• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

TAKDIR INDONESIA GAGAL (MENURUT NUSRON WAHID)

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
November 17, 2025
in Feature, Tokoh/Figur
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Saya senang pada Menteri Purbaya dan Amran. Dua nama itu, entah bagaimana, menimbulkan sesuatu yang jarang hadir dalam percakapan publik kita: harapan. Dari mereka kita mendengar nada yang membuat orang kecil menghela napas sedikit lebih ringan. Bahwa ekonomi bisa dipulihkan, bahwa petani tidak selamanya akan dihajar impor yang membabi-buta, bahwa pajak tidak lagi dikejar dari mereka yang hidupnya pas-pasan. Kita tidak tahu apakah ikhtiar itu kelak berwujud atau tinggal gema yang lenyap di lorong kekuasaan, tetapi sedikitnya keduanya membuat rakyat bekerja dengan sejumput optimisme yang, selama ini, terasa mahal.

Tetapi aura semacam itu tidak memancar dari Nusron Wahid, Menteri ATR/Kepala BPN. Ia memilih kalimat lain, yang jatuh di telinga seperti vonis yang tak bisa dibantah: “Mafia tanah sulit diberantas. Sampai kiamat kurang dua hari pun masih ada.” Kalimat itu melayang seperti debu yang tidak mau turun, menggantung di ruang publik, menimbulkan rasa getir yang sukar dielakkan. Bukan karena kita baru tahu bahwa pertarungan atas tanah adalah cerita paling tua dalam sejarah republik ini, melainkan karena seorang pejabat yang memegang seluruh kunci dari persoalan itu justru menyatakan bahwa pintunya mustahil dibuka.

Ada sesuatu yang janggal ketika seorang menteri mengakui ketidakberdayaan di wilayah yang seharusnya menjadi medan kuasanya. Itu seperti seorang nakhoda yang berdiri di atas geladak kapal, menatap badai, lalu berkata kepada penumpang bahwa ombak tak bisa dilawan. Bahwa laut memang begitu dari dulu. Bahwa kapal akan selalu bocor karena “begitulah takdirnya.” Kita mungkin bisa memahami ketakutan seorang nakhoda, tetapi kita tak bisa menerima ketika ketakutannya ia ubah menjadi dogma negara.

Pernyataan itu membawa gema dari narasi yang lebih besar: narasi tentang negara yang tak lagi percaya pada dirinya sendiri. Negara yang, alih-alih melawan penyakit dalam tubuhnya, memilih menjadi komentator yang datar. Negara yang bicara tentang dirinya seperti orang asing membicarakan cuaca: hujan turun, angin datang, mafia tanah tetap hidup. Kalimat itu bukan sekadar pernyataan; ia semacam pengunduran diri simbolik dari tugas yang paling elementer.

Dalam nada yang pelan dan menyakitkan, ia terdengar seperti bisikan: kami tidak sanggup, dan kalian harus menerimanya.

Padahal mafia tanah bukanlah makhluk gaib yang menjelma dari kabut. Mereka bukan roh penasaran yang kembali meski sudah diusir dengan mantra hukum. Mereka manusia biasa: pemegang stempel, pejabat yang menguasai data, PPAT yang menutup mata, aparat yang bersedia “mengawal,” dan para perantara yang menukar moral dengan keuntungan sesaat. Mereka bekerja dengan dokumen, bukan dengan sihir. Dan semua dokumen itu berada dalam lingkup kuasa lembaga yang kini mengibarkan bendera putih.

Karena itu pernyataan Nusron terasa seperti paradoks yang menohok. Kepala BPN mengatakan lembaga yang ia pimpin tak mampu mengatasi kejahatan yang justru tumbuh melalui jalur yang ia kuasai. Dan kita tahu, atau setidaknya kita ingin percaya, bahwa negara tak boleh tunduk pada jaringan yang sebagian besarnya justru lahir dari kelalaian, kompromi, atau diamnya aparat negara selama bertahun-tahun. Pada titik itu, kalimat Nusron berhenti terdengar sebagai analisis; ia berubah menjadi permintaan maaf yang dipoles. Seperti seseorang yang berkata ia tak bisa mengejar maling karena “maling selalu lebih cepat.”

Dalam politik Indonesia, nada semacam itu bukan hal baru. Kita telah terlalu sering mendengar pejabat berbicara seperti nabi pesimistis: korupsi akan selalu ada, kemiskinan tak dapat sepenuhnya diberantas, pungli adalah tradisi, hukum berjalan lambat, demokrasi memerlukan waktu. Jarang kita mendengar seorang menteri berkata: saya bertanggung jawab dan saya akan menyelesaikannya. Yang lebih sering adalah: masalah ini tak mungkin selesai, jadi jangan salahkan saya jika ia tetap terjadi.

Dan di sinilah gelapnya itu muncul: normalisasi kegagalan. Ketika pejabat negara mengatakan patologi “akan selalu ada,” ia tak sedang menggambarkan realitas; ia sedang memaafkan keadaan yang tak ingin ia ubah. Kalimat seperti itu membuat negara tampak berdamai dengan penyakitnya sendiri.

Goenawan Mohamad pernah menulis bagaimana bahasa bisa membentuk dunia. Di sini, bahasa Nusron membentuk dunia yang keliru: dunia di mana tuntutan publik dianggap berlebihan, perbaikan dianggap mustahil, dan mafia tanah dianggap setara dengan hukum alam. Bahasa itu membuat publik lelah, membuat aparat yang jujur kehilangan arah, dan memberi sinyal aman kepada mereka yang hidup di dalam jaringan gelap itu.

Yang paling mengganggu adalah pergeseran makna tanggung jawab. Di tangan pejabat kita, tanggung jawab sering berubah menjadi kemampuan merangkai alasan yang terdengar puitis. Padahal birokrasi tidak bergerak oleh alasan; ia hanya bergerak oleh keputusan, oleh risiko, oleh keberanian untuk menabrak kepentingan yang berdiam di ruang yang paling lembut sekalipun.

BPN memegang kekuasaan yang nyaris absolut: data nasional, peta spasial, sistem sertifikasi, register hak, pengawasan PPAT, sampai urusan tanah negara. Dengan perangkat sebesar itu, sulit menerima bahwa mafia tanah adalah sesuatu yang tak bisa diubah. Jika mereka masih hidup, itu karena sistem membiarkan mereka hidup.

Di negara lain, pernyataan seperti itu akan mengundang badai politik. Menteri akan dipanggil parlemen, dituntut menunjukkan peta penyelesaian, didesak memilih antara memimpin atau mundur. Tetapi di republik yang sering menebus kekurangannya dengan kelakar, kalimat seperti itu berlalu seperti angin. Kita belajar menerima keputusasaan pejabat sebagai humor. Padahal ia lebih mirip peringatan tentang betapa rapuhnya fondasi negara.

Dan pada akhirnya ini bukan hanya tentang Nusron Wahid. Ini tentang kita. Tentang rakyat yang terbiasa menyesuaikan ekspektasi dan berhenti menuntut. Kita marah pada mafia tanah, tetapi diam ketika hukum tidak berjalan. Demokrasi pun mengecil menjadi ruang dengan harapan yang minimal.

Tanah bukan sekadar benda mati. Ia sejarah, ruang hidup, identitas, luka, dan janji. Ketika negara menyerah pada mafia tanah, ia menyerah pada sebagian besar makna keberadaannya sendiri.

Karena itu, pernyataan Nusron bukan semata soal mafia tanah. Ia adalah simbol krisis legitimasi birokrasi. Sebuah tanda bahwa negara semakin sering menghindar dari dirinya sendiri—dari kewajiban paling sederhana untuk melindungi.

Mungkin ada yang berkata Nusron jujur. Tetapi kejujuran tanpa solusi bukanlah kebajikan; ia hanyalah bentuk baru dari ketakutan. Seperti kata Pramoedya, kebenaran hanya bisa hidup dalam tindakan. Dan tindakan tidak lahir dari kalimat yang telah menyerah sebelum perang dimulai.

Pada titik tertentu, kita mulai melihat jejak feodalisme dalam cara berpikir pejabat kita. Ketika mereka bicara tentang “takdir,” sesungguhnya mereka sedang menempatkan kekuasaan sebagai panggung, bukan alat perbaikan. Publik pun didorong menjadi penonton yang pasif. Dan negara, yang mestinya bekerja untuk kita, mendikte bahwa kemunduran adalah sesuatu yang wajar.

Padahal tak ada takdir bernama mafia tanah. Yang ada hanyalah keputusan—dan keberanian yang tak kunjung datang.===

Cimahi, 15 November 2025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Cara Pandang Amerika dan China terhadap Indonesia: Antara Pesona Prabowo dan Realitas Geopolitik

Next Post

MEMPERJUANGKAN OTONOMI KEPOLISIAN

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Feature

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat
Feature

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo
Feature

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026
Next Post

MEMPERJUANGKAN OTONOMI KEPOLISIAN

Gibran Syah Secara Legal (Hans Kelsen) dan Akan Rubuh Karena Tidak Legitimate (Max Weber)

Akankah Bangsa Ini Bersatu Menolak Gibran Dilantik Menjadi RI-1?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026
Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

July 28, 2026

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...