Jakarta – Adalah James Tobing, pengusaha media cetak dan online yang masih meyakini bahwa masyarakat masih suka membaca koran, tabloid atau majalah, sehingga masib media cetak ke depan pun masih bisa eksis.
“Ada blessing in disguise (berkah di balik malapetaka) di antara bergugurannya media mainstream online akibat gempuran media sosial di era disrupsi teknologi ini,” kata James Tobing saat dihubungi di Jakarta, Selasa (19/8/2025).
Ia ditanya ihwal bergugurannya media-media cetak di Indonesia dan dunia akibat serbuan media online, dan kini giliran media-media online yang terancam gulung tikar gara-gara serbuan media sosial.
Diketahui, saat ini sudah banyak media online yang tidak mampu menggaji karyawan dan wartawannya karena minimnya pemasukan dari iklan yang selama ini menjadi “napas” mereka. Media-media itu terancam gulung tikar.
Sementara media-media cetak seperti koran atau surat kabar, tabloid dan majalah telah lebih dulu berguguran karena biaya cetak yang tak tertanggungkan lagi. Bahkan harian Tempo yang merupakan media besar sudah cukup lama tidak terbit lagi.
Uniknya, Dialog, surat kabar mingguan yang dikelola PT Arah Medialog Pembangunan di bawah pimpinan James Tobing masih sanggup bertahan bahkan eksis hingga usianya yang akan menginjak angka 27 tahun, 17 September nanti.
Inilah bagian dari fenomena “global paradox”. Sementara orang-orang berbondong-bondong membaca media online dan media sosial, pada titik tertentu mereka dan orang-orang lainnya tetap memerlukan bacaan konvensional seperti koran atau majalah.
“Ada kiat-kiat khusus yang kita lancarkan. Selain daya tarik berita, juga cara pemasaran,” jelas James Tobing yang juga Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Surat Kabar Dialog sambil tetap merahasiakan kiat-kiat dimaksud. “Itu rahasia perusahaan,” tepisnya.
Bukti eksistensi SK Dialog lainnya adalah lahirnya media online hariandialog.com di bawah pengelolaan perusahaan yang sama yang hingga kini juga masih eksis.
Semangat Pantang Menyerah
Sudah menjadi prinsip James Tobing bahwa dirinya adalah seorang petarung yang pantang menyerah. Semangat pantang menyerah inilah yang mungkin menopang eksistensi SK Dialog hingga hari ini. Di saat yang lain pesimistis, James Tobing justru optimistis menatap masa depan media cetak.
Sekali lagi, ia selalu bisa melihat “blessing in disguise” pada setiap peristiwa. Pria “low profile” kelahiran Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 67 tahun lalu ini sejak kecil menjadi anak yatim piatu.
Bukannya kecil hati atau bahkan putus asa dengan posisinya itu, James Tobing muda justru semangatnya terlecut dan menyala-nyala untuk hijrah dan bertarung di Jakarta, sehingga kemudian bisa kuliah di jurusan jurnalistik dan akhirnya menjadi wartawan, sambil menjadi pengusaha media.
“Kalau sudah bisa bertarung di ibu kota, pasti kita akan bisa bertarung di mana saja,” cetus James Tobing membocorkan sedikit kiat hidupnya.
Ia kemudian mualaf atau masuk Islam dari sebelumnya Kristen. Sejak itu, semangatnya bertambah menyala karena selalu dipicu oleh firman Allah SWT dalam kitab suci Al Quran bahwa Allah tak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya.
Salat malam dan doa-doa yang rajin ia panjatkan juga menambah kekuatan spiritualnya, sehingga ia makin tegar dalam mengarungi gelombang kehidupan, termasuk dalam memimpin bisnis media. “Laa hawla walaa quwwata ila billah (tak ada daya dan upaya kecuali dari Allah),” tandasnya.
























