• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Qiamat Terjadi Ketika Tugas Dikerjakan Oleh Yang Bukan Akhlinya

Ali Syarief by Ali Syarief
May 3, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?
Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu fase dalam sejarah bangsa yang tak selalu ditandai oleh dentuman senjata atau gemuruh revolusi. Ia datang diam-diam, merayap lewat kompromi, dan menjelma menjadi kebiasaan. Kita mungkin sedang hidup di fase itu: ketika kelayakan tidak lagi menjadi syarat, ketika kualitas tak lagi menjadi ukuran, dan ketika kekuasaan justru merayakan ketidaklayakan itu sendiri.

Akhirnya, kita sampai pada titik yang sulit dibantah dengan akal sehat. Orang yang tak punya ijazah bisa menjadi presiden. Mereka yang tidak memenuhi syarat pendidikan bisa menjadi wakil presiden. Bahkan mereka yang rekam jejaknya diliputi persoalan HAM pun dapat duduk nyaman di singgasana kekuasaan. Ini bukan sekadar anomali politik. Ini adalah gejala sistemik—sebuah tanda bahwa ada yang rusak pada fondasi yang kita bangun bersama.

Dalam sistem yang sehat, kepemimpinan adalah hasil seleksi alam yang ketat—bukan dalam arti biologis, tetapi dalam arti moral, intelektual, dan integritas. Seorang pemimpin seharusnya lahir dari proses panjang: ditempa oleh pengalaman, diuji oleh tantangan, dan disaring oleh akal publik. Namun yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Kepemimpinan bisa muncul dari ruang hampa, tanpa rekam jejak yang memadai, tanpa kapasitas yang teruji.

Lebih tragis lagi, mereka yang sesungguhnya memiliki kualitas—yang pendidikannya tinggi, leadership-nya matang, dan integritasnya tak tercela—justru tersingkir. Mereka tidak kalah karena tidak mampu, tetapi karena sistem tidak memberi ruang. Mereka tidak gagal, tetapi sengaja digagalkan oleh mekanisme yang lebih mengutamakan loyalitas ketimbang kapasitas, kedekatan ketimbang kecakapan.

Di sinilah letak malapetaka itu. Bukan semata-mata pada siapa yang berkuasa, tetapi pada bagaimana kekuasaan itu diperoleh. Ketika standar direndahkan, ketika syarat dilonggarkan, dan ketika aturan bisa dinegosiasikan demi kepentingan tertentu, maka kita tidak lagi berbicara tentang demokrasi yang sehat. Kita sedang menyaksikan demokrasi yang kehilangan arah—bahkan mungkin kehilangan makna.

Ironisnya, semua ini sering dibungkus dengan legitimasi formal. Ada pemilu, ada suara rakyat, ada prosedur yang tampak sah. Tetapi kita lupa, prosedur tanpa substansi hanyalah formalitas kosong. Demokrasi bukan sekadar soal memilih, tetapi soal memastikan bahwa yang dipilih memang layak untuk dipilih.

Sejarah telah memberi peringatan yang jelas: kehancuran sebuah bangsa tidak selalu datang dari serangan luar, tetapi dari kesalahan dalam memilih pemimpinnya sendiri. Ketika jabatan diberikan kepada mereka yang bukan ahlinya, maka kehancuran itu hanya tinggal menunggu waktu. Bukan karena takdir, tetapi karena kelalaian kolektif.

Apa yang kita saksikan hari ini bukan sekadar krisis politik. Ini adalah krisis nilai. Kita sedang menyaksikan pergeseran dari meritokrasi ke mediokrasi—dari yang terbaik ke yang sekadar ada. Dan ketika mediokrasi menjadi norma, keunggulan akan dianggap ancaman, bukan kebutuhan.

Inilah yang patut kita sebut sebagai “kiamat kecil” dalam kehidupan berbangsa. Bukan kiamat dalam arti kehancuran fisik, tetapi kehancuran akal sehat. Sebuah keadaan di mana yang tidak layak dianggap biasa, dan yang layak justru dipertanyakan.

Maka pertanyaannya bukan lagi siapa yang akan memimpin kita, tetapi apakah sistem ini masih layak dipertahankan. Karena jika kita terus membiarkan standar runtuh, maka bukan hanya pemimpin yang akan kehilangan kualitas—bangsa ini pun akan kehilangan arah.

Dan ketika arah telah hilang, maka yang tersisa hanyalah kekuasaan tanpa tujuan. Sebuah republik yang berdiri, tetapi kehilangan makna.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Perang Iran Membakar Inflasi AS: Angka 3,6% Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

Next Post

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

May 3, 2026
Bobby Kertanegara: Simbol Transformasi Prabowo dari Kerasnya Medan Perang ke Kasih Sayang
Feature

Prabowo: Kritik Tak Digubris – Penderitaan Bangsa Lain Direduksi

May 3, 2026
Nagomi: Filosofi yang Menampar Dunia yang Gemar Bertengkar
Feature

Nagomi: Filosofi yang Menampar Dunia yang Gemar Bertengkar

May 2, 2026
Next Post

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Vitamin Demokrasi yang Mendadak Dilarang Konsumsi
Feature

Teddy, Gay, dan Luth

by Karyudi Sutajah Putra
May 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta — Hubungan politik antara Amien Rais dan Prabowo...

Read more
Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

May 2, 2026
IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

April 30, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

May 3, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Qiamat Terjadi Ketika Tugas Dikerjakan Oleh Yang Bukan Akhlinya

May 3, 2026
Perang Iran Membakar Inflasi AS: Angka 3,6% Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

Perang Iran Membakar Inflasi AS: Angka 3,6% Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

May 3, 2026
Bobby Kertanegara: Simbol Transformasi Prabowo dari Kerasnya Medan Perang ke Kasih Sayang

Prabowo: Kritik Tak Digubris – Penderitaan Bangsa Lain Direduksi

May 3, 2026
Mafia Peradilan di Pemalang: Dugaan Pemerasan Berantai Oknum Polisi dan Jaksa Mencuat

Mafia Peradilan di Pemalang: Dugaan Pemerasan Berantai Oknum Polisi dan Jaksa Mencuat

May 3, 2026
Teror Digital, Modus Pemerasan UMKM Lewat Rating Bintang 1 di Google Maps Mencuat

Teror Digital, Modus Pemerasan UMKM Lewat Rating Bintang 1 di Google Maps Mencuat

May 3, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

May 3, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Qiamat Terjadi Ketika Tugas Dikerjakan Oleh Yang Bukan Akhlinya

May 3, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...