Oleh: Nazaruddin
Sejarah Jawa abad ke-16 menyimpan sebuah ironi besar: dari sebuah hutan terpencil yang dianggap angker, lahir sebuah kerajaan yang kelak menguasai hampir seluruh tanah Jawa. Itulah Mataram, kerajaan Islam pedalaman yang muncul pasca keruntuhan Pajang. Kebangkitannya bukan sekadar catatan politik, melainkan juga drama tentang legitimasi, spiritualitas, dan tafsir budaya. Dari penumpasan Arya Penangsang, pembagian tanah oleh Sultan Pajang, hingga kemunculan Danang Sutawijaya sebagai Panembahan Senapati, tersingkap kisah bagaimana kekuasaan direkonstruksi dari kekecewaan, kecerdikan, dan visi besar.
Hadiah atau Pembuangan?
Setelah kemenangan atas Arya Penangsang, Sultan Hadiwijaya membagi tanah kepada para pengikut setianya. Ki Panjawi memperoleh wilayah subur di Pati, pusat perdagangan pesisir utara Jawa. Sebaliknya, Ki Ageng Pemanahan hanya diberi Alas Mentaok, sebuah hutan lebat di pedalaman. Perbedaan mencolok ini menimbulkan pertanyaan: apakah Mentaok hadiah penghargaan, atau justru hukuman terselubung?
Babad Tanah Jawi menggambarkan Mentaok sebagai alas angker yang menuntut penaklukan fisik sekaligus spiritual. Sementara H.J. de Graaf menafsirkan letaknya yang jauh dari pusat Pajang sebagai strategi untuk menyingkirkan keluarga Pemanahan dari lingkaran politik. Dengan demikian, pemberian itu lebih menyerupai pembuangan halus ketimbang penghargaan sejati.
Kekecewaan Ki Ageng Pemanahan inilah yang kemudian mewaris pada putranya, Danang Sutawijaya. Sebagai anak angkat Sultan Hadiwijaya sekaligus panglima Pajang, Sutawijaya awalnya terikat loyalitas. Namun perlakuan tidak adil terhadap ayah kandungnya membuat kesetiaan itu goyah. Dari sinilah benih “pembelotan” tumbuh: memilih darah daging sendiri ketimbang istana Pajang.
Tiga Pilar Kebangkitan Mataram
Pesatnya kebangkitan Mataram, selain disebabkan melemahnya Pajang setelah wafatnya Sultan Hadiwijaya, bertumpu pada tiga faktor utama: visi politik, konsolidasi figuratif, dan legitimasi spiritual.
Pertama, visi politik Ki Ageng Pemanahan. Ia tidak menjerit meratapi nasib ketika mendapat Mentaok. Sebaliknya, ia melihat peluang. Ia mengundang penduduk, membuka lahan, dan menata komunitas baru yang loyal. Fondasi sosial dan ekonomi yang ia bangun di atas tanah belantara inilah yang kelak menjadi dasar bagi Mataram.
Kedua, kekuatan figur Danang Sutawijaya. Ia bukan sekadar panglima perang yang lihai, melainkan juga pemimpin karismatik. Ia mampu memadukan ketangkasan militer dengan kemampuan menginspirasi rakyat. Di bawah kepemimpinannya, Mataram menjadi magnet bagi prajurit dan rakyat yang mencari perlindungan. Keunggulannya bukan hanya dalam taktik perang, tetapi juga dalam membaca peta politik dan memanfaatkan momentum.
Ketiga, legitimasi spiritual. Kekuasaan Mataram tidak hanya ditegakkan dengan pedang, tetapi juga dengan narasi mistis. Kisah hubungan Panembahan Senapati dengan Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan, menjadi sumber legitimasi simbolik yang amat kuat. Kekuasaan Sutawijaya dipandang tidak sekadar duniawi, tetapi juga mendapat restu jagat. Di sisi lain, ia juga merangkul para ulama, tidak menimbulkan konflik terbuka, dan dengan itu memperoleh “legitimasi pasif” dari kalangan agama—faktor penting dalam menjaga stabilitas kerajaan.
Dari Alas Angker ke Dinasti Agung
Kebangkitan Mataram adalah sebuah kisah epik tentang bagaimana sebuah hadiah yang tidak adil justru memantik revolusi politik. Ia mencerminkan kecerdasan Ki Ageng Pemanahan dalam membangun fondasi, sekaligus ambisi Danang Sutawijaya dalam menaklukkan takdir.
Mataram lahir bukan dari penghargaan, melainkan dari hukuman yang diubah menjadi peluang. Alas Mentaok, yang semula menjadi simbol penyingkiran, akhirnya menjelma menjadi jantung sebuah dinasti yang mengukir sejarah besar di Nusantara. Dari sebuah hutan angker, Mataram tumbuh menjadi kerajaan agung—membuktikan bahwa legitimasi kekuasaan sejati tidak datang dari kemurahan seorang raja, melainkan dari visi, keberanian, dan pengorbanan yang membangun segalanya dari awal.

Oleh: Nazaruddin
























