Suatu hari, seorang profesor ahli lingkungan mengajak saya menelusuri tepian hutan yang mulai renta—sebuah kawasan yang dulunya penuh kehidupan, namun kini lebih mirip museum kerusakan ekologis. Di tengah tanah yang mulai retak, ia berhenti tepat di depan sesuatu yang nyaris tak terlihat: sebatang kara pohon ulin yang tingginya bahkan tak lebih dari lima puluh sentimeter. “Tahu usianya berapa, Mr. Ali?” tanyanya sambil menatap batang kecil itu. Saya menggeleng. “Enam tahun umurnya,” jawab sang profesor. Nada suaranya berat, seperti menanggung kesedihan yang tak bisa ditampung oleh kata-kata.
Ulin—kayu besi Kalimantan—adalah simbol keperkasaan hutan tropis Indonesia. Tumbuhnya sangat lambat, namun ketika ia dewasa, kekuatannya hampir abadi. Dari generasi ke generasi, ulin menjadi tiang rumah, jembatan, bahkan pilar kebudayaan. Kini, yang tersisa hanyalah kecilkecil seperti ini: sebatang rapuh yang bertahan di antara padang yang memutih. “Sekarang pohon-pohon itu sudah habis!” seru profesor itu, memecah keheningan yang menyesakkan dada. Kepunahannya bukan lagi prediksi, melainkan kenyataan yang kita saksikan telanjang di depan mata.
Ia kemudian menunjuk ke sudut sebuah gubuk tua yang nyaris roboh. Tiga ekor kelelawar bergelantung di sana, tertidur di balik gelap. “Dan itu, kelelawar-kelelawar sudah pindah rumahnya ke gubuk ini,” ucapnya lirih. “Padahal merekalah yang dulu menanam, membawa, dan menebarkan biji-biji ulin itu ke seluruh hutan.” Ironi itu menusuk: makhluk kecil yang menjadi penebar kehidupan kini kehilangan rumah, sementara manusia yang katanya makhluk paling berakal justru merampas kehidupan itu sedikit demi sedikit.
Kehilangan ulin bukan sekadar hilangnya satu spesies pohon; ia adalah hilangnya sebuah mekanisme ekologis yang dibangun selama ribuan tahun. Ketika ulin musnah, kita kehilangan sejarah, kehilangan fungsi, kehilangan penyangga kehidupan. Itulah sebabnya profesor itu berdiri lama di depan batang kecil itu, seolah sedang menghadiri pemakaman sesuatu yang amat ia cintai.
Dalam diam, saya memahami: kepunahan tak pernah terjadi tiba-tiba. Ia adalah hasil dari keputusan-keputusan kecil yang diabaikan, keserakahan yang dinormalisasi, dan ketidakpedulian yang diwariskan. Pohon kecil setinggi 50 sentimeter itu bukan sekadar bibit; ia adalah pesan. Pesan bahwa waktu kita hampir habis, dan bahwa apa yang hilang dari alam tak selalu bisa kita kembalikan.
Di tengah hening hutan yang telah kehilangan suaranya, hanya satu pertanyaan yang bergema: setelah ulin punah, siapa yang akan menyusul?
























