begitu lama, dibela begitu gigih, dan dibungkus begitu suci. Saat itulah kita perlu menoleh ke ruang yang lebih dalam: ruang keyakinan. Ruang tempat perang bukan lagi sekadar instrumen, tapi panggilan. Ruang tempat kehancuran bukan lagi kegagalan, tapi tanda.

Bisa jadi, tentu saja, Zionisme Kristen bukan satu-satunya sebab. Dunia terlalu rumit untuk ditundukkan oleh satu kata. Ada lobi, ada modal, ada industri persenjataan, ada imperialisme, ada kecemasan strategis Amerika terhadap Iran, ada politik domestik Partai Republik, ada kebutuhan mempertahankan citra sebagai pelindung Israel. Tapi kita juga tahu, kepentingan-kepentingan seperti itu selalu membutuhkan jubah moral. Dan Zionisme Kristen menyediakan jubah itu.

Ia memberi legitimasi bukan hanya kepada dukungan, tetapi kepada dukungan tanpa syarat. Ia memberi aura sakral bukan hanya kepada aliansi, tetapi kepada kebutaan. Ia membuat kritik terhadap Israel mudah dicurigai bukan sebagai perbedaan politik, melainkan sebagai perlawanan terhadap rencana ilahi.

Maka yang lahir bukan sekadar kebijakan luar negeri yang keras, tetapi kebijakan luar negeri yang merasa tak perlu bertobat.

Barangkali itu inti masalahnya. Politik modern biasanya masih bisa dikoreksi karena ia mengaku bersifat duniawi. Ia bisa dipaksa menimbang untung-rugi, dipermalukan oleh statistik korban, dibatasi oleh parlemen, ditegur oleh opini publik. Tapi politik yang telah menyatu dengan eskatologi merasa dirinya bekerja dalam dimensi yang lebih tinggi. Ia tidak mudah malu. Ia tidak gampang berhenti. Sebab baginya, keberatan manusia dapat selalu diperkecil: kalian hanya melihat hari ini, kami melihat ujung sejarah.

Setiap kekuasaan yang merasa dirinya tahu ujung sejarah, pada akhirnya berbahaya.

Kita telah melihat itu dalam ideologi sekuler, dalam komunisme dogmatis, dalam fasisme, dalam imperialisme, dan kini dalam agama yang dipersenjatai. Semua bergerak dari satu sumber yang sama: keyakinan bahwa ada tujuan besar yang membuat penderitaan manusia sekarang dapat dibenarkan. Di situ manusia berhenti menjadi tujuan. Ia menjadi alat.

Dan begitu manusia menjadi alat, tak ada lagi batas yang benar-benar kokoh.

Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan getir: apakah dunia sedang dipimpin oleh orang-orang yang ingin menyelamatkan kehidupan, atau oleh orang-orang yang diam-diam terpesona oleh akhir?

Saya tak tahu jawaban pastinya. Tapi cukup melihat bagaimana perang di Timur Tengah berulang tanpa henti, bagaimana nyawa sipil diperlakukan seperti angka, bagaimana perdamaian selalu terdengar rapuh dan sementara, sementara bahasa nubuat dan tanah terjanji terus hidup dalam imajinasi politik Amerika. Dari sana tampak sesuatu yang muram: mungkin bagi sebagian orang, dunia ini memang tidak dimaksudkan untuk didiami dengan adil, melainkan untuk ditutup dengan megah.

Padahal tak ada yang megah dalam kiamat buatan manusia.

Tak ada kemuliaan dalam kota yang hangus.
Tak ada keselamatan untuk anak-anak yang kehilangan masa depan.
Tak ada Tuhan yang patut dipanggil untuk memberkati ambisi manusia yang mabuk kuasa.

Jika benar ada yang sedang merindukan akhir zaman dari dalam pusat-pusat kuasa dunia, maka tugas kita justru sederhana dan berat: menolak menjadikan kehancuran sebagai bahasa iman. Menolak menganggap perang sebagai liturgi. Menolak politik yang merasa dirinya wakil langit, padahal hanya sedang memperluas neraka di bumi.

Sebab ketika mesiu telah diberi makna eskatologis, ledakan tak lagi berhenti sebagai ledakan. Ia berubah menjadi doa yang sesat.

Dan doa yang sesat, bila diucapkan oleh negara adidaya, bisa membunuh seluruh dunia.===

CIMAHI, 6 MARET 2026

Penulis:
Pendiri Forum Aktivis Bandung
Anggota Komite Eksekutif KAMI
Ketua Komite Kajian Ilmiah Forum Tanah Air

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ancaman PHK Menjelang Lebaran Bayangi Pekerja

Next Post

HARGA DIRI PETANI DAN HARGA DIRI BANGSA: Ketika Impor Beras Dihentikan

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
“DEMURRAGE” BERAS BULOG

HARGA DIRI PETANI DAN HARGA DIRI BANGSA: Ketika Impor Beras Dihentikan

Apa Kata JK Soal Pernyataan Toxic LBP?

Ketika “Dewan Perdamaian” Lankahnya Perang

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...