Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Survei itu cermin. Cermin itu untuk berkaca. Sayangnya, ketika wajah yang terpantul itu bopeng, cerminlah yang kemudian dibelah. Buruk muka cermin dibelah.
“Kita bekerja bukan untuk survei. Kita bekerja untuk kepentingan rakyat,” kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Kamis (30/7/2027).
Penggawa Istana ini mengomentari hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto terjun bebas hingga ke angka 51,1 persen pada Juli 2026.
Hasil survei lembaga yang sama pada November 2025 menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Prabowo mencapai 81,2 persen.
Artinya, hanya dalam waktu sembilan bulan, tingkat kepuasan publik terhadap Prabowo turun drastis hingga 30,1 persen.
Istana sepertinya menganggap hasil survei laiknya ramalan zodiak. Jika suka, maka diakui kebenarannya. Jika tidak suka, maka tidak diakui kebenarannya.
Mungkin Istana sedang menunggu hasil survei lembaga lain yang akan menjadi “second opinion”. Tapi tentu saja yang akan menilai apakah hasil survei lembaga itu kredibel atau tidak adalah publik.
Mestinya Istana menjadikan hasil survei itu sebagai bahan evaluasi atau introspeksi. Bukannya bersikap defensif dengan menyatakan bahwa kerja pemerintah bukan untuk survei.
Istana agaknya alpa bahwa hasil survei lembaga independen dan kredibel semacam SMRC sering akurat. Jelang Pemilu 2024 lalu misalnya.
Kalau hasil survei sebuah lembaga tidak akurat, niscaya lembaga survei itu akan ditinggalkan publik. Tidak akan dipercaya lagi oleh publik. Akhirnya gulung tikar.
Istana mestinya sadar bahwa Prabowo sudah banyak melakukan offside. Terutama dalam pidato-pidatonya.
Ditambah lagi dengan kondisi ekonomi yang terus memburuk: harga kebutuhan pokok melambung tinggi, inflasi naik, dan kurs rupiah terus terpuruk.
Korupsi juga kian marak, bahkan melibatkan orang-orang yang diduga dekat dengan Prabowo, seperti mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.
Kasus ini menyenggol nama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, orang terdekat Prabowo di samping Teddy Wijaya dan Sufmi Dasco Ahmad.
Inilah yang menjadikan wajah Prabowo bopeng-bopeng di dalam cermin bernama SMRC.
Secara personal, Saiful Mujani memang kritis terhadap pemerintahan Prabowo. Tapi sebagai peneliti profesional, ia tetap bisa menjaga rasionalitas, independensi, integritas dan kredibilitas lembaga surveinya. Itulah!

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)


















