Oleh : Sadarudin El Bakrie | Journalist | Pengamat Ekonomi Politik | Alumni Universitas Negeri Jember
Melonjaknya harga beras tak luput dari krisis pangan global akibat perang di Ukraina dan cuaca panas ekstrim yang melanda beberapa belahan dunia.
Badan Pangan Nasional menginformasikan bahwa kenaikan harga beras jenis premium hingga kisaran diatas Rp15.000 per kg menjadi beras paling mahal. Sedangkan harga beras kualitas bawah yang menjadi beras paling murah saja sudah mencapai diatas Rp 13.000 per kg.
Harga tersebut berada jauh diatas Harga Eceran Tertinggi yang ditetapkan pemerintah. Padahal menurut informasi beberapa daerah memasuki musim panen diantaranya sumatera utara, Indramayu dan juga beberapa kota lainnya yaitu batang, kebumen dan jember. Bahkan panen raya musim gadu sukses di Purwakarta menghasilkan 52.336 ton gabah
Melonjaknya harga beras tak luput dari krisis pangan global akibat perang di Ukraina dan cuaca panas ekstrim yang melanda beberapa belahan dunia.
Menurut Organiisasi Kerjasama Ekonomi Dan Pembangunan (OECD) Blokade parsial yang dilakukan Rusia terhadap ekspor biji-bijian Ukraina serta terjadinya cuaca ekstrem memicu kekhawatiran mengenai krisis pasokan pangan global,
Prospek ekspor biji-bijian global mengalami gangguan setelah eksportir utama Ukraina menghadapi ancaman militer Rusia dalam pengirimannya di Laut Hitam.
Situasi ini diperburuk oleh panas ekstrem yang menghancurkan produk-produk eksportir terbesar dunia terutama di Asia dan Australia
Badai yang mengakibatkan berkurangnya pasokan biji-bijian dan gelombang panas ini telah mengobarkan kekhawatiran bahwa ketahanan pangan global bisa berada dalam kesulitan.
Rusia memblokade pelabuhan-pelabuhan di Laut Hitam, dan kapal-kapal yang membawa gandum dari Ukraina terus-menerus mendapat ancaman serangan.Angkatan Laut Rusia
Turki dan PBB saat ini sedang berdiskusi dengan Rusia untuk menghidupkan perjanjian yang berakhir Juli 2023 lalu, perjanjian yang akan memungkinkan kapal-kapal gandum Ukraina melewatinya tanpa hambatan.
Tetapi Presiden Vladimir Putin tidak bereaksi terhadap permintaan PBB dam Turki, setelah melakukan pembicaraan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan pada hari Senin pekan lalu, Rusia mendesak Eropa Barat memfasilitasi ekspor pertanian Rusia lebih dulu
Rusia dan Ukraina adalah dua produsen pertanian utama dunia dan pemasok utama biji-bijian seperti gandum, jagung, dan minyak sayur seperti lobak dan biji bunga matahari, yang banyak di antaranya diandalkan oleh negara-negara berkembang.
Menurut PBB, ketika Inisiatif Biji-bijian Laut Hitam diberlakukan, negara-negara berpendapatan rendah dan menengah secara kolektif menerima 57% biji-bijian yang keluar dari pelabuhan-pelabuhan di Laut Hitam
Program Pangan Dunia, yang memberikan bantuan pangan di seluruh dunia, mendapat setengah dari pasokan gandumnya dari ekspor Ukraina tahun lalu dan lebih dari tiga perempatnya tahun ini.
Bukan hanya perang yang mengancam ketahanan pangan global, juaga cuaca. Pasokan beras dan gandum kini menghadapi kekurangan yang mengkhawatirkan akibat cuaca panas ekstrim
Produksi biji-bijian terutama padi dari China sangat menderita akibat panas ekstrem, terutama akibat semakin intensifnya El Niño. Fenomena iklim yang memicu perubahan suhu dan curah hujan telah berdampak pada produksi biji-bijian di seluruh Asia. dan Ausrtalia
Perkiraan curah hujan yang lebih rendah pada bulan September semakin mengancam gangguan pasokan.
“Kami masih menunggu angka resmi [produksi sereal di China, red.] keluar, tapi ini adalah hal yang dapat berdampak pada pasar,” kata Direktur Perdagangan dan Pertanian, OECD Marion Jansen.
Sementara itu untuk mengendalikan harga tinggi di dalam negeri, India, yang menyumbang 40% dari kebutuhan pasar beras global, mengumumkan larangan ekspor beras putih non-basmati dan beras pecah, Dan ini berakibat pengurangan 40 persen pasokan beras di pasar global
Menurut Direktur Perdagangan dan Pertanian, OECD Marion Jansen kurangnya curah hujan juga berdampak buruk pada produksi gandum Australia.
“Produksi gandum akan menjadi tiga juta (metrik) ton lebih rendah dari perkiraan awal kami sebesar 33 juta ton,” Ole Houe, direktur layanan konsultasi di pialang pertanian IKON Commodities, mengatakan kepada Reuters.
“Jika kekeringan terus berlanjut pada bulan September, kami memperkirakan hasil panen akan lebih rendah lagi.”
Dengan terhentinya ekspor biji-bijian di Ukraina dan cuaca panas yang merusak produksi pertanian di Asia, dan Australia pertanyaanya seberapa besar kekurangan pasokan pamgan di pasar global?
Pada bulan Juli, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperkirakan rekor produksi tertinggi: 2.819 juta ton pada tahun 2023, 1,1% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Jadi sangat jelas penyebab utama melonjaknya harga beras di Indonesia karena terlalu lemahnya ketahanan pangan kita akibat kegagalan program swasembada pangan terutama beras. Sehingga kita harus mengimpor beras.
Dan Pemerintah tak mampu melakukan impor beras karena tingginya harga beras di pasar global.
Presiden Jokowi hanya bisa menjanjikannya swasembada beras tapi selama 9 tahun berkuasa janji tinggal janji karena lebih memprioritaskan pembangunan infrasruktur dan proyek ekonomi lainnya.
Ketika beras tidak mencukupi akibat cuaca pabas dan tak menentu mengakibatkan pasokan beras di pasar domestik berkurang dan pemerintah tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar maka pilihannya adalah impor beras
Rupanya pemerintah sedang menunggu harga beras di pasar global turun, akibatnya harga beras pada tingkat konsumen di pasar domestik melonjak melebihi 40 persen jauh melebihi harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah.
























