Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Mungkin sudah muak. Mungkin pula sudah mual. Serombongan mahasiswa menggerebek acara diskusi yang menampilkan tiga pejabat tinggi negara sebagai narasumber.
Mereka adalah Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko. Sudaryono bahkan merasa ada yang memukul dirinya.
Ya, acara diskusi nasional bertajuk “Kopdar Bareng Mas Dar” yang digelar di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin (15/6/2026) malam, berakhir ricuh. Ruang diskusi mendadak mencekam setelah serombongan massa merangsek naik ke atas panggung utama.
Insiden ini memaksa petugas keamanan melakukan evakuasi darurat terhadap tiga pejabat tinggi negara itu. Bahkan mereka sampai dikejar-kejar ketika sudah naik mobil.
Dalam diskusi sebelumnya di tempat lain, Budiman Sudjatmiko juga sempat bertengkar dengan mahasiswa sampai-sampai aktivis 1998 itu menghardik dan mengusir mahasiswa yang sedang melontarkan pendapatnya.
Para mahasiswa di UGM itu menilai, ketiga pejabat tersebut tidak berhak bicara Pancasila ketika kebebasan berpendapat masih dibungkam oleh rezim pemerintahan Prabowo Subianto.
Para pejabat itu juga dinilai tidak berhak bicara Pancasila ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menghambur-hamburkan uang negara tidak dihentikan.
Insiden yang terjadi di UGM itu merupakan indikator muaknya rakyat terhadap keberadaan pejabat negara yang suka petantang-petenteng di tengah kesulitan hidup yang mengimpit rakyat. Para mahasiswa itu hanya mengamplifikasi suara rakyat.
Bayangkan jika sampai mahasiswa bertindak brutal. Mahasiswa saja bisa brutal apalagj rakyat awam?
Dus, hati-hati bagi pejabat yang mau menyapa rakyat bahkan berada di tengah-tengah rakyat. Ketika kalian dianggap pongah, rakyat bisa melakukan apa saja.
Rakyat sedang hidup susah. Cari nafkah susah. Harga sembako naik gila. Harga bahan bakar minyak juga naik gila.
Di pihak lain, pemerintah terus menghambur-hamburkan uang negara yang berasal dari pajak rakyat. APBN 80 persennya berasal dari pajak rakyat. MBG dan Koperasi Merah Putih (KMP) adalah program yang dinilai rakyat menghambur-hamburkan uang negara.
Sudah dihamburkan, dikorupsi pula. Kejaksaan Agung telah menangkap tiga pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN), yang menaungi program MBG, sebagai tersangka. Mereka adalah Kepala BGN Dadan Hindayana, serta dua Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung.
Kepala BGN yang baru, Nanik S Deyang, yang sebelumnya Wakil Kepala BGN, juga disebut-sebut terlibat dalam kasus ini.
Pemerintah tak mau mendengar. Program MBG dan KMP jalan terus. Mahasiswa marah. Rakyat marah. Kemarahan itu sudah disuarakan dalam aksi-aksi demonstrasi di Jakarta dan sejumlah daerah, Jumat (12/6/2026) lalu.
Tapi, lagi-lagi pemerintah tak mau mendengar. Akhirnya aksi anarkis yang menyasar pejabat negara menjadi jawaban.
Haruskah ada insiden-insiden lain yang menimpa pejabat negara? Tidak! Maka tak ada cara lain kecuali pemerintah harus mau mendengar suara rakyat. Suara mahasiswa adalah suara rakyat. Suara rakyat adalah suara Tuhan.
Lantas, siapa sanggup melawan suara Tuhan? Tumbangnya rezim Orde Baru pada 21 Mei 1998 merupakan bukti suara rakyat tak bisa dilawan. Sebab suara rakyat adalah suara Tuhan. Vox populi vox Dei!
👏

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)


















