• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Negara Bukan Pedagang: Mengapa Kekuasaan Sulit Menjadi Pebisnis yang Baik

Ali Syarief by Ali Syarief
July 30, 2026
in Birokrasi, Economy, Feature
0
Negara Bukan Pedagang: Mengapa Kekuasaan Sulit Menjadi Pebisnis yang Baik
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ali Syarief

Ada sebuah adagium lama dalam ilmu ekonomi politik: “The business of government is not business.” Tugas utama negara bukanlah mencari laba, melainkan menciptakan keadilan, menjamin keamanan, menyediakan pelayanan publik, dan mengoreksi kegagalan pasar. Ketika negara mulai tergoda untuk menjadi pedagang, batas antara kepentingan publik dan kepentingan komersial sering kali menjadi kabur.

Gagasan bahwa negara harus ikut berbisnis selalu terdengar menarik. Negara memiliki modal besar, regulasi berada di tangannya, bahkan aparat birokrasi dapat menggerakkan kebijakan sesuai kehendak penguasa. Namun justru di situlah persoalannya. Bisnis memiliki hukumnya sendiri. Ia hidup dari efisiensi, inovasi, kemampuan membaca pasar, dan disiplin terhadap risiko. Politik bekerja dengan logika yang berbeda: kompromi, distribusi kekuasaan, kepentingan elektoral, dan tekanan berbagai kelompok.

Ekonom peraih Nobel, Milton Friedman, pernah mengatakan, “Few trends could so thoroughly undermine the very foundations of our free society as the acceptance by corporate officials of a social responsibility other than to make as much money for their stockholders as possible.” Terlepas dari perdebatan atas pandangannya, Friedman menunjukkan bahwa dunia bisnis memiliki logika yang berbeda dari logika pemerintahan. Ketika keduanya dicampur, tujuan masing-masing menjadi kabur.

Sementara itu, ekonom pemenang Nobel lainnya, Friedrich Hayek, mengingatkan bahwa tidak ada otoritas yang memiliki pengetahuan cukup untuk menggantikan mekanisme pasar. Harga, permintaan, dan kompetisi merupakan informasi yang tersebar di masyarakat, bukan sesuatu yang dapat dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah. Intervensi politik sering kali justru menghasilkan distorsi.

Pengalaman di banyak negara menunjukkan pola yang sama. Badan usaha milik negara memang dapat berhasil pada sektor-sektor strategis seperti energi, transportasi, atau infrastruktur yang memiliki karakter monopoli alamiah. Namun ketika negara masuk terlalu jauh ke bisnis yang sebenarnya dapat dijalankan masyarakat atau swasta, muncul persoalan klasik: inefisiensi, birokrasi berlapis, konflik kepentingan, dan akhirnya beban yang ditanggung rakyat melalui pajak atau subsidi.

Mantan Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher, pernah menyampaikan kalimat yang terkenal: “The problem with socialism is that eventually you run out of other people’s money.” Kalimat ini bukan sekadar kritik terhadap sosialisme, tetapi juga peringatan bahwa negara tidak menghasilkan kekayaan; negara mengelola kekayaan yang dihasilkan masyarakat. Bila pengelolaannya tidak efisien, yang dikorbankan adalah uang publik.

Ekonom Ludwig von Mises bahkan lebih tegas. Menurutnya, tanpa mekanisme untung-rugi yang benar-benar bekerja di pasar, sebuah organisasi tidak memiliki alat ukur yang objektif untuk mengetahui apakah sumber daya telah digunakan secara efisien. Karena itu, perusahaan milik negara sering kali tidak merasakan disiplin pasar sebagaimana perusahaan swasta.

Di sisi lain, ilmuwan politik James Buchanan, melalui teori Public Choice, menjelaskan bahwa para politisi dan birokrat pada dasarnya juga memiliki kepentingan pribadi sebagaimana manusia lainnya. Karena itu, ketika negara sekaligus menjadi regulator, pelaku usaha, sekaligus penentu aturan permainan, potensi penyalahgunaan kekuasaan akan semakin besar. Wasit tidak seharusnya sekaligus menjadi pemain.

Inilah sebabnya mengapa banyak negara modern memisahkan secara tegas fungsi regulator dengan fungsi operator. Pemerintah membuat aturan, memastikan persaingan berjalan sehat, melindungi konsumen, dan menegakkan hukum. Adapun kegiatan bisnis diserahkan kepada mereka yang memang hidup dari efisiensi dan inovasi.

Apakah negara sama sekali tidak boleh memiliki perusahaan? Tentu tidak. Dalam kondisi tertentu, negara perlu hadir pada sektor-sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak atau ketika pasar gagal memenuhi kebutuhan publik. Namun kehadiran itu harus dibatasi oleh tata kelola yang transparan, akuntabel, profesional, dan bebas dari intervensi politik sehari-hari.

Keuntungan sebuah negara tidak seharusnya diukur dari laba perusahaan yang dimilikinya. Keuntungan negara adalah ketika rakyat memperoleh pendidikan yang baik, layanan kesehatan yang terjangkau, infrastruktur yang memadai, lapangan kerja yang luas, dan kepastian hukum yang adil. Negara menjadi kuat bukan karena menjadi konglomerat terbesar, melainkan karena mampu menciptakan ruang agar masyarakat dapat berusaha secara bebas dan produktif.

Bisnis mempunyai hukumnya sendiri. Ia tidak tunduk pada pidato politik, tidak berubah hanya karena pergantian kekuasaan, dan tidak dapat dipaksa untuk berhasil melalui instruksi administratif. Pasar mungkin dapat diintervensi untuk sementara, tetapi dalam jangka panjang hukum ekonomi selalu menemukan jalannya sendiri.

Karena itu, ukuran keberhasilan pemerintah bukanlah seberapa banyak bisnis yang dimiliki negara, melainkan seberapa besar kesempatan yang diberikan kepada rakyat untuk membangun kesejahteraan mereka sendiri. Negara yang baik bukanlah negara yang bersaing dengan rakyatnya dalam berdagang, tetapi negara yang memastikan rakyat dapat berdagang secara adil, aman, dan sejahtera.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Jumhur Hidayat: Koperasi Desa Merah Putih Akan Hidupkan Ekonomi Hingga Kawasan Hutan

Next Post

Pemalang Riwayatmu Kini: Habis Agung Terbitlah Anom

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Eksepsi Tifa Diterima, Jokowi Tak Perlu Membuktikan Ijazah di Persidangan
Feature

Re-Dakwaan JPU terhadap dr. Tifa: Tahapan Hukum Berlanjut Tanpa Putusan Sela Kedua

July 30, 2026
Pemalang Riwayatmu Kini: Habis Agung Terbitlah Anom
Crime

Pemalang Riwayatmu Kini: Habis Agung Terbitlah Anom

July 30, 2026
Feature

Krisis Qona’ah dan Sindrom Kebebalan Moral dalam Pusaran Korupsi

July 30, 2026
Next Post
Pemalang Riwayatmu Kini: Habis Agung Terbitlah Anom

Pemalang Riwayatmu Kini: Habis Agung Terbitlah Anom

Eksepsi Tifa Diterima, Jokowi Tak Perlu Membuktikan Ijazah di Persidangan

Re-Dakwaan JPU terhadap dr. Tifa: Tahapan Hukum Berlanjut Tanpa Putusan Sela Kedua

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Birokrasi

Ketika Gaji Kepala Daerah Jadi Kambing Hitam

by Karyudi Sutajah Putra
July 30, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Setiap ada kepala daerah ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), gaji...

Read more
Habis Nanik, Terbitlah Hotman

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

July 23, 2026
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Eksepsi Tifa Diterima, Jokowi Tak Perlu Membuktikan Ijazah di Persidangan

Re-Dakwaan JPU terhadap dr. Tifa: Tahapan Hukum Berlanjut Tanpa Putusan Sela Kedua

July 30, 2026
Pemalang Riwayatmu Kini: Habis Agung Terbitlah Anom

Pemalang Riwayatmu Kini: Habis Agung Terbitlah Anom

July 30, 2026
Negara Bukan Pedagang: Mengapa Kekuasaan Sulit Menjadi Pebisnis yang Baik

Negara Bukan Pedagang: Mengapa Kekuasaan Sulit Menjadi Pebisnis yang Baik

July 30, 2026
Jumhur Hidayat: Koperasi Desa Merah Putih Akan Hidupkan Ekonomi Hingga Kawasan Hutan

Jumhur Hidayat: Koperasi Desa Merah Putih Akan Hidupkan Ekonomi Hingga Kawasan Hutan

July 30, 2026

Krisis Qona’ah dan Sindrom Kebebalan Moral dalam Pusaran Korupsi

July 30, 2026

PASAL-PASAL DALAM DRAF RUU ADVOKAT MASIH MENYISAKAN AMBIGUITAS

July 30, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Eksepsi Tifa Diterima, Jokowi Tak Perlu Membuktikan Ijazah di Persidangan

Re-Dakwaan JPU terhadap dr. Tifa: Tahapan Hukum Berlanjut Tanpa Putusan Sela Kedua

July 30, 2026
Pemalang Riwayatmu Kini: Habis Agung Terbitlah Anom

Pemalang Riwayatmu Kini: Habis Agung Terbitlah Anom

July 30, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...