Oleh: I Gedeg Lumayan Sungsang
Napas Jokowi kini tersengal. Di hadapannya terbentang jalan berdebu dan berkelok. Kadang datar, kadang menanjak tajam, lalu tiba-tiba curam bagai jurang Menoreh yang diam-diam menunggu. Tak ada penanda yang pasti—semua samar dalam labirin masa depan yang dibangunnya sendiri.
Langkah-langkahnya tak lagi mantap. Dulu disambut puja, kini dibuntuti syak wasangka. Setelah memaksa sejarah tunduk pada skenario politik keluarganya, Jokowi kini hidup dalam riuh bisik para pemuja yang mulai ragu. Proposal dukungan datang silih berganti, tapi lebih terdengar seperti lip service ketimbang cinta sejati. Ucapan manis itu kini berbalas dari akun-akun anggaran yang terus menggelembung.
Gibran duduk di kursi Wakil Presiden, tapi tampak ringkih. Tak setangguh ayahnya dalam berdusta. Kaesang berceloteh di media sosial sambil memoles citra partai warisan, namun yang mengilap hanya deretan mobil mainan koleksinya. Bobby? Diam membatu di Medan. Bahkan Iriana pun mulai dilirik tajam. Tak bisa lagi bersembunyi di balik senyum pertama ibu negara—sebab dusta terlalu sering mampir ke meja makan keluarga.
Kini Jokowi gontai. Wajahnya penuh kerut fleks, tanda tekanan dari arah tak terduga. Bukan dari lawan, tapi dari dalam: dari lingkaran sendiri, dari sejarah yang pelan-pelan mencatat dengan tinta muram.
Ia seperti tengah berjalan di lorong dengan tali-tali jerat menggantung di atas kepala. Maju kena, mundur lebih celaka. Jalan satu-satunya mungkin barter: hidup nyaman sesaat, lalu keluar diam-diam lewat pintu darurat yang murah meriah—seutas tali.
“Cukup, Jokowi. Cukup,” suara-suara mulai berbisik.
Satu-satu. Lirih, tapi jelas.
Seutas tali. Jalan pulang.
























