• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Negara yang Kehilangan Kompas

Ali Syarief by Ali Syarief
July 14, 2026
in Birokrasi, Feature, Politik
0
Negara yang Kehilangan Kompas
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ali Syarief

Ada satu pelajaran yang semakin terasa nilainya justru setelah Indonesia meninggalkannya: pembangunan tidak pernah lahir dari pidato, melainkan dari perencanaan.

Saya beruntung pernah mendengar langsung penjelasan dari sejumlah arsitek pembangunan Indonesia: Prof. Sumitro Djojohadikusumo, Prof. Emil Salim, Prof. Radius Prawiro, Prof. Sumantri, Prof. Subroto, Ginanjar Kartasasmita, dan beberapa tokoh lain yang berada di ruang-ruang tempat konsep pembangunan nasional dirumuskan. Mereka tidak berbicara tentang slogan. Mereka berbicara mengenai bagaimana sebuah negara bekerja.

Dari mereka saya memahami bahwa pembangunan pada masa Orde Baru bukan sekadar proyek pemerintah, melainkan sebuah sistem yang disusun berlapis. Ada filosofi negara, ada tujuan jangka panjang, ada tahapan lima tahunan, ada indikator keberhasilan, ada pengawasan, serta ada disiplin birokrasi yang memastikan seluruh mesin negara bergerak ke arah yang sama.

Mungkin banyak orang hari ini hanya mengingat pembangunan era Soeharto melalui jalan raya, bendungan, waduk, irigasi, sekolah Inpres, atau swasembada pangan. Padahal semua itu hanyalah hasil akhir. Yang jauh lebih penting adalah mesin yang menghasilkan semua capaian tersebut.

Mesin itu bernama perencanaan pembangunan nasional.

Landasan utamanya adalah Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Negara yang Bekerja dengan Teori

Dalam ilmu administrasi publik, pembangunan tidak pernah dipahami sebagai kumpulan proyek yang berdiri sendiri. Para ilmuwan seperti Harold Koontz, Peter Drucker, hingga George Terry menempatkan planning sebagai fungsi pertama dalam manajemen.

Planning datang sebelum organizing, staffing, directing, maupun controlling.

Tanpa perencanaan, organisasi hanya bergerak secara reaktif.

Prinsip yang sama juga dijelaskan oleh Henry Mintzberg. Menurutnya, organisasi modern membutuhkan strategi yang konsisten agar setiap keputusan saling memperkuat, bukan saling bertabrakan.

Negara pun demikian.

GBHN sesungguhnya merupakan bentuk nyata dari teori manajemen strategis dalam skala nasional.

MPR menetapkan arah pembangunan jangka panjang. Presiden menerjemahkannya menjadi Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Bappenas menguraikannya menjadi program sektoral. Menteri melaksanakan. Gubernur dan bupati menyesuaikan. Semua bergerak dalam satu garis komando kebijakan.

Tidak semua kebijakan berhasil. Tidak semua program sempurna. Namun arah perjalanan negara jelas.

Negara yang Memiliki Peta

Dalam teori kebijakan publik karya William Dunn maupun James Anderson, kualitas pemerintahan bergantung pada adanya policy cycle: perumusan masalah, penyusunan kebijakan, implementasi, evaluasi, dan umpan balik.

Siklus itu hanya mungkin berjalan apabila negara memiliki tujuan yang telah disepakati.

GBHN menjalankan fungsi tersebut.

Setiap kementerian mengetahui targetnya.

Setiap gubernur mengetahui prioritas nasional.

Setiap anggaran memiliki hubungan dengan sasaran pembangunan.

Inilah sebabnya Indonesia mampu membangun ribuan kilometer irigasi, jaringan listrik, sekolah dasar, puskesmas, pelabuhan, hingga mencapai swasembada beras pada pertengahan 1980-an. Berbagai capaian itu lahir dari kesinambungan kebijakan lintas tahun, bukan dari program yang berganti mengikuti dinamika politik jangka pendek.

Ketika Kompas Dilepas

Perubahan besar terjadi setelah reformasi.

Melalui amandemen Undang-Undang Dasar 1945, GBHN dihapus. Sebagai penggantinya, lahir Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Secara teknokratis, sistem ini tetap menyediakan dokumen perencanaan. Namun, terdapat satu perbedaan mendasar.

RPJMN merupakan dokumen pemerintah.

GBHN dahulu merupakan keputusan lembaga tertinggi negara.

Konsekuensinya tidak kecil.

Setiap presiden datang membawa visi, misi, slogan, dan program sendiri. Prioritas pembangunan berubah mengikuti pergantian pemerintahan. Program yang belum selesai sering kali dihentikan atau diubah. Orientasi birokrasi ikut bergeser.

Dalam perspektif teori path dependency yang dikembangkan Paul Pierson, institusi yang tidak memiliki kesinambungan cenderung kehilangan akumulasi manfaat dari kebijakan sebelumnya. Biaya penyesuaian meningkat, sementara efektivitas pembangunan menurun.

Akibatnya, negara terus memulai dari awal.

Politik Menggantikan Perencanaan

Samuel Huntington pernah mengingatkan bahwa negara berkembang lebih sering gagal bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena lemahnya institusi.

Institusi itulah yang sesungguhnya dijaga oleh GBHN.

Ketika institusi perencanaan melemah, ruang kosong segera diisi oleh kepentingan politik.

Program pembangunan akhirnya lebih mudah berubah mengikuti siklus pemilu.

Istilah-istilah baru bermunculan.

Visi baru diperkenalkan.

Nama program berganti.

Logo diganti.

Tetapi fondasi jangka panjang sering kali tidak ikut dibangun.

Dalam praktik administrasi publik, kondisi demikian dikenal sebagai policy discontinuity, yaitu terputusnya kesinambungan kebijakan akibat perubahan politik. Dampaknya adalah pemborosan anggaran, rendahnya efektivitas birokrasi, serta sulitnya mengukur keberhasilan pembangunan dalam jangka panjang.

Pelajaran dari Para Perancang

Yang paling membekas dari percakapan saya dengan para perancang pembangunan itu bukanlah kebanggaan terhadap masa lalu.

Mereka justru berbicara mengenai disiplin berpikir.

Prof. Sumitro Djojohadikusumo selalu menekankan pentingnya membangun fondasi ekonomi sebelum membagi hasilnya.

Prof. Emil Salim berulang kali mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi harus berjalan bersama keberlanjutan lingkungan.

Prof. Radius Prawiro menekankan pentingnya stabilitas makroekonomi.

Prof. Subroto berbicara mengenai tata kelola sumber daya alam.

Ginanjar Kartasasmita menjelaskan pentingnya kesinambungan pembangunan sebagai proses antargenerasi.

Mereka boleh berbeda latar belakang dan pendekatan, tetapi memiliki satu kesamaan: negara harus memiliki arah yang disepakati bersama, melampaui kepentingan pemerintahan yang sedang berkuasa.

Yang Hilang Bukan Masa Lalunya

Maka persoalan Indonesia hari ini bukan sekadar apakah Orde Baru lebih baik atau Reformasi lebih demokratis.

Itu perdebatan yang tidak akan pernah selesai.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah negara ini masih memiliki kompas pembangunan yang mampu mengikat seluruh pemerintahan dalam satu arah strategis selama puluhan tahun?

Demokrasi tidak harus bertentangan dengan perencanaan jangka panjang.

Banyak negara demokratis tetap memiliki konsensus nasional yang relatif stabil mengenai arah pembangunan, meskipun pemerintah berganti.

Indonesia membutuhkan hal yang sama.

Bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk memulihkan disiplin bernegara: pembangunan yang dirancang berdasarkan data, dilaksanakan secara konsisten, dievaluasi secara objektif, dan diwariskan kepada generasi berikutnya tanpa harus dimulai dari nol setiap lima tahun.

Karena sejarah menunjukkan, negara yang kehilangan kompas bukanlah negara yang berhenti bergerak. Ia justru bergerak sangat cepat—tetapi tanpa kepastian menuju ke mana.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kejaksaan Dilumpuhkan!

Next Post

Yang Terusir dan Mengusir

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Simalakama Teddy Wijaya
Feature

Yang Terusir dan Mengusir

July 14, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?
Birokrasi

Kejaksaan Dilumpuhkan!

July 14, 2026
Feature

Menjaga Marwah Penegakan Hukum di Persimpangan Independensi (Kasus Jampidsus, Kepentingan Menjaga Kepercayaan Publik)

July 14, 2026
Next Post
Simalakama Teddy Wijaya

Yang Terusir dan Mengusir

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Simalakama Teddy Wijaya

Yang Terusir dan Mengusir

July 14, 2026
Negara yang Kehilangan Kompas

Negara yang Kehilangan Kompas

July 14, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Kejaksaan Dilumpuhkan!

July 14, 2026

Menjaga Marwah Penegakan Hukum di Persimpangan Independensi (Kasus Jampidsus, Kepentingan Menjaga Kepercayaan Publik)

July 14, 2026
Dari Bangku Kuliah ke Ruang Redaksi: Mahasiswa Universitas Pancasakti Belajar Langsung “Dapur” Produksi Berita di Harian Fajar

Dari Bangku Kuliah ke Ruang Redaksi: Mahasiswa Universitas Pancasakti Belajar Langsung “Dapur” Produksi Berita di Harian Fajar

July 14, 2026
Beredar Surat Diduga dari Kejaksaan Agung, Instruksikan Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Beredar Surat Diduga dari Kejaksaan Agung, Instruksikan Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

July 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Simalakama Teddy Wijaya

Yang Terusir dan Mengusir

July 14, 2026
Negara yang Kehilangan Kompas

Negara yang Kehilangan Kompas

July 14, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...