Jakarta, Fusilatnews – Idealisme itu mahal. Ia tak bisa ditukar dengan puluhan mobil mewah dan motor gede seperti yang baru saja disita dari kasus korupsi Noel, Wakil Menteri Ketenagakerjaan bernama lengkap Immanuel Ebenezer Gerungan.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru saja menyita puluhan mobil mewah dan moge dari Noel terkait kasus pemerasan dalam pengurusan sertifikat K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di Kementerian Ketenagakerjaan.
Noel dan 10 orang lainnya yang sebelumnya terjaring operasi tangkap tangan (OTT) pun telah ditetapkan KPK sebagai tersangka. Setelah itu giliran Presiden Prabowo Subianto yang memecat Noel dari jabatan Wamenaker, serta Partai Gerindra yang mencabut keanggotaan Noel dari partai berlambang kepala burung Garuda itu.
Noel berangkat dari relawan yang mendukung Joko Widodo di Pemilihan Presiden 2019. Noel adalah Ketua Umum Jokowi Mania atau JokMan.
Pada Pilpres 2024, Noel mendukung Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Gibran Rakabuning Raka, anak sulung Jokowi.
Noel kemudian bermetamorfosis menjadi Ketua Umum Prabowo Mania 08. Prabowo-Gibran terpilih, Noel diganjar dengan kursi Wamenaker, dan juga Komisaris PT Pupuk Indonesia.
Sementara Rudi S Kamri, influencer dengan ratusan ribu follower, telah lebih dulu menjadi relawan Jokowi, yakni sejak 2014 ketika Jokowi maju pertama kali sebagai calon presiden.
Jokowi yang saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla terpilih, tapi Rudi tidak mendapat jatah “kue” kekuasaan walau secuil, minimal Komisaris BUMN.
“Karena saya memang tidak berharap, apalagi meminta,” kata Rudi S Kamri di Jakarta, Selasa (26/8/2025), terkait maraknya relawan yang masuk episentrum kekuasaan.
Begitu pun di Pilpres 2019, Rudi S Kamri juga aktif mendukung Jokowi yang berpasangan dengan Ma’ruf Amin dan terpilih.
Selain Noel, relawan Jokowi lainnya, yang kemudian menjadi relawan Prabowo, adalah Budi Arie Setiadi, Ketua Umum ProJokowi atau ProJo yang pada Pilpres 2014 dan 2019 mendukung Jokowi, dan pada Pilpres 2024 mendukung Prabowo-Gibran.
Budi Arie telah mendapatkan ganjaran kursi Menteri Komunikasi dan Informatika di akhir periode kedua Jokowi, dan kini di pemerintahan Prabowo mendapat ganjaran kursi Menteri Koperasi.
“Biarlah itu rezeki masing-masing. Kita lihat saja nanti akhirnya, apakah akan husnul khatimah (berakhir baik) atau suul khatimah (berakhir buruk),” tukas Rudi S Kamri.
Karena Jokowi mengkhianati PDI Perjuangan, dan juga rakyat Indonesia dengan mengobrak-abrik konstitusi, maka idealisme Rudi pun terluka. Pria low profile kelahiran Blitar, Jawa Timur, ini kemudian berhenti mendukung Jokowi. Tidak pula mendukung Prabowo-Gibran yang merupakan jilid 3 dari Jokowi.
Sebaliknya, Rudi mendukung Ganjar Pranowo-Mahfud Md, pasangan capres-cawapres yang diusung PDIP di Pilpres 2024.
“Kalah menang itu soal biasa dalam kontestasi. Apalagi kontestasi politik. Yang penting kita jangan sampai kehilangan idealisme untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan,” paparnya.
Demi idealisme, Rudi rela tidak mendapatkan bagian kue kekuasaan. Apalagi di era Prabowo di mana ia terus melontarkan suara kritisnya melalui opini maupun podcast di kanal YouTube-nya.
“Kekuasaan boleh datang silih-berganti. Tapi idealisme dan keberpihakan terhadap rakyat harus terus disuarakan. Apalagi terhadap pemerintah yang sudah tidak berpihak kepada rakyat,” tandasnya.
Rudi pun memilih menempuh jalan sunyi demi idealismenya, sebagai penjaga nilai dan integritas, demi merawat hati nurani dan akal sehat bangsa ini.
Integritas, katanya, diperlukan untuk menjaga value atau nilai-nilai kepatutan


























