• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

HARGA DIRI PETANI DAN HARGA DIRI BANGSA: Ketika Impor Beras Dihentikan

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
March 8, 2026
in Economy, Feature
0
“DEMURRAGE” BERAS BULOG
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastraatmadja

Impor beras berarti Indonesia membeli beras dari negara lain karena produksi dalam negeri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kondisi ini bisa terjadi karena berbagai faktor, seperti gagal panen, meningkatnya konsumsi, atau lemahnya infrastruktur pertanian. Namun bagi sebuah bangsa agraris seperti Indonesia, impor beras jelas bukanlah keadaan yang membanggakan.

Selama ini, impor beras masih menjadi topik yang hangat di Indonesia. Berdasarkan data yang ada, Indonesia masih mengimpor beras dari sejumlah negara, terutama dari Vietnam dan Thailand. Pada tahun 2024, impor beras Indonesia mencapai 3,85 juta ton, meningkat sekitar 52 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Negara asal impor beras utama antara lain:

  • Thailand : 1,19 juta ton (30,97%)

  • Vietnam : 1,12 juta ton (29,10%)

  • Myanmar : 663,41 ribu ton (17,24%)

  • Pakistan : 642,14 ribu ton (16,69%)

  • India : 205,80 ribu ton (5,35%)

Impor tersebut terpaksa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri sekaligus menjaga stabilitas harga. Di sisi lain, pemerintah juga berupaya meningkatkan produksi beras nasional melalui modernisasi pertanian serta dukungan teknologi bagi petani, dengan harapan Indonesia mampu kembali mencapai swasembada beras dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Sebelum tahun 2025, impor beras seolah menjadi kebutuhan yang tak terelakkan. Impor dibenci, namun tetap direstui. Di satu sisi, impor memang membantu memenuhi kebutuhan pangan dan menahan lonjakan harga. Namun di sisi lain, kebijakan ini sering dianggap merugikan petani lokal karena harga beras impor yang lebih murah membuat produk petani domestik menjadi kurang kompetitif.

Dalam kondisi seperti itu, pemerintah seakan berjalan di atas tali: harus menyeimbangkan kepentingan konsumen sekaligus melindungi petani. Impor terkadang dianggap sebagai solusi cepat, namun pada saat yang sama pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan tersebut dengan meningkatkan produksi dalam negeri. Pemerintahan Presiden Prabowo tampak ingin mengubah kondisi tersebut.

Sejak tahun lalu, ketika kebijakan penghentian impor beras mulai ditempuh, gambaran yang muncul cukup menggembirakan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sepanjang tahun 2025 Indonesia tidak lagi melakukan impor beras konsumsi, meskipun impor beras untuk kategori khusus masih dilakukan.

Lebih membanggakan lagi, hingga 31 Desember 2025, Indonesia kembali mampu mencatatkan diri sebagai negara yang berswasembada beras.

Setelah impor beras dihentikan, pemerintah seharusnya semakin fokus pada peningkatan produksi beras dalam negeri. Beberapa langkah yang perlu ditempuh antara lain:

Pertama, memperkuat dukungan kepada petani lokal melalui subsidi, akses teknologi, serta perluasan akses pasar.

Kedua, melakukan modernisasi pertanian dengan penerapan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi.

Ketiga, memperbaiki pengelolaan lahan serta infrastruktur irigasi agar pemanfaatan lahan pertanian lebih optimal.

Keempat, menjaga stabilitas harga dengan memantau pergerakan harga beras dan melakukan intervensi jika diperlukan, demi melindungi petani sekaligus konsumen.

Kelima, meningkatkan kualitas beras lokal agar lebih kompetitif di pasar domestik maupun internasional.

Namun demikian, gonjang-ganjing soal impor beras kembali muncul. Isu berkembang bahwa pemerintah berencana mengimpor beras kategori khusus dari Amerika Serikat, sebagai bagian dari tindak lanjut kesepakatan antara Presiden Prabowo dan Presiden Donald Trump. Kabar ini cepat beredar, terlebih ketika dikaitkan dengan komitmen politik bahwa mulai tahun 2026 Indonesia tidak akan lagi menempuh kebijakan impor beras.

Bagi petani, penghentian impor beras adalah sumber kebanggaan tersendiri. Ketika impor dihentikan, produk mereka mendapatkan ruang pasar yang lebih luas. Harga beras lokal cenderung membaik, sehingga pendapatan petani meningkat. Di saat yang sama, petani merasa bahwa negara benar-benar hadir melindungi sektor pertanian nasional.

Rasa dihargai inilah yang membuat petani lebih percaya diri terhadap hasil produksi mereka. Semangat untuk meningkatkan produksi dan kualitas beras pun ikut tumbuh.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana sikap petani ketika muncul isu bahwa pemerintah akan mengimpor 1.000 ton beras dari Amerika Serikat?

Kemungkinan besar respons petani tidak akan positif. Petani lokal khawatir impor tersebut akan kembali menekan harga beras domestik dan meningkatkan persaingan yang tidak seimbang. Sebagaimana diketahui, beras impor sering kali dijual dengan harga lebih murah sehingga membuat petani lokal sulit bersaing.

Dalam situasi seperti itu, petani bisa saja menilai pemerintah tidak cukup melindungi sektor pertanian nasional dan lebih berpihak pada kepentingan stabilisasi harga bagi konsumen. Karena itu, tidak menutup kemungkinan munculnya tuntutan agar pemerintah membatasi atau bahkan menghentikan kembali kebijakan impor beras.

Meski demikian, perlu diingat bahwa pemerintah juga memikul tanggung jawab besar untuk menjaga ketersediaan pangan serta stabilitas harga di pasar. Oleh sebab itu, kebijakan pangan harus benar-benar mempertimbangkan keseimbangan antara perlindungan terhadap petani dan kepentingan konsumen.

Sebab pada akhirnya, ketika petani bangga, sesungguhnya bangsa ini sedang menjaga harga dirinya sendiri.

(Penulis, Anggota Dewan Pakar DPN HKTI)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

ESKATOLOGI DI BALIK MESIU

Next Post

Ketika “Dewan Perdamaian” Lankahnya Perang

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Apa Kata JK Soal Pernyataan Toxic LBP?

Ketika “Dewan Perdamaian” Lankahnya Perang

Di Manakah Rasa Kemanusiaanmu?

Di Manakah Rasa Kemanusiaanmu?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...