Jakarta – FusilatNews.– Peta politik menuju Pemilu Presiden 2029 mulai mengalami pergeseran signifikan. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, muncul sebagai figur dengan elektabilitas tertinggi, bahkan melampaui Presiden Prabowo Subianto dalam dua survei nasional yang dirilis pada Juli 2026.
Temuan tersebut berasal dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator Politik Indonesia (IPI). Meski menggunakan metodologi yang berbeda, kedua lembaga sama-sama menangkap tren yang serupa: elektabilitas Dedi Mulyadi terus menanjak, sementara dukungan terhadap Prabowo menunjukkan penurunan.
Survei SMRC bertajuk Elektabilitas Calon-calon Presiden yang dilakukan pada 5–19 Juli 2026 mencatat Dedi Mulyadi meraih elektabilitas 35 persen dalam simulasi semi-terbuka. Angka itu jauh mengungguli Prabowo Subianto yang memperoleh 14,5 persen, disusul Anies Baswedan 8,2 persen dan Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen.
Lebih menarik lagi, dalam kurun sembilan bulan terakhir, elektabilitas Dedi melonjak dari 19,7 persen menjadi 35 persen, sementara Prabowo justru merosot tajam dari 34,9 persen menjadi 14,5 persen.
Dalam simulasi head-to-head, Dedi bahkan mencatat keunggulan yang sangat mencolok. Ia memperoleh 59 persen dukungan responden, sedangkan Prabowo hanya 28,3 persen.
Fenomena serupa juga tergambar dalam survei Indikator Politik Indonesia yang dilaksanakan pada 14–24 Juli 2026 terhadap 4.250 responden.
Pada kategori top of mind, Dedi Mulyadi memperoleh 22,4 persen, sedikit mengungguli Prabowo yang berada di angka 20,1 persen.
Dalam simulasi 32 nama calon presiden, Dedi meraih 31,4 persen, sedangkan Prabowo memperoleh 18,8 persen. Ketika pilihan dipersempit menjadi tiga nama, jarak keduanya semakin melebar. Dedi memperoleh 46,9 persen, Prabowo 28,8 persen, sementara Anies Baswedan berada di posisi ketiga dengan 17 persen.
Menariknya, meski tingkat pengenalan publik (popularitas) terhadap Prabowo masih lebih tinggi, yakni 98,8 persen, dibandingkan dengan Dedi yang mencapai 88,2 persen, tingkat kesukaan (likeability) justru berpihak kepada Dedi. Gubernur Jawa Barat itu memperoleh angka 88,3 persen, jauh di atas Prabowo yang berada di 68,1 persen.
Walaupun hasil kedua survei tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung karena menggunakan desain penelitian yang berbeda, keduanya menunjukkan pola yang konsisten: Dedi Mulyadi sedang mengalami momentum kenaikan elektabilitas, sementara Prabowo Subianto menghadapi tren penurunan dukungan publik.
Penurunan elektabilitas Presiden Prabowo juga tampak berjalan seiring dengan menurunnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerjanya.
Survei SMRC mencatat tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo kini berada di angka 51,1 persen, turun tajam dibandingkan sembilan bulan sebelumnya yang mencapai 81,2 persen. Sementara itu, survei IPI mencatat tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden berada pada kisaran 49,5 persen.
Temuan dua lembaga survei tersebut belum dapat dipandang sebagai prediksi hasil Pemilu 2029, mengingat kontestasi masih berlangsung beberapa tahun lagi dan dinamika politik dapat berubah sewaktu-waktu. Namun, satu pesan tampak semakin jelas: peta kekuatan politik nasional mulai bergeser, dan Dedi Mulyadi kini muncul sebagai salah satu poros utama dalam percaturan menuju Pilpres 2029.





















