TOKYO / JAKARTA / WASHINGTON / BERLIN – Lonjakan harga bahan bakar mulai terasa di berbagai negara menyusul meningkatnya harga minyak mentah global setelah eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia dan mendorong harga energi naik di sejumlah negara.
Jepang: Harga Bensin Menembus 160 Yen
Di Jepang, harga rata-rata bensin eceran mencapai 161,80 yen per liter pada Senin (10/3), naik 3,30 yen dibanding pekan sebelumnya dan mencatat kenaikan selama empat minggu berturut-turut.
Data Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang menunjukkan kenaikan tersebut dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah global setelah serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Pusat Informasi Minyak Jepang memperkirakan harga bensin bisa melonjak hingga di atas 180 yen per liter pekan depan jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut.
Kenaikan ini menjadi tantangan bagi pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang sedang berupaya menekan inflasi. Sebelumnya, harga bensin sempat turun setelah pajak sementara bahan bakar dihentikan pada Desember lalu.
Pada pertengahan Januari, harga bensin sempat menyentuh 154,70 yen per liter, membantu menurunkan inflasi nasional Jepang menjadi 2,0 persen, level terendah dalam dua tahun.
Kementerian juga melaporkan kenaikan harga terjadi di seluruh 47 prefektur Jepang. Harga solar naik menjadi 149,8 yen per liter, sementara minyak tanah meningkat menjadi 2.267 yen per 18 liter.
Indonesia: Potensi Penyesuaian Harga
Di Indonesia, pemerintah dan perusahaan energi negara memantau perkembangan harga minyak dunia yang berpotensi memengaruhi harga BBM domestik.
Meski belum ada kenaikan signifikan pada awal Maret, analis energi memperkirakan pemerintah dapat menghadapi tekanan fiskal jika harga minyak global terus meningkat. Indonesia masih memberikan subsidi dan kompensasi pada sejumlah jenis bahan bakar.
Kenaikan harga minyak mentah global biasanya berdampak pada beban subsidi energi dalam APBN, terutama jika harga internasional melampaui asumsi yang ditetapkan pemerintah.
Amerika Serikat: Harga Bensin Mulai Merangkak
Di Amerika Serikat, harga bensin juga mulai menunjukkan tren naik di sejumlah negara bagian.
Data industri energi menunjukkan harga rata-rata bensin nasional mendekati USD 3,6 per galon, meningkat dibandingkan dengan beberapa minggu sebelumnya. Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Beberapa analis memperingatkan bahwa jika konflik meluas, harga bensin di AS dapat kembali menembus USD 4 per galon pada musim panas.
Eropa: Tekanan Energi Kembali Muncul
Negara-negara Eropa juga mulai merasakan dampaknya. Di Jerman, Prancis, dan Italia, harga bahan bakar mengalami kenaikan bertahap dalam dua pekan terakhir.
Kawasan Eropa sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi global karena masih bergantung pada impor minyak dan gas. Kenaikan harga energi berpotensi kembali menekan inflasi yang sebelumnya mulai melandai setelah krisis energi sejak perang Rusia-Ukraina.
Dampak Global
Analisis energi menilai konflik di Timur Tengah dapat dengan cepat memengaruhi pasar minyak global karena kawasan tersebut menyumbang sekitar sepertiga pasokan minyak dunia.
Jika ketegangan meningkat atau jalur distribusi minyak terganggu, harga energi diperkirakan akan terus naik dan berdampak pada inflasi serta biaya transportasi di banyak negara.
Dengan kondisi geopolitik yang masih belum stabil, pasar energi global diperkirakan akan tetap volatil dalam beberapa pekan ke depan.
























