Jakarta-FusilatNews – Bulan suci Ramadan adalah bulan madrasah (sekolah) bagi orang beriman yang menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Jika lulus, maka ijazahnya adalah bahwa ia akan menjadi hamba Allah yang bertakwa.
Demikian Ustaz Aji Bandi dalam tausiyah atau nasihatnya yang bertajuk, “Ramadan sebagai Madrasah yang Berhasil Mencetak Insan Bertakwa” pada acara Tarawih Keliling (Tarling) Pengurus Rukun Warga (RW) 09 Kelurahan Kebayoran Lama Utara (KLU), Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, di Masjid Nurul Baqa, Jalan Peninggaran Timur III, KLU, Sabtu (14/3/2026) malam.
Ia kemudian merujuk pada perintah puasa bagi orang-orang beriman dari Allah SWT dalam Surat Al Baqarah ayat (183) yang artinya, “Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang bertakwa.”
Bertakwa berarti melaksanakan segala perintah Allah SWT dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Melihat jemaah salat Tarawih yang tetap membeludak seperti di awal-awal Ramadan 1447 H ini, sementara saat ini sudah memasuki hari-hari terakhir Ramadan, Aji Bandi mengaku bersyukur sekaligus bangga karena jemaah masih istikamah atau konsisten menjalankan salat Tarawih di bulan Ramadan.
“Bahkan seakan-akan Tarawih ini dianggap sebagai salat fardu (wajib), meskipun sesungguhnya sunah (jika dikerjakan berpahala, jika ditinggalkan tidak berdosa), karena antusiasme jemaah,” jelasnya.
Namun, katanya, kebanggaan itu hendaknya tidak hanya kebanggaan semu atau kosong, melainkan kebanggaan yang sesungguhnya dengan berhasil mengerjakan amal saleh sebanyak-banyaknya, baik yang wajib maupun yang sunah.
“Kita jangan cuma bangga bertemu dengan bulan yang penuh berkah ini, tapi kosong dan minim amal. Atau bahkan jangan-jangan kita belum bertobat dan kalaupun sudah bertobat, tobat kita belum diterima Allah SWT,” paparnya.
Pria low profile bergelar akademik doktorandus ini kemudian menguraikan tiga kelas atau tingkatan orang berpuasa.
Pertama, katanya, adalah orang yang berpuasa hanya dengan fisiknya, yakni berpuasa dengan menahan lapar dan dahaga serta nafsu seksual saja.
“Pada fase ini, orang yang berpuasa baru merasa batal puasanya jika makan dan minum atau berhubungan suami-istri di siang hari atau sejak imsak hingga terbenam matahari,” jelas guru di SDN Malakasari 05 Duren Sawit, Jakarta Timur, dan PAI Bakti Mulya 400 ini.
Kedua, kata Aji Bandi, orang yang berpuasa bukan hanya dengan fisiknya, tapi juga dengan seluruh panca inderanya.
“Pada fase ini, orang yang berpuasa sudah merasa batal puasanya jika mendengar perkataan buruk seperti ghibah atau pergunjingan, berkata buruk seperti berghibah atau mengumpat, dan sebagainya, dan juga melihat pemandangan buruk yang memancing syahwat, misalnya, bukan hanya karena telah makan, minum atau berhubungan suami-istri di siang hari,” terangnya.
Ketiga, lanjut Aji Bandi, orang yang berpuasa dengan fisik, seluruh panca indera dan hatinya.
“Pada fase ini, orang yang berpuasa sudah merasa batal puasanya jika di dalam hatinya timbul prasangka buruk atau suuzon, misalnya, bukan hanya karena telah makan, minum atau berhubungan suami-istri di siang hari, serta mendengar perkataan buruk atau melihat pemandangan buruk. Membayangkan makanan saja, dia merasa sudah batal puasanya,” tandasnya.
























