Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Rencana Indonesia mengimpor 105.000 kendaraan niaga atau pikap senilai Rp24,66 triliun dari India untuk mendukung operasional Koperasi Desa Merah Putih makin mempertegas wajah ganda Presiden Prabowo Subianto: hitam-putih!
Putih? Konon, Prabowo hendak mendorong laju industri otomotif dalam negeri. Hitam? Faktanya, jika rencana impor itu terealisasi, maka Prabowo sesungguhnya membunuh industri otomotif dalam negeri.
Padahal, Kadin Indonesia siap memproduksi mobil pikap dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan operasional Koperasi Desa Merah Putih.
Lantas, siapa yang akan diuntungkan? Siapa lagi kalau bukan para pemburu rente. Entah siapa yang sudah main mata dengan para pemburu rente itu.
Prabowo juga menyetujui impor 1.000 ton beras khusus dan 580.000 ekor ayam dari Amerika Serikat (AS). Beras khusus? Bolehlah. Tapi ayam? Para peternak dalam negeri pasti akan menjerit. Lagi-lagi, para pemburu rente yang diuntungkan, di samping Prabowo tak berdaya menghadapi tekanan AS.
Lalu, program Makan Bergizi Gratis (MBG). Katanya mau memberdayakan perekonomian rakyat di samping memperbaiki gizi untuk mencegah stunting. Faktanya, para pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hanya mereka yang punya akses ke kekuasaan, terutama politikus yang terafiliasi dengan presiden. Modalnya pun miliaran rupiah. Mana mungkin rakyat kecil punya modal sebesar itu?
Celakanya lagi, para pedagang kecil, petani, peternak atau nelayan tak bisa memasok barang ke SPPG jika tak terafiliasi atau melalui yayasan tertentu yang dimiliki politikus tertentu.
Itu di sektor ekonomi. Di sektor hukum, Prabowo juga berwajah ganda. Hitam-putih.
Putih? Dalam banyak pidatonya, Prabowo kerap menyatakan akan mengejar koruptor sampai ke ujung dunia. Faktanya, ia memberikan abolisi dan amnesti kepada terdakwa atau terpidana korupsi.
Di sektor politik, Prabowo juga berwajah ganda. Janjinya adalah untuk mengembangkan dan memajukan demokrasi. Faktanya, ia membunuh demokrasi dengan membentuk oligarki dengan menghimpun nyaris semua partai politik ke dalam koalisi.
Ketika ada yang menyampaikan kritik secara terbuka, Tiyo Ardianto, misalnya, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu banyak mendapatkan teror. Entah siapa yang meneror. Tiyo juga mendapat emoji monyet dari pejabat Badan Gizi Nasional (BGN).
Di sektor politik luar negeri pun, Prabowo berwajah ganda. Di satu sisi, ia mendukung kemerdekaan Palestina, tapi di sisi lain ia membawa Indonesia bergabung dengan Board of Peace yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump yang di dalamnya ada Israel dan tak ada Palestina. Padahal Israel sudah berulang kali menyatakan tidak akan pernah membiarkan Palestina merdeka.
Prabowo bahkan rela merogoh kocek negara hingga US$1 miliar atau setara dengan Rp16,7 triliun demi bisa masuk Board of Peace yang kontroversial itu.
Sementara di dalam negeri, seorang anak SD di Ngada, NTT, bunuh diri gegara tak mampu membeli pena dan buku tulis seharga “cuma” Rp10.000. Maka, seluruh klaim pencapaian Prabowo terbantahkan sudah.
Lalu, bagaimana semua itu bisa terjadi? Prabowo memang sedang menunjukkan wajah hitam-putihnya.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)



















