Fusilatnews – Di Istora Senayan, pada perayaan HUT ke-61 Partai Golkar, Prabowo Subianto berdiri di tengah sorotan lampu, memanggil satu per satu tokoh politik. Namun pada momen ketika nama Kaesang Pangarep disebut, panggung itu berubah menjadi panggung komedi yang tak lagi sekadar mengundang tawa—tetapi mengundang ironi politik yang dalam.
Kaesang berdiri, para kader Golkar bersorak lebih meriah daripada ketika nama Wapres Gibran dipanggil. Prabowo, dengan gaya santai dan kepercayaan diri khasnya, menimpali, “Kok lebih ramai dari abangnya ini?” Disambut tawa. Suasana cair. Semua tampak natural.
Namun di balik kelakar sederhana itu, tersimpan drama besar yang pernah mewarnai hubungan Prabowo dan partai yang kini dipimpin Kaesang: Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
PSI: Dari Penghujung Bibir yang Meludahi hingga Duduk di Pangkuan Kekuasaan
Tak banyak yang melupakan bagaimana pada Pemilu 2019, PSI secara terbuka memberikan penghargaan sinis kepada Prabowo:
“Award Pemimpin Pendusta.”
Itu bukan sekadar kritik, tapi deklarasi perang simbolik. PSI menegaskan dirinya sebagai partai moral, penegak kebenaran, dan pelawan populisme Prabowo.
Tapi panggung politik memang tidak pernah punya ingatan panjang.
Dan kekuasaan selalu punya cara memaksa orang untuk duduk berdekatan.
Lima tahun berlalu.
Orang yang dulu menjadi sasaran serangan PSI kini adalah Presiden.
Sementara Kaesang—ketua umum PSI yang baru—berdiri dengan senyum, disoraki dengan antusias oleh kader Golkar yang sama-sama berada di orbit kekuasaan Prabowo.
Jika 2019 adalah babak penuduhan, maka 2025 adalah babak pencairan—atau mungkin pengaburan.
Humor Prabowo: Alat Merangkul yang Pernah Melukainya
Apa yang dilakukan Prabowo di panggung malam itu sebenarnya lebih besar daripada sekadar melucu.
Ia sedang menunjukkan magnanimity—kebesaran hati yang sangat strategis.
Dengan bercanda soal Kaesang yang lebih disoraki daripada Gibran, Prabowo sedang memainkan peran sebagai pemimpin yang tidak menyimpan dendam. Tapi kelakar itu bukan tanda lupa; itu adalah cara mengelola memori, menertawakan luka agar luka itu tak lagi bisa melukai.
Ia tahu Kaesang adalah pimpinan partai yang dulu menyerangnya.
Ia tahu sejarah PSI tidak akan hilang dari arsip digital, tidak dari kepala publik.
Tapi ia memilih tawa. Bukan amarah.
Dan itu membuat posisi Prabowo jauh lebih tinggi dibanding mereka yang dulu melempari.
Humor menjadi panggilan damai, namun juga penanda dominasi:
“Aku tidak sakit hati. Aku tidak kecil. Kalian yang dulu menudingku pendusta kini hadir di panggungku, dan aku menyambutmu dengan senyum.”
Kalimat itu tak pernah terucap, tapi terasa.
Kaesang di Persimpangan: Mewarisi Bendera yang Pernah Diarahkan kepada Prabowo
Di satu sisi, Kaesang seperti mencoba memotong garis sejarah:
PSI era Kaesang bukan PSI era Grace Natalie.
PSI Kaesang tidak ingin hidup dalam bayang-bayang tuduhan lama.
Tapi sejarah bukan karpet yang bisa diangkat lalu dibuang.
Ketika Kaesang berdiri di hadapan Prabowo, disoraki begitu heboh, justru tampak jelas bahwa PSI hari ini berlari ke arah yang berlawanan dari retorika yang dulu dibangunnya.
Dan Prabowo memanfaatkan ini dengan sangat halus. Tanpa caci, tanpa sinis, tanpa membalas.
Cukup dengan satu gurauan ringan, ia menggeser relasi:
dari lawan → menjadi junior politik,
dari kritikus → menjadi pengikut orbit kekuasaan.
Tawa yang Dipimpin oleh Prabowo
Ada ironi besar yang mengambang di udara Istora Senayan malam itu:
- dulu PSI mengajak publik menertawakan Prabowo sebagai “pendusta”,
- kini Prabowo-lah yang memimpin tawa di panggung politik tempat Kaesang berdiri.
Perbedaannya tipis namun menentukan:
dulu tawa itu melemahkan Prabowo, kini tawa itu memperkuatnya.
Prabowo telah membalik skenario.
Ia berdiri bukan sebagai korban serangan masa lalu, tapi sebagai pemimpin yang merangkul musuh-musuh lamanya dengan lapang dada—dan sedikit humor yang tepat sasaran.
Di hadapan ribuan kader Golkar, di tengah sorakan untuk Kaesang, Prabowo seperti ingin berkata:
“Pada akhirnya, semua akan pulang ke pusat gravitasi kekuasaan. Dan hari ini, itu ada di tangan saya.”
Penutup: Ketika Humor Menjadi Bahasa Kekuasaan
Adegan sederhana di Istora Senayan itu menegaskan satu realitas pahit namun elegan tentang politik Indonesia:
- bahwa kritik adalah sementara,
- bahwa moralitas bisa berubah arah,
- bahwa ingatan publik selektif,
- dan bahwa kuasa selalu menemukan cara untuk memulihkan kejayaannya—dengan tawa atau tanpa tawa.
Prabowo telah menunjukkan bahwa dalam politik, yang tertawa belakangan bukan selalu yang menang,
tetapi yang memimpin tawa lah yang memegang kendali.
Dan malam itu, PSI, lewat Kaesang, tidak lagi menjadi partai yang menuding.
Mereka hanya menjadi bagian dari audiens yang ikut tertawa—dipimpin oleh orang yang dulu mereka sebut pendusta.
Sebuah ironi yang terlalu indah untuk tidak dicatat dalam sejarah politik Indonesia.
























