Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Bukan Prabowo Subianto namanya kalau tidak provokatif dalam setiap pidatonya. Kali ini, Presiden RI itu mengusir siapa saja warga negara Indonesia yang merasa masa depannya suram di Indonesia untuk hengkang dan mencari negara lain. “Tak ada yang melarang,” katanya saat memperingati Hari Koperasi di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, Minggu (12/7/2026).
Entah sudah berapa kali Prabowo mengusir rakyatnya sendiri untuk pindah ke luar negeri hanya gegara kritik bahwa Indonesia suram, Indonesia gelap. Padahal kritik itu berpijak pada fakta, bukan fiksi.
Pemerintah menjanjikan 19 juta lapangan kerja. Faktanya, pemutusan hubungan kerja (PHK) justru terjadi di mana-mana. Apakah masa depan rakyat Indonesia tidak suram?
Harga bahan bakar minyak naik. Harga barang dan jasa juga naik. Daya beli masyarakat menurun. Apakah masa depan rakyat Indonesia tidak gelap?
Utang luar negeri Indonesia membumbung tinggi. Hingga pertengahan 2026, total utang pemerintah Indonesia tercatat mencapai Rp9.920,42 triliun dengan rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level 40,75%. Ini akan menjadi beban anak cucu kita. Apakah masa depan rakyat Indonesia tidak gulita?
Korupsi kian hari kian marak di Indonesia. Nilainya bukan lagi jutaan atau miliaran, tapi sudah triliunan rupiah.
Teranyar, Polri menetapkan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung Febrie Adriyanto sebagai tersangka korupsi dan pencucian uang dalam penanganan tiga perkara korupsi sekaligus, yakni di PT PLN, PT Asabri dan PT Krakatau Steel.
Saat kafe dan money changer yang diduga miliknya di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, ditemukan uang tunai 67 miliar rupiah.
Saat rumah mewahnya di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat, digeledah, ditemukan uang tunai 467 miliar rupiah plus 74 kilogram emas batangan.
Ketika ada pagar makan tanaman, mereka yang semestinya menjaga hukum tapi justru melanggar hukum, apakah masa depan Indonesia tidak kelabu?
Mengapa Prabowo suka mengusir rakyatnya yang kritis untuk pindah ke negara lain? Apakah karena dia pernah terusir dari Tanah Air?
Pasca-kerusuhan Mei 1988, Prabowo “kabur” ke Jordania, sampai kemudian Megawati Soekarnoputri saat menjadi Presiden RI memintanya untuk pulang ke Indonesia.
Alhasil, yang pernah terusir yang kemudian mengusir.
Mungkin Prabowo sebaiknya hengkang saja dan menjadi Presiden di negara otoriter atau komunis, bukan negara demokrasi seperti Indonesia.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)



















