• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Prabowo: Kritik Tak Digubris – Penderitaan Bangsa Lain Direduksi

Yaman dalam Lelucon Kekuasaan: Ketika Presiden Kehilangan Kepekaan Global

Ali Syarief by Ali Syarief
May 3, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Bobby Kertanegara: Simbol Transformasi Prabowo dari Kerasnya Medan Perang ke Kasih Sayang
Share on FacebookShare on Twitter

Pernyataan Prabowo Subianto yang mempersilakan orang-orang “kabur ke Yaman” bukan sekadar celetukan spontan dalam forum publik. Ia adalah cermin dari cara pandang kekuasaan yang problematik: simplistik, defensif, dan—yang paling mengkhawatirkan—kehilangan empati dalam lanskap global yang penuh luka.

Yaman bukan metafora kosong. Ia adalah negeri yang selama bertahun-tahun dihantam perang, kelaparan, dan kehancuran sistemik. Ketika nama Yaman digunakan sebagai bahan sindiran untuk merendahkan kritik domestik, yang terjadi bukan sekadar retorika politik. Itu adalah bentuk reduksi atas penderitaan sebuah bangsa menjadi alat komunikasi kekuasaan.

Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal siapa yang benar antara narasi “Indonesia gelap” dan “Indonesia terang”. Persoalannya adalah: pantaskah seorang kepala negara menjadikan tragedi kemanusiaan negara lain sebagai bahan retorika untuk membungkam kritik?


Retorika yang Tergelincir

Dalam politik, satire dan ironi memang bukan hal baru. Namun ada garis tipis antara kritik tajam dan kelalaian moral. Ketika Presiden berkata, “kalau mau kabur, kabur saja ke Yaman,” ia sedang melakukan dua hal sekaligus:

Pertama, meremehkan kritik dengan cara yang tidak substantif.
Kedua, tanpa sadar merendahkan realitas tragis sebuah bangsa.

Padahal, seorang presiden bukan sekadar komunikator politik. Ia adalah representasi moral sebuah negara. Ucapannya tidak hanya dikonsumsi publik domestik, tetapi juga beresonansi dalam hubungan internasional.


Empati yang Hilang dalam Kekuasaan

Wanita Yaman

Kita hidup di dunia yang saling terhubung. Krisis di Yaman bukan sekadar berita luar negeri—ia adalah bagian dari tragedi kemanusiaan global. Indonesia, sebagai negara yang kerap mengusung diplomasi kemanusiaan dan solidaritas dunia Islam, seharusnya berdiri pada posisi empatik, bukan menjadikan penderitaan itu sebagai alat retorika.

Apa jadinya jika pemimpin negara lain menggunakan nama Indonesia—misalnya saat bencana atau krisis—sebagai bahan olok-olok politik? Kita tentu akan tersinggung, bahkan marah. Maka, standar etika yang sama seharusnya berlaku.


Kritik Bukan Ancaman

Ada kecenderungan berbahaya dalam pernyataan tersebut: kritik diposisikan sebagai gangguan, bahkan ancaman, bukan sebagai bagian dari ekosistem demokrasi. Kalimat “biar kita enggak gaduh” menyiratkan bahwa keberadaan kritik dianggap mengganggu stabilitas.

Padahal, dalam negara demokrasi, justru kritiklah yang menjaga agar kekuasaan tidak terjerumus dalam kesewenang-wenangan. Mengusir kritik—meski hanya secara retoris—adalah tanda awal dari keengganan untuk dikoreksi.


Bahaya Normalisasi Sinisme

Lebih jauh, ucapan semacam ini berisiko menormalisasi sinisme dalam ruang publik. Jika seorang presiden saja bisa dengan ringan menyebut negara lain dalam konteks merendahkan, maka publik pun bisa mengikuti pola yang sama. Pada akhirnya, kita membangun budaya komunikasi yang keras, dangkal, dan minim empati.

Dan di situlah letak bahaya terbesar: bukan pada satu kalimat, tetapi pada standar moral yang perlahan diturunkan.


Menjadi Besar Tanpa Merendahkan

Kepemimpinan sejati tidak diukur dari seberapa keras ia membalas kritik, tetapi dari seberapa bijak ia meresponsnya. Indonesia tidak perlu terlihat “terang” dengan cara meredupkan negara lain. Justru sebaliknya, kebesaran sebuah bangsa tercermin dari kemampuannya untuk tetap rendah hati di tengah kritik, dan tetap empatik di tengah perbedaan.

Ucapan Presiden Prabowo seharusnya menjadi pengingat: bahwa dalam politik, kata-kata bukan sekadar alat, tetapi juga cermin. Dan dari cermin itu, publik berhak menilai—apakah yang tampak adalah kebijaksanaan, atau justru kecerobohan yang dibungkus kekuasaan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mafia Peradilan di Pemalang: Dugaan Pemerasan Berantai Oknum Polisi dan Jaksa Mencuat

Next Post

Perang Iran Membakar Inflasi AS: Angka 3,6% Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Repositioning IKIP in Indonesia’s Learning Ecosystem

June 16, 2026
Feature

Divided education is failing Muslim Societies

June 16, 2026
DPR dan BGN Belum Berubah
Feature

DPR dan BGN Belum Berubah

June 16, 2026
Next Post
Perang Iran Membakar Inflasi AS: Angka 3,6% Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

Perang Iran Membakar Inflasi AS: Angka 3,6% Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Qiamat Terjadi Ketika Tugas Dikerjakan Oleh Yang Bukan Akhlinya

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tangkap Tiyo Ardianto!
Feature

Tangkap Tiyo Ardianto!

by Karyudi Sutajah Putra
June 16, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta -  Dalam hati mungkin Tiyo Ardianto memang ingin...

Read more
Mahasiswa Memasuki Kawasan Monas Teriak Jokowi Offside

Ketika Mahasiswa Sudah Muak Lihat Pejabat Negara

June 16, 2026
Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral

Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral

June 15, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Repositioning IKIP in Indonesia’s Learning Ecosystem

June 16, 2026

Divided education is failing Muslim Societies

June 16, 2026
DPR dan BGN Belum Berubah

DPR dan BGN Belum Berubah

June 16, 2026

Ketika Organisasi Tua Masih Peduli pada Dapur Bangsa (Membaca Surat Terbuka KOSGORO tentang Makan Bergizi Gratis)

June 16, 2026
Forum Sarasehan KOSGORO Sampaikan Delapan Rekomendasi Penguatan Program Makan Bergizi Gratis kepada Presiden

Forum Sarasehan KOSGORO Sampaikan Delapan Rekomendasi Penguatan Program Makan Bergizi Gratis kepada Presiden

June 16, 2026

PRABOWO PERLU MENGUMUMKAN NATIONAL CONTINGENCY PLAN

June 16, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Repositioning IKIP in Indonesia’s Learning Ecosystem

June 16, 2026

Divided education is failing Muslim Societies

June 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...