• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Menuju Fasisme Gaya Baru: Ketika Birokrasi Ditata dengan Komando dan Hukum Diakali

fusilat by fusilat
July 30, 2026
in Birokrasi, Feature
0
Menuju Fasisme Gaya Baru: Ketika Birokrasi Ditata dengan Komando dan Hukum Diakali
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Kawan Nazar

Ada gejala yang patut dicermati dalam arah penyelenggaraan pemerintahan saat ini: semakin kuatnya dorongan untuk menyeragamkan cara berpikir, cara bekerja, dan orientasi seluruh penyelenggara negara di bawah satu desain kekuasaan yang terpusat. Dari pelatihan bergaya militer bagi pejabat sipil hingga pembentukan institusi baru yang diproyeksikan menjadi pusat kaderisasi nasional, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memperlihatkan kecenderungan memperluas pola komando ke dalam birokrasi sipil.

Kecenderungan tersebut semakin menguat setelah Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyatakan bahwa pejabat pemerintahan, direksi BUMN, hingga kepala daerah diwajibkan mengikuti pendidikan di Universitas Republik Indonesia (URI). Pernyataan ini segera memantik perdebatan karena mengandung implikasi serius terhadap tata kelola birokrasi dan prinsip-prinsip demokrasi.

Memang, Gubernur URI Donny Ermawan Taufanto kemudian mengklarifikasi bahwa sertifikat URI hanya akan menjadi credit point, bukan syarat mutlak, mengingat keterbatasan kapasitas lembaga tersebut. Namun klarifikasi itu tidak menghapus persoalan mendasarnya. Pernyataan resmi seorang menteri negara justru memperlihatkan cara pandang kekuasaan yang ingin membangun homogenisasi ideologis terhadap elite pemerintahan. Persoalannya bukan lagi soal kewajiban administratif, melainkan paradigma politik yang melatarbelakanginya.

Devaluasi Perguruan Tinggi dan Sentralisasi Kekuasaan

Menjadikan satu institusi sebagai pusat pembentukan seluruh elite birokrasi pada hakikatnya merupakan bentuk sentralisasi pengetahuan dan legitimasi kepemimpinan. Langkah semacam ini secara tidak langsung merendahkan peran ratusan perguruan tinggi negeri maupun swasta yang selama puluhan tahun menjadi tempat lahirnya aparatur negara, pemimpin daerah, akademisi, hingga profesional.

Apabila sertifikasi dari sebuah lembaga bentukan pemerintah memperoleh nilai tambah yang eksklusif dalam jenjang karier birokrasi maupun BUMN, maka negara sedang menciptakan kasta baru dalam sistem pemerintahan. Meritokrasi perlahan bergeser menjadi sistem yang memberi privilege kepada mereka yang memperoleh legitimasi dari pusat kekuasaan.

Lebih jauh lagi, pendekatan tersebut berpotensi mengikis prinsip otonomi daerah. Kepala daerah bukanlah bawahan pemerintah pusat dalam pengertian politik. Mereka memperoleh mandat langsung dari rakyat melalui pemilihan umum. Menempatkan mereka dalam satu jalur kaderisasi yang dikendalikan pemerintah pusat dapat dipandang sebagai bentuk penyeragaman politik yang bertentangan dengan semangat desentralisasi pasca-Reformasi.

Pada titik inilah kekhawatiran publik menjadi relevan. Ketika akses terhadap posisi strategis semakin ditentukan oleh kedekatan dengan mekanisme kaderisasi yang dirancang pemerintah, ruang kompetisi yang sehat dapat berubah menjadi patronase yang dilembagakan.

Legalisme Otoriter: Ketika Hukum Menjadi Instrumen Kekuasaan

Fenomena tersebut tidak berdiri sendiri. Ia muncul bersamaan dengan kecenderungan yang lebih luas, yaitu meningkatnya praktik authoritarian legalism atau legalisme otoriter—yakni penggunaan perangkat hukum untuk memperkuat konsolidasi kekuasaan, bukan untuk membatasi dan mengawasinya.

Dalam beberapa tahun terakhir, publik menyaksikan semakin seringnya pembentukan undang-undang maupun peraturan pemerintah yang menuai kritik karena dianggap disusun secara terburu-buru, minim partisipasi publik, dan lebih mengakomodasi kepentingan politik dibandingkan dengan kepentingan konstitusional.

Pada saat yang sama, peran Mahkamah Konstitusi sebagai pengawal konstitusi juga terus menjadi sorotan. Putusan-putusan yang membatalkan norma tertentu tidak jarang diikuti dengan lahirnya formulasi baru melalui revisi undang-undang ataupun peraturan pelaksana yang dinilai memiliki substansi serupa. Akibatnya, muncul kesan bahwa hukum tidak lagi menjadi batas bagi kekuasaan, melainkan instrumen untuk memberikan legitimasi terhadap keputusan politik.

Apabila kecenderungan tersebut terus berkembang, prinsip rule of law perlahan bergeser menjadi rule by law—yakni penggunaan hukum sebagai alat untuk menjalankan kehendak penguasa.

Pelajaran dari Sejarah

Sejarah menunjukkan bahwa otoritarianisme modern jarang lahir melalui kudeta yang dramatis. Ia justru berkembang secara bertahap melalui mekanisme yang tampak legal dan administratif. Sentralisasi birokrasi, penyeragaman pendidikan politik, pelemahan lembaga pengawas, serta penguatan loyalitas kepada negara di atas institusi demokrasi merupakan pola yang berulang dalam berbagai rezim otoriter abad ke-20.

Perbandingan sejarah tentu harus dilakukan secara hati-hati. Setiap negara memiliki konteks politik yang berbeda, sehingga analogi dengan rezim-rezim masa lalu tidak dapat disamakan begitu saja. Namun sejarah tetap memberikan peringatan bahwa ketika seluruh instrumen negara diarahkan untuk berpikir, bertindak, dan loyal kepada satu pusat komando, ruang kebebasan sipil perlahan menyempit tanpa disadari.

Karena itu, setiap kebijakan yang mengarah pada sentralisasi kaderisasi birokrasi, terlebih apabila kemudian dilembagakan melalui Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden, patut diuji secara kritis dalam kerangka konstitusi dan prinsip negara hukum demokratis.

Demokrasi Tidak Dibangun dengan Keseragaman

Negara demokrasi tidak membutuhkan birokrasi yang berpikir seragam, melainkan birokrasi yang profesional, kompeten, dan tunduk pada konstitusi. Loyalitas aparatur negara seharusnya diberikan kepada hukum dan kepentingan publik, bukan kepada satu institusi kaderisasi ataupun satu desain politik kekuasaan.

Karena itu, gagasan yang menjadikan URI sebagai pusat kaderisasi nasional bagi pejabat negara layak dikaji secara terbuka dan kritis. Publik, akademisi, organisasi profesi, perguruan tinggi, serta masyarakat sipil memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap kebijakan tetap berjalan dalam koridor konstitusi, menghormati keberagaman institusi pendidikan, serta menjaga keseimbangan kekuasaan yang menjadi fondasi demokrasi Indonesia.

Demokrasi tidak runtuh dalam satu malam. Ia melemah sedikit demi sedikit ketika publik mulai menganggap sentralisasi, penyeragaman, dan konsentrasi kekuasaan sebagai sesuatu yang lumrah. Di situlah kewaspadaan menjadi syarat utama agar negara hukum tidak bergeser menjadi negara komando.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Re-Dakwaan JPU terhadap dr. Tifa: Tahapan Hukum Berlanjut Tanpa Putusan Sela Kedua

Next Post

Reformasi INKOS KOSGORO Dari Organisasi Administratif Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Koperasi

fusilat

fusilat

Related Posts

Economy

Reformasi INKOS KOSGORO Dari Organisasi Administratif Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Koperasi

July 30, 2026
Eksepsi Tifa Diterima, Jokowi Tak Perlu Membuktikan Ijazah di Persidangan
Feature

Re-Dakwaan JPU terhadap dr. Tifa: Tahapan Hukum Berlanjut Tanpa Putusan Sela Kedua

July 30, 2026
Pemalang Riwayatmu Kini: Habis Agung Terbitlah Anom
Crime

Pemalang Riwayatmu Kini: Habis Agung Terbitlah Anom

July 30, 2026
Next Post

Reformasi INKOS KOSGORO Dari Organisasi Administratif Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Koperasi

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Birokrasi

Ketika Gaji Kepala Daerah Jadi Kambing Hitam

by Karyudi Sutajah Putra
July 30, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Setiap ada kepala daerah ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), gaji...

Read more
Habis Nanik, Terbitlah Hotman

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

July 23, 2026
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Reformasi INKOS KOSGORO Dari Organisasi Administratif Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Koperasi

July 30, 2026
Menuju Fasisme Gaya Baru: Ketika Birokrasi Ditata dengan Komando dan Hukum Diakali

Menuju Fasisme Gaya Baru: Ketika Birokrasi Ditata dengan Komando dan Hukum Diakali

July 30, 2026
Eksepsi Tifa Diterima, Jokowi Tak Perlu Membuktikan Ijazah di Persidangan

Re-Dakwaan JPU terhadap dr. Tifa: Tahapan Hukum Berlanjut Tanpa Putusan Sela Kedua

July 30, 2026
Pemalang Riwayatmu Kini: Habis Agung Terbitlah Anom

Pemalang Riwayatmu Kini: Habis Agung Terbitlah Anom

July 30, 2026
Negara Bukan Pedagang: Mengapa Kekuasaan Sulit Menjadi Pebisnis yang Baik

Negara Bukan Pedagang: Mengapa Kekuasaan Sulit Menjadi Pebisnis yang Baik

July 30, 2026
Jumhur Hidayat: Koperasi Desa Merah Putih Akan Hidupkan Ekonomi Hingga Kawasan Hutan

Jumhur Hidayat: Koperasi Desa Merah Putih Akan Hidupkan Ekonomi Hingga Kawasan Hutan

July 30, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Reformasi INKOS KOSGORO Dari Organisasi Administratif Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Koperasi

July 30, 2026
Menuju Fasisme Gaya Baru: Ketika Birokrasi Ditata dengan Komando dan Hukum Diakali

Menuju Fasisme Gaya Baru: Ketika Birokrasi Ditata dengan Komando dan Hukum Diakali

July 30, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...