Jakarta, Fusilatnews — Sebuah pengakuan dari model asal Kalimantan, Helwa Bachmid, kembali mengguncang ruang publik Indonesia. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Helwa membeberkan isi pernikahan siri yang ia jalani dengan pendakwah kontroversial Habib Bahar bin Smith—hubungan yang selama ini tidak diketahui publik, dan menurut Helwa, sengaja ditutup rapat-rapat oleh pihak suami.
Unggahan Helwa yang diberi judul Happy Anniversary yang menyakitkan itu memuat foto momentum pernikahan mereka, lengkap dengan gaun pengantin putih, ronce melati, dan suasana akad yang tertata. Namun di balik visual yang tampak membahagiakan, Helwa menuliskan narasi yang justru penuh luka.
“Nggak nyangka ya kamu menutupi pernikahan kita udah satu tahun dan selama satu tahun ini hidup aku penuh kamu buat menderita,” tulis Helwa, Sabtu (15/11/2025). Helwa juga menyatakan bahwa ia telah memberikan izin kepada Warta Kota untuk mengutip curahan hatinya itu.
Pernyataan tersebut membuka pintu bagi serangkaian pertanyaan baru tentang bagaimana hubungan tersebut terjalin, mengapa pernikahan itu dirahasiakan, dan apakah ada ketimpangan relasi yang membuat Helwa tidak berdaya untuk bersuara lebih awal.
Awal Pertemuan: Antara Kekaguman dan Otoritas Religius
Dalam curahannya, Helwa mengisahkan bagaimana awal mula ia didekati oleh Habib Bahar. Sebagai pendakwah yang dikenal luas dan memiliki basis pengikut yang besar, Bahar disebut datang dengan niat melamar dan membimbing.
Bagi Helwa—yang saat itu tengah mencari ketenangan spiritual—lamaran itu tampak sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih religius dan terarah. Ia membayangkan akan menjadi bagian dari keluarga yang memuliakan nilai agama.
Namun dalam pengakuannya, ekspektasi itu perlahan berubah menjadi jeratan emosional.
“Saya kira akan dibimbing,” ujar Helwa dalam salah satu tangkap layar pesannya. “Ternyata dibungkam.”
Pernikahan Siri: Ritual Sah yang Menjadi Senjata Senyap
Pernikahan siri yang dijalani Helwa dan Habib Bahar memang sah menurut agama. Namun Helwa menegaskan bahwa tak satu pun dari keluarga ataupun pengikut Bahar yang pernah diberitahu tentang pernikahan itu.
Pernikahan mereka berlangsung sederhana dan tertutup—yang kemudian menurut Helwa, berubah menjadi pola penutupan selama satu tahun penuh. Ia menyebut dirinya diperlakukan seperti istri cadangan, istri simpanan, atau figur yang keberadaannya harus selalu dibungkam.
Dalam analisis investigatif, pola hubungan seperti ini umum terjadi ketika satu pihak—biasanya figur publik—memiliki posisi sosial dan religius yang jauh lebih besar daripada pasangannya. Ketimpangan kuasa menciptakan ruang ideal bagi relasi yang tidak setara, di mana pihak yang lebih lemah merasa tidak memiliki kontrol atas hidupnya.
Keterangan Helwa: Ditelantarkan Saat Mengandung, Tidak Dinafkahi
Bagian paling serius dari pengakuan Helwa adalah terkait masa kehamilannya. Ia menyebut bahwa selama mengandung, ia justru ditinggalkan dan tidak diberikan nafkah lahir maupun batin.
Klaim ini bukan hanya merupakan bentuk pelanggaran etika dalam hubungan pernikahan, tetapi juga dapat berdampak hukum bila perempuan terbukti dirugikan secara ekonomi dan psikologis.
Dalam unggahan lanjutan, Helwa menuliskan bahwa ia menjalani kehamilan dalam kondisi tertekan, tanpa dukungan dari pihak yang seharusnya menjadi pasangan sahnya.
“Yang tahu saya hamil cuma saya. Yang ngerti rasa sakit saya cuma Tuhan,” tulis Helwa.
Motif Penyembunyian? Investigasi Mengarah pada Dua Kemungkinan
Berdasarkan pola umum kasus pernikahan siri figur publik, terdapat beberapa kemungkinan mengapa hubungan tersebut dirahasiakan:
1. Perlindungan Citra Publik
Pernikahan baru—terutama jika terjadi ketika masih memiliki istri lain—sering dianggap dapat merusak reputasi figur publik. Dalam kasus Habib Bahar yang sudah memiliki basis pengikut kuat, narasi tentang poligami siri yang tidak diakui bisa menimbulkan gesekan internal pada komunitasnya.
2. Pengendalian Akses dan Ketergantungan Emosional
Beberapa pengamat hubungan menyebut bahwa penyembunyian sering dilakukan untuk mempertahankan kontrol terhadap pihak pasangan, khususnya jika pasangan tidak memiliki dukungan sosial yang kuat. Dalam konteks ini, Helwa—yang jauh dari kampung halaman—mungkin berada dalam posisi rentan.
Tidak ada kesimpulan mutlak, tetapi rangkaian peristiwa menunjukkan bahwa posisi Helwa dalam hubungan tersebut tidak seimbang.
Mengapa Helwa Baru Bicara Sekarang?
Pertanyaan lain yang banyak muncul di publik adalah mengapa Helwa memilih membuka semuanya pada momen “anniversary”. Menurut catatan psikologis, momen perayaan hubungan sering memicu refleksi emosional mendalam. Bila hubungan tersebut penuh luka, momen itu justru menjadi titik pecah.
Helwa sendiri menulis bahwa ia “sudah lelah diam”.
Dalam investigasi, fenomena delayed disclosure atau keterlambatan pengungkapan adalah hal umum, terutama dalam kasus relasi yang diwarnai otoritas religius, tekanan psikologis, dan perasaan takut tidak dipercaya oleh publik.
Reaksi Publik: Gelombang Kritik dan Pertanyaan Moral
Pengakuan Helwa memicu gelombang respons yang beragam. Sebagian besar netizen menunjukkan empati dan menganggap Helwa telah menanggung beban yang tidak adil. Banyak pula yang mempertanyakan integritas moral Habib Bahar sebagai figur publik—terutama karena ia dikenal sebagai pendakwah yang memiliki basis pengikut sangat fanatik.
Komentar seperti, “Bagaimana bisa seorang habib memperlakukan istri seperti itu?” dan “Kenapa pengikutnya masih membela?” memenuhi kolom komentar.
Namun sebagian kecil warganet tetap membela Bahar, menunjukkan bagaimana loyalitas terhadap figur religius sering kali melampaui logika ataupun bukti.
Belum Ada Respons dari Pihak Habib Bahar
Hingga laporan investigatif ini disusun, pihak Habib Bahar bin Smith belum memberikan pernyataan resmi. Tidak ada klarifikasi, bantahan, ataupun verifikasi yang disampaikan kepada publik.
Ketiadaan respons ini justru menambah ketidakpastian, sekaligus memperkuat keinginan publik untuk mengetahui duduk perkara sebenarnya.
Penutup: Suara Helwa Membuka Babak Baru
Kasus ini bukan sekadar drama personal. Pengakuan Helwa membuka babak diskusi baru tentang:
penyalahgunaan otoritas religius,
kerentanan perempuan dalam pernikahan siri,
dan struktur sosial yang memungkinkan ketidakadilan berlangsung dalam diam.
Pengungkapan ini menuntut respons, bukan hanya dari Habib Bahar bin Smith, tetapi juga dari masyarakat yang selama ini menempatkan figur religius pada pedestal tak tersentuh.
Karena pada akhirnya, kesalehan tidak pernah ditentukan oleh gelar, tetapi oleh tanggung jawab seseorang terhadap manusia yang menjadi pasangan hidupnya.
























