• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Jet Pribadi untuk Malam, Sidang Isbat untuk Dalih: Etika Pejabat di Persimpangan Jalan

fusilat by fusilat
February 24, 2026
in Birokrasi, Feature
0
Jet Pribadi untuk Malam, Sidang Isbat untuk Dalih: Etika Pejabat di Persimpangan Jalan
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Pendahuluan

Seorang Menteri Agama, tokoh yang identik dengan nilai-nilai kesederhanaan dan keteladanan, justru menjadi sorotan karena kemewahan. Pemberitaan Kompas.com (24/2/2026) tentang penggunaan jet pribadi oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar untuk perjalanan dinas ke Takalar, Sulawesi Selatan, bukan sekadar soal moda transportasi. Peristiwa ini membuka kembali luka lama tentang pemakluman berlebihan atas perilaku elite yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah pemerintahan yang bersih. Alasan yang dikemukakan—yakni keterbatasan jadwal penerbangan komersial malam hari dan tuntutan mengikuti sidang isbat—layak untuk dibedah secara kritis, karena di baliknya tersimpan persoalan etika, akuntabilitas, dan bias pelaporan gratifikasi di negeri ini.

Analisis dan Argumentasi

Pertama, alasan logistik yang disampaikan tampak rapuh jika ditelisik lebih dalam. Argumentasi bahwa “jam 11 malam tidak mungkin ada pesawat” ke Takalar memang benar secara faktual, namun mengabaikan esensi perencanaan sebagai pejabat publik. Sebuah undangan peresmian yang telah dijadwalkan pada Minggu, 15 Februari 2026, seharusnya dapat diantisipasi jauh hari sebelumnya. Seorang menteri dengan segala kewenangan birokrasinya pasti memiliki staf dan protokol yang bertugas mengatur akomodasi. Jika penerbangan komersial memang tidak tersedia, mengapa tidak menjadwalkan ulang kehadiran atau menugaskan pejabat setempat yang lebih representatif? Keterdesakan waktu yang disebutkan justru menunjukkan lemahnya manajemen agenda dan koordinasi internal. Di sinilah letak problem mendasar: alasan “keterpaksaan” kerap digunakan untuk membenarkan pengambilan kemudahan yang bersifat istimewa.

Kedua, pelaporan ke KPK sehari setelah ramai diperbincangkan publik. Langkah Nasaruddin Umar melaporkan fasilitas jet pribadi milik Oesman Sapta Odang (OSO) ke Direktorat Gratifikasi KPK pada 23 Februari 2026 patut diapresiasi sebagai bentuk kepatuhan prosedural. Namun, publik perlu jeli membaca kronologi. Peristiwa ini ramai di media sosial X pada 16 Februari, baru dilaporkan seminggu kemudian, tepatnya setelah sorotan makin tajam. Apakah ini murni inisiatif integritas, ataukah langkah responsif untuk meredam opini negatif? Niatnya untuk menjadi “contoh” dan “pembelajaran” bagi pejabat lain memang mulia, tetapi efektivitas keteladanan akan luntur jika publik mencium aroma rekayasa pencitraan. Pelaporan semestinya lahir dari kesadaran etis, bukan dari tekanan sosial. Jika setiap pejabat baru melapor setelah viral, maka kita hanya membangun budaya prosedural, bukan budaya antigratifikasi.

Ketiga, potensi konflik kepentingan yang luput dari diskursus. Pemberi fasilitas, Oesman Sapta Odang (OSO), bukanlah sembarang pengusaha. Ia adalah mantan Ketua DPD dan Ketua Umum Partai Hanura—sebuah entitas politik yang memiliki relasi kuasa dengan pemerintah. Dalam konteks Indonesia, pemberian fasilitas mewah dari figur politik kepada pejabat aktif (apalagi menteri) sarat dengan muatan hubungan timbal balik. KPK memang membuka peluang meminta keterangan OSO, tetapi publik perlu mengawal apakah proses ini berjalan transparan atau sekadar formalitas. Tidak ada yang tahu apa yang dibicarakan di dalam jet pribadi itu. Di sinilah etika publik seharusnya bekerja lebih keras dari sekadar aturan tertulis: seorang mentegi idealnya mampu menolak fasilitas yang berpotensi membelenggu independensinya, betapa pun mendesaknya situasi.

Keempat, ironi institusi di tengah isu sensitif keagamaan. Bayangkan, seorang Menteri Agama yang baru saja meresmikan Gedung Balai Sarkiah (lembaga peradilan agama) tiba dengan jet pribadi. Di satu sisi ia membawa misi keagamaan yang menjunjung kesederhanaan dan keadilan, di sisi lain ia turun dari kemewahan eksklusif. Dikhawatirkan, citra ini menciptakan disonansi di mata masyarakat. Apalagi, momen ini berdekatan dengan sidang isbat penentuan awal Ramadhan, yang notabene adalah isu sakral dan dinanti umat. Sorotan publik pun menjadi tajam: “Mengurus awal puasa saja pakai jet pribadi?” Ini persoalan persepsi yang tak kalah penting dari fakta hukum.

Kesimpulan

Kasus Menteri Agama Nasaruddin Umar ini adalah cermin buram dari wajah birokrasi kita yang masih mengagungkan kemudahan di atas kepatutan. Alasan teknis berupa ketiadaan penerbangan komersial sejatinya bisa diantisipasi dengan perencanaan matang. Pelaporan ke KPK, meski prosedurnya benar, kehilangan makna keteladanan karena dilakukan setelah viral, bukan sebelum berangkat. Lebih dalam dari itu, publikasi penerimaan fasilitas dari tokoh politik seperti OSO menunjukkan betapa kaburnya batas antara kepentingan dinas dan relasi kuasa.

Pada akhirnya, kasus ini mengajarkan bahwa etika tidak bisa direduksi menjadi sekadar laporan gratifikasi. Etika adalah keberanian untuk berkata “tidak” pada kemudahan yang berlebihan, demi menjaga kepercayaan publik yang merupakan modal utama pemerintahan. Jika pejabat setingkat menteri agama saja masih menggunakan dalih teknis untuk membenarkan kemewahan, lalu siapa lagi yang akan menjaga marwah kesederhanaan di negeri ini? Sudah saatnya kita tidak lagi puas dengan pelaporan formal, tetapi menuntut keteladanan substantif dari para pemimpin, terutama mereka yang mengemban amanat nilai-nilai luhur keagamaan.

Penutup:
Sidang isbat memang penting, tapi menjaga kepercayaan publik dengan tidak menerima fasilitas jet pribadi dari politisi jauh lebih penting. Semoga ini menjadi pelajaran bagi semua penyelenggara negara, bahwa di era keterbukaan ini, publik tak hanya menilai apa yang salah secara hukum, tetapi juga apa yang tak patut secara moral.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

PRABOWO DALAM GEMURUH GEOPOLITIK – Antara BRICS, Washington, dan Target 8 Persen

Next Post

Sakit Tak Kunjung Sembuh, Nadiem Makarim Minta Bebas dari Tahanan Korupsi Rp 2,1 Triliun

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Doa sebagai Peredam Sifat Sombong dan Penggugur Dosa di Bulan Ramadhan

February 27, 2026
REBUTAN GABAH
Economy

SATU HARGA GABAH: MEMUTUS RANTAI TENGKULAK, ATAU SEKADAR ILUSI KESEJAHTERAAN PETANI?

February 27, 2026
Feature

Apakah Identitas Selalu Menjadi Faktor Penyelamat?

February 26, 2026
Next Post
Nadiem Makarim Ditahan Kejagung: Dari Reformasi Pendidikan ke Jeruji Besi Korupsi Laptop

Sakit Tak Kunjung Sembuh, Nadiem Makarim Minta Bebas dari Tahanan Korupsi Rp 2,1 Triliun

Menyulap Lahan Bawang Jadi Surga Wisata: Kisah Petani Enrekang Menyelamatkan Alam

Menyulap Lahan Bawang Jadi Surga Wisata: Kisah Petani Enrekang Menyelamatkan Alam

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian
Feature

Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian

by Karyudi Sutajah Putra
February 25, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Aku tak bisa membayangkan bila ini benar-benar...

Read more
Hitam-Putih Wajah Prabowo

Hitam-Putih Wajah Prabowo

February 24, 2026
Badut-badut Politik

Badut-badut Politik

February 23, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Doa sebagai Peredam Sifat Sombong dan Penggugur Dosa di Bulan Ramadhan

February 27, 2026
REBUTAN GABAH

SATU HARGA GABAH: MEMUTUS RANTAI TENGKULAK, ATAU SEKADAR ILUSI KESEJAHTERAAN PETANI?

February 27, 2026

Apakah Identitas Selalu Menjadi Faktor Penyelamat?

February 26, 2026
Marhaban Ya Ramadhan, IKM Pare Gelar Buka Bersama di Cafe Puakale Pasar Minggu

Marhaban Ya Ramadhan, IKM Pare Gelar Buka Bersama di Cafe Puakale Pasar Minggu

February 26, 2026
Prabowo Identik dengan Trump: Kekuasaan, Kekayaan, dan Gaya Komando

Prabowo Identik dengan Trump: Kekuasaan, Kekayaan, dan Gaya Komando

February 26, 2026

Surat Kaleng dan Harga Sebuah Nama Baik

February 26, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Doa sebagai Peredam Sifat Sombong dan Penggugur Dosa di Bulan Ramadhan

February 27, 2026
REBUTAN GABAH

SATU HARGA GABAH: MEMUTUS RANTAI TENGKULAK, ATAU SEKADAR ILUSI KESEJAHTERAAN PETANI?

February 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist