By Paman BED
Ada satu pemandangan yang hampir setiap hari terjadi di jutaan rumah Indonesia.
Seorang ibu menyiapkan sarapan.
Seorang ayah mengingatkan anaknya agar makan sebelum berangkat sekolah.
Karena semua orang tua memahami satu hal sederhana.
Anak yang kenyang belum tentu sehat.
Tetapi anak yang mendapatkan gizi yang baik memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan yang lebih baik.
Karena itulah ketika pemerintah meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), perhatian publik langsung tertuju pada program tersebut.
Program ini bukan sekadar urusan makanan.
Ia adalah investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Namun seperti semua program besar, keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh niat baik.
Ia juga ditentukan oleh tata kelola, pengawasan, integritas, kompetensi pelaksana, serta efektivitas rantai pasok yang menopangnya.
Di sinilah menariknya surat terbuka yang baru saja disampaikan KOSGORO kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Alih-alih hanya memberikan dukungan, organisasi ini memilih memberikan masukan.
Mendukung sekaligus mengingatkan.
Mengapresiasi sekaligus mengoreksi.
Sebuah sikap yang justru sehat dalam kehidupan demokrasi.
Dalam surat tertanggal 15 Juni 2026 tersebut, KOSGORO menyampaikan hasil
Forum Sarasehan tentang Program Makan Bergizi Gratis yang dihadiri akademisi, praktisi, pelaku usaha, mitra pelaksana, serta unsur KOSGORO dari berbagai daerah. Forum tersebut menghasilkan delapan rekomendasi utama yang meliputi penguatan tata kelola Badan Gizi Nasional, penguatan payung hukum, peningkatan kompetensi SDM pelaksana, sinkronisasi kebijakan, penguatan infrastruktur dan rantai pasok, dukungan terhadap penegakan hukum, peningkatan efisiensi anggaran, serta pencegahan konflik kepentingan.
Jika dicermati, seluruh rekomendasi tersebut sesungguhnya mengarah pada satu pesan besar.
Program yang baik membutuhkan tata kelola yang baik.
Karena sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa banyak program besar gagal bukan karena tujuan yang salah.
Melainkan karena pelaksanaannya yang lemah.
Bagi sebagian generasi muda, nama KOSGORO mungkin tidak lagi sepopuler beberapa dekade lalu.
Padahal organisasi ini memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa Indonesia.
KOSGORO, singkatan dari Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong, didirikan pada tahun 1957 oleh Mas Isman.
Ia lahir dari keyakinan bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya dilakukan melalui politik semata.
Pembangunan juga harus diwujudkan melalui karya nyata yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu KOSGORO sejak awal bergerak di bidang pendidikan, pelatihan keterampilan, pemberdayaan ekonomi rakyat, koperasi, dan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Pada era pembangunan nasional, KOSGORO berkembang menjadi salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia.
Jaringannya tersebar dari pusat hingga daerah.
Organisasi ini turut berkontribusi dalam pengembangan koperasi, pembinaan usaha kecil, pendidikan masyarakat, serta berbagai program pemberdayaan ekonomi rakyat.
Dalam banyak daerah, koperasi dan unit-unit usaha yang dibina menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi masyarakat.
KOSGORO menjadi bagian dari ekosistem pembangunan yang berupaya menjembatani kebijakan nasional dengan kebutuhan riil rakyat di lapangan.
Ada sebuah pepatah lama yang sering kita dengar.
Air cucuran atap jatuh tak jauh dari sumbernya.
Dalam budaya Barat, pepatah itu dikenal dengan ungkapan:
Like father, like son.
Pepatah itu tampaknya menemukan relevansinya dalam perjalanan KOSGORO hari ini.
Organisasi yang didirikan oleh Pahlawan Nasional Mas Isman kini dipimpin oleh putranya, Hayono Isman.
Mas Isman bukan sekadar pendiri organisasi.
Ia adalah pejuang yang meyakini bahwa kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi kesejahteraan rakyat.
Karena itulah KOSGORO dibangun dengan semangat karya, pendidikan, koperasi, ekonomi rakyat, dan gotong royong.
Puluhan tahun kemudian, semangat itu tampaknya masih mengalir.
Hayono Isman yang pernah dipercaya menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia kini memimpin KOSGORO di tengah tantangan zaman yang berbeda.
Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk membangun fondasi pembangunan nasional pasca kemerdekaan, maka hari ini perjuangan itu diwujudkan melalui penguatan kualitas sumber daya manusia, pemberdayaan koperasi dan UMKM, serta partisipasi aktif dalam mengawal berbagai program strategis bangsa.
Tentu setiap generasi memiliki cara perjuangannya sendiri.
Namun nilai yang mendasarinya tetap sama.
Keinginan untuk melihat Indonesia menjadi lebih kuat, lebih mandiri, dan lebih sejahtera.
Karena pada akhirnya, warisan terbesar seorang pejuang bukanlah jabatan.
Bukan pula kekuasaan.
Melainkan nilai-nilai pengabdian yang terus hidup dan diteruskan oleh generasi berikutnya.
Dalam konteks itulah surat terbuka KOSGORO menjadi menarik.
Organisasi ini melihat Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya sebagai program pemenuhan gizi.
Lebih dari itu.
MBG juga dapat menjadi instrumen penggerak ekonomi rakyat.
Jutaan porsi makanan yang diproduksi setiap hari berpotensi menciptakan pasar yang sangat besar bagi petani, peternak, nelayan, koperasi, dan UMKM di berbagai daerah.
Karena itu KOSGORO memberikan perhatian khusus pada kepastian rantai pasok, infrastruktur, dan koordinasi antarinstansi agar koperasi dan UMKM memperoleh ruang partisipasi yang jelas dan berkelanjutan dalam mendukung program tersebut.
Pandangan ini sejalan dengan sejarah panjang KOSGORO yang selama puluhan tahun aktif mendorong ekonomi kerakyatan.
Karena pembangunan yang sehat tidak hanya menciptakan penerima manfaat.
Tetapi juga menciptakan pelaku ekonomi baru yang tumbuh bersama program tersebut.
Di sisi lain, KOSGORO juga mengingatkan pentingnya transparansi, profesionalisme, dan pencegahan konflik kepentingan.
Pesan yang sebenarnya relevan bagi seluruh program strategis nasional.
Karena sebesar apa pun anggaran yang disiapkan negara, tanpa tata kelola yang baik, manfaatnya tidak akan pernah optimal.
Tujuh puluh tahun setelah berdiri pada tahun 1957, KOSGORO tampaknya masih berusaha memainkan peran yang sama seperti saat pertama kali didirikan.
* Menjadi jembatan antara gagasan dan pelaksanaan.
* Antara pemerintah dan masyarakat.
* Antara kebijakan nasional dan kebutuhan rakyat di lapangan.
Surat terbuka mengenai Program Makan Bergizi Gratis ini menunjukkan bahwa organisasi tua tidak selalu menjadi organisasi yang usang.
Sebaliknya, pengalaman panjang justru dapat menjadi sumber kebijaksanaan.
KOSGORO tampaknya ingin mengingatkan bahwa pembangunan bangsa tidak hanya membutuhkan anggaran besar dan program yang ambisius.
Pembangunan juga membutuhkan tata kelola yang baik, integritas yang kuat, dan partisipasi masyarakat yang tulus.
Sebab makanan bergizi memang dapat mengenyangkan anak-anak Indonesia.
Tetapi hanya tata kelola yang bersih dan kepemimpinan yang berintegritas yang dapat memastikan program itu terus hidup, tumbuh, dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.
Dan mungkin itulah esensi gotong royong yang sesungguhnya.
Bukan sekadar bekerja bersama.
Melainkan menjaga bersama masa depan Indonesia.
Referensi
* Surat Terbuka Pimpinan Pusat Kolektif KOSGORO kepada Presiden Republik Indonesia tentang Hasil Rekomendasi Forum Sarasehan KOSGORO mengenai Program Makan Bergizi Gratis, Jakarta, 15 Juni 2026.
* Sejarah KOSGORO dan pemikiran Mas Isman dalam pengembangan organisasi karya, koperasi, dan ekonomi rakyat.
* Dokumentasi perjalanan organisasi KOSGORO dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan Indonesia sejak 1957.
* Berbagai publikasi mengenai peran Hayono Isman sebagai mantan Menteri Pemuda dan Olahraga serta Ketua Umum KOSGORO.
By Paman BED



















