Jakarta, FusilatNews – Momen tak terduga mewarnai peluncuran enam buku sekaligus peringatan Milad ke-66 aktivis senior Isti Nugroho yang digelar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Menteng, Jakarta, Kamis (30/7/2026) malam.
Acara yang dihadiri sejumlah tokoh aktivis lintas generasi itu mendadak diselimuti gelak tawa ketika tokoh Gerakan Malari, Dr. Hariman Siregar, mengawali prosesi pemotongan tumpeng dengan mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahim.”
Ucapan spontan tersebut rupanya mengejutkan sahabat lamanya, Bursah Zarnubi, Bupati Lahat sekaligus Ketua Forum Alumni HMI (FAHMI). Dengan nada bercanda, Bursah langsung menimpali,
“Lho… sudah lama tidak baca Bismillah.”
Komentar itu disambut tawa para tamu undangan yang memenuhi ruang acara.
Bagi sebagian peserta, momen tersebut dinilai menarik mengingat komunitas Indonesian Democracy Monitor (Indemo) yang dipimpin Hariman Siregar selama ini sering dipersepsikan sebagai kelompok aktivis dengan latar pemikiran sekuler dan kritis terhadap kekuasaan. Meski demikian, sejumlah kolega Hariman mengingatkan bahwa tokoh Malari tersebut dikenal telah menunaikan ibadah haji sebanyak lima kali sejak era Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara.
Kilas Balik Aktivisme Orde Baru
Dalam sambutannya, Bursah Zarnubi mengenang perjalanan aktivisme bersama Isti Nugroho pada masa Orde Baru.
Ia mengaku mengetahui penangkapan Isti di Yogyakarta yang dikaitkan dengan peredaran buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer.
Bursah juga menceritakan pengalaman pribadinya yang kerap dianggap berada di spektrum kiri maupun kanan.
“Saya pernah mengagumi Ayatollah Khomeini dan Fidel Castro. Ada yang menganggap saya ekstrem kanan, tetapi saya juga pernah ditangkap dengan tuduhan PKI hanya karena berdiskusi dengan HM Fatwa,” ujarnya.
Menurut Bursah, dirinya kemudian memilih jalur politik praktis melalui Partai Bintang Reformasi (PBR), sementara Hariman Siregar tetap mempertahankan posisi di luar partai politik.
“Isti dipercaya Hariman mengelola Indemo yang konsisten berada di luar jalur partai,” katanya.
Hariman Kenang Pramoedya dan Isti Nugroho
Hariman Siregar dalam pidatonya juga mengenang masa-masa penahanan Isti Nugroho yang disebut pernah dipenjara selama delapan tahun di Nusakambangan.
Ia turut mengisahkan pengalamannya menangani sastrawan Pramoedya Ananta Toer ketika mengalami gangguan hernia setelah keluar dari Pulau Buru.
Menurut Hariman, Pramoedya sempat khawatir menjalani operasi karena takut menjadi korban aparat keamanan. Namun setelah operasi dilakukan oleh dokter dari kalangan militer, kondisi kesehatannya justru membaik.
Hariman juga menyinggung perjalanan panjang para aktivis yang menurutnya tetap konsisten memperjuangkan gagasan meskipun tidak selalu memperoleh jabatan politik.
“Isti tetap konsisten dengan perjuangannya sehingga tidak memilih jalan menjadi menteri,” ujarnya.
Iwan Sumule: Dipenjara Karena Buku
Sebelum prosesi pemotongan tumpeng dan pembacaan puisi ulang tahun Isti Nugroho bersama keluarganya, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Iwan Sumule turut memberikan sambutan.
Menurutnya, Isti Nugroho pernah dipenjara hanya karena perbedaan pandangan terhadap isi buku yang beredar pada masa itu.
Pernyataan tersebut memunculkan beragam respons di kalangan peserta. Sebagian menilai pernyataan itu terlalu menyederhanakan kompleksitas sejarah politik Indonesia pada masa Orde Baru, yang juga diwarnai berbagai konflik ideologis dan tragedi nasional, termasuk peristiwa 1965 serta pembunuhan enam Pahlawan Revolusi.
Peluncuran enam buku karya Isti Nugroho itu sendiri berlangsung dalam suasana penuh nostalgia, dihadiri para aktivis lintas generasi yang mengenang perjalanan panjang gerakan demokrasi Indonesia dari era Orde Baru hingga masa reformasi.























