Fusilatnews – Ketika Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak akibat bom atom Amerika Serikat pada 1945, Kaisar Hirohito dihadapkan pada kenyataan pahit: Jepang porak poranda, rakyatnya kehilangan harapan, dan negara itu nyaris kehilangan masa depan. Namun, apa yang dilakukan sang Kaisar? Ia tidak berkeluh kesah pada angka-angka kerugian, tidak pula menuding rakyatnya sebagai “beban.” Sebaliknya, ia mengumpulkan sekitar 45.000 guru yang tersisa dan memberi mereka mandat: membangun kembali Jepang melalui pendidikan. Hirohito paham, di tangan gurulah peradaban baru dapat ditata.
Kontras dengan itu, di Indonesia hari ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani justru melontarkan pernyataan yang menohok: gaji guru dan dosen disebut sebagai “beban negara.” Sebuah frasa yang dingin, teknokratis, dan jauh dari semangat memuliakan pendidik. Pernyataan ini bukan sekadar soal fiskal, melainkan soal cara pandang: melihat guru bukan sebagai investasi jangka panjang, melainkan sekadar angka dalam tabel anggaran.
Apakah Ibu Menteri lupa, bahwa tanpa guru, tidak ada menteri? Apakah Ibu Menteri lupa, bahwa ilmu yang ia genggam lahir dari keringat pendidik? Mengatakan guru sebagai “beban” sama artinya dengan menegasikan fondasi peradaban bangsa.
Tentu benar bahwa gaji guru dan dosen menyedot porsi besar dari APBN. Tapi apakah itu beban? Justru itulah investasi paling strategis. Jepang yang hancur lebur mampu bangkit menjadi negara industri raksasa, bukan karena tumpukan utang atau infrastruktur mewah, melainkan karena pendidikan yang diletakkan di jantung pembangunan. Jika Kaisar Hirohito saja, dalam keterbatasan dan kehancuran total, melihat guru sebagai kunci kebangkitan, mengapa Indonesia yang jauh lebih mapan justru menstigma guru sebagai penghambat fiskal?
Sri Mulyani boleh saja brilian dalam mengutak-atik neraca negara, tetapi jika cara pandangnya terhadap guru hanya sebatas beban, maka itu pengkhianatan terhadap masa depan bangsa. APBN bukan sekadar soal menjaga rasio utang atau neraca primer, tapi tentang memastikan generasi mendatang tidak hidup dalam kebodohan dan keterbelakangan.
Sejarah telah memberi pelajaran: negara bisa bangkrut karena perang, karena korupsi, atau karena salah urus. Namun, negara yang menistakan gurunya, cepat atau lambat akan kehilangan arah peradaban. Jepang pernah terbakar habis, tetapi mereka bangkit karena menghormati gurunya. Indonesia? Bisa jadi tidak pernah benar-benar bangkit, justru karena pejabatnya sibuk menyebut guru sebagai beban.























