Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Maksud hati menuai simpati, apa daya yang didapat antipati.
Demikianlah yang terjadi dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Lapangan Monas, Jakarta, Jumat (1/5/2025), yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto.
Dalam pidatonya yang berapi-api di hadapan puluhan ribu buruh, Prabowo pun bertanya: Program MBG (Makan Bergizi Gratis) bermanfaat atau tidak?
Para buruh pun serentak menjawab: tidak!
Itulah tamparan keras para buruh terhadap muka Prabowo. Sedemikian kerasnya, sampai-sampai bekas Komandan Jenderal Kopassus itu pun menghentikan pidatonya beberapa detik sebelum akhirnya dilanjutkan. Mungkin ia merasa telah kehilangan muka.
Betapa tidak? Peristiwa itu terjadi di ruang publik. Bahkan ada stasiun televisi yang menyiarkannya secara langsung. Sontak, peristiwa tersebut langsung viral di media sosial.
Mungkin pihak Istana tidak melakukan rekayasa atau setting terlebih dulu sebelum Prabowo berpidato. Atau katakanlah sudah disetting, tapi siapa yang bisa menjamin puluhan ribu buruh itu akan kompak mengiyakan isi pidato Prabowo?
Tapi, semua buruh peserta aksi di Monas itu, baik yang teriak menjawab “tidak” atau yang diam saja, semua mendapat bingkisan sembako dari Istana. Lumayan!
Jujur
Suara kaum buruh memang jujur, mewakili ratusan juta rakyat Indonesia yang menganggap program MBG tidak ada manfaatnya. Hanya menguntungkan pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Mayoritas politisi yang dekat dengan penguasa.
Selebihnya, MBG itu banyak yang mubazir karena siswa tidak mau mengonsumsi makanan yang baik gizi maupun rasanya di bawah standar karena anggarannya telah disunat di mana-mana.
Lebih dari itu, MBG justru lebih banyak membawa mudarat. Selain banyak siswa keracunan, anggarannya juga memotong anggaran pendidikan. Anggaran itu kemudian dibuang-buang. Dibuat bancakan. Bayangkan, anggaran MBG 1 hari 1 triliun rupiah.
Anggaran sebesar itu mengapa tidak dialokasikan saja buat pendidikan gratis dan kesehatan gratis?
Pun ada ketidakadilan di MBG. Anggaran kaus kaki saja 1 pasang 100 ribu rupiah. Bandingkan dengan gaji guru honorer yang 1 bulan cuma 300 ribu rupiah, misalnya.
SPPG yang nonaktif juga dapat kompensasi 6 juta rupiah per hari. Memangnya duitnya Mbah-mu?
Kaum buruh jujur. MGB tak ada manfaatnya bagi rakyat. Malah jadi ajang bancakan pejabat. Benar kata orang, MBG adalah Menipu Berdalih Gizi.
Tapi Prabowo tak perduli. Ia bersumpah tetap akan melanjutkan program MBG. Keras kepala.
Mungkin karena saking keras kepalanya Prabowo itulah sampai-sampai kaum buruh harus menampar mukanya dengan menjawab “tidak” ketika ditanya apakah MBG bermanfaat atau tidak.
Mungkin Prabowo perlu tamparan lebih keras lagi jika setelah ini dia tetap melanjutkan prgram MBG yang memang tidak bermanfaat bagi rakyat dan hanya menguntungkan pejabat itu.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)





















