Fusilatnews – Pada suatu siang yang biasa saja, saat rakyat masih mengunyah nasi dan utang negara, sebuah kabinet diumumkan. Kabinet yang bukan hanya tambun secara jumlah, tapi juga tambun secara beban: beban akal sehat, beban logika manajemen, dan yang paling nyata—beban negara.
Mereka menyebutnya “Kabinet Gemoy.” Entah darimana istilah itu dipetik. Mungkin dari gemoy-nya wajah Prabowo, atau dari kenyataan bahwa kabinet ini lebih gemuk dari sapi perah di musim lebaran. Tapi jangan salah. Dalam teori manajemen, ukuran bukan soal utama. Efisiensi dan efektivitaslah sang lakon. Namun, dalam pentas Prabowo—dua istilah itu tampaknya sudah jadi fosil. Mereka dikubur hidup-hidup dalam liang lahat yang bernama “ewuh pakewuh.”
Ah, ewuh pakewuh! Warisan budaya Timur yang acap jadi dalih untuk memelihara yang tak perlu, untuk mempertahankan yang tak layak, dan menghindari pertikaian meski kebenaran meronta-ronta.
Mari kita tengok, teori manajemen klasik: Henri Fayol menulis bahwa organizing berarti menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat. Tapi dalam “Kabinet Gemoy,” yang terjadi justru sebaliknya: banyak kursi diisi bukan karena kepakaran, tapi karena keperluan membalas budi dan menjaga perasaan. Seolah-olah kementerian adalah warung kopi yang kursinya bebas ditempati siapa saja, asal pernah menyumbang kopi sachet saat kampanye.
Sekarang, mari kita naik sejenak ke masa lalu. Bayangkan Anda berada di dalam opelet Bandung-Lembang. Sevrolet made in USA. Kursi depan mestinya cukup untuk tiga: sopir dan dua penumpang. Tapi bila hari lebaran dan pasar ramai, bisa lima orang dijejalkan. Sopir pun terjepit. Keringatnya menetes, tangannya terantuk, konsentrasinya terganggu. Maka jadilah kendaraan itu bom waktu berjalan. Efektif? Mungkin. Efisien? Sekilas iya, karena semua penumpang diangkut. Tapi aman? Tidak. Nyaman? Tidak. Dan sopir? Tak bisa kerja dengan tenang.
Begitulah kira-kira keadaan kabinet kita hari ini. Terlalu banyak penumpang, terlalu sedikit ruang gerak. Presiden nanti akan seperti sopir Sevrolet tadi: bingung, pengap, dan lambat. Setiap belokan akan membuat lututnya membentur dashboard—bukan karena tak tahu arah, tapi karena terlalu banyak yang duduk di sebelahnya, ikut-ikutan memegang kemudi.
Kabinet bukan tempat menampung semua sahabat. Negara bukan panggung balas jasa. Jika efektif berarti do the right things, dan efisien berarti do the things right, maka “Kabinet Gemoy” adalah contoh bagaimana dua prinsip ini dikorbankan demi kenyamanan pribadi.
Lalu kita bertanya: bagaimana republik bisa melaju dengan sopir yang terjepit dan kursi yang terlalu padat?
Rakyat hanya bisa berharap. Mungkin satu-satunya cara agar kendaraan ini selamat adalah jika penumpang-penumpang itu sadar diri, turun sebelum tikungan maut, atau sekurangnya tidak ikut-ikutan menyentuh stir.
Tapi seperti kata orang Sunda, hareudang geura tapi tara lila—panasnya mungkin sebentar, tapi kalau mesin kepanasan, bisa mogok juga.
Jakarta, musim panas penuh kekhawatiran.
























