Oleh : Jaya Suprana | Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan
MENURUT hasil telaah Pusat Studi Kelirumologi, satu di antara sekian banyak fenomena terkait apa yang disebut sebagai kekeliruan adalah sesuatu yang sebenarnya keliru, namun apabila secara berkelanjutan dianggap sebagai benar maka yang sebenarnya keliru itu malah akhirnya menjadi yang benar. Sebagai contoh klasik adalah terminologi konsumerisme yang sebenarnya bermakna gerakan atau paham melindungi kepentingan konsumen. Akibat digunakan secara keliru dalam makna perilaku konsumtif berlebihan oleh para tokoh masyarakat yang dianggap panutan bahkan diperkuat oleh kamus maka istilah konsumerisme kini lebih dikenal sebagai perilaku konsumtif berlebihan yang sebenarnya adalah konsumtifisme.
Demikian pula istilah radikal yang semula bermakna intensif, gigih bertahan pada prinsip atau fokus sampai ke akar-akarnya, namun akibat penguasa menggunakan sebagai istilah caci maki untuk terorisme maka kini istilah radikal dianggap sama dengan terorisme. Padahal telah sempat dikoreksi oleh tidak kurang dari Presiden Jokowi sendiri. Namun sampai kini istilah radikalisme di Indonesia tetap gigih bertahan melekat pada terorisme dalam makna negatif dan destruktif. Nasib serupa juga dialami oleh istilah Machiavellinisme yang kini berkonotasi negatif atau minimal tidak positif berhubung kaprah dianggap sebagai anjuran politik oportunistik dengan menghalalkan segala cara untuk meraih, mempertahankan dan meningkatkan kekuasaan.
Padahal jika kita cermat menyimak dan menghayati isi buku Il Principo mahakarya Nicollo Machiavelli sebenarnya pemikir Italia masa Renaisance ini tidak membenarkan penguasa menghalalkan segala cara dalam meraih, mempertahankan dan mengembangkan kekuasaan, namun sekadar menelaah bagaimana penguasa di Italia pada abad XV menghalalkan segala cara demi mewujudkan ambisi kekuasaan mereka. Menjelang tahun ke 20 abad XXI, sebuah buku ditulis oleh Paul Strathen dan diterbitkan dengan judul “The Borgias”. Buku ini secara tidak langsung makin memparah citra negatif pada Machiavellisme.
Keluarga besar Borgia memang mereformasi dan membangkitkan kembali kejayaan peradaban Romawi sebagai patron para jenius seperti Leonardo da Vinci, Michaelangelo, Raphael, Dante, Petrarka bahkan memengaruhi sejarah dunia. Adalah Rodrigo Borgia sebagai Sri Paus Aleksander VI yang menyebabkan Brasil berbahasa Portugis, sementara negara Amerika Selatan lain-lainnya berbahasa Spanyol. Keberhasilan utama dinasti Borgia adalah menghadirkan seorang paus yang sangat berkuasa di Italia era Renaisance.
Menurut Strathen, Sri Paus Aleksander VI yang semula bernama Rodrigo Borgia sangat menikmati nikmatnya kehidupan duniawi dengan kerap menyelenggarakan pesta pora orgi tidak kalah tidak senonoh ketimbang pesta pora orgi Kaisar Caligula maka kurang layak untuk diungkap di naskah sederhana ini. Yang maksimal memanfaatkan kekuasaan Sri Paus Aleksander VI dalam menghalalkan segala cara adalah Cesare Borgia yang konon adalah anak haram Rodrigo Borgia yang kemudian sempat menjadi kardinal. Cesare Borgia yang merupakan tokoh utama di dalam Il Principo sangat tega melakukan pembunuhan demi menyingkirkan lawan mau pun teman politik yang dianggap menghalangi ambisi kekuasaan dirinya.
Jenasah seorang saudara kandung Cesare Borgia ditemukan mengapung di sungai Tiber, sementara seorang ipar Cesare dibinasakan bahkan seorang asisten setia Cesare dipancung. Apa boleh buat, suka tak suka, “The Borgias” karya Strathen sukses memantapkan citra buruk yang sudah terlanjur ditimpakan secara tidak adil terhadap “Il Principo” sebagai tulisan Machiavelli yang kemudian melahirkan terminologi Machiavellisme yang kerap dikeliru-tafsirkan sehingga terlanjur terstigma konotasi buruk. Pada hakikatnya secara kelirumologis layak diluruskan bahwa menggunakan istilah Machiavellisme untuk angkara murka penguasa yang tega menghalalkan secara cara demi meraih kekuasaan sebenarnya keliru. Sebenarnya istilah yang lebih tepat dan benar untuk mashab politik kekuasaan yang menghalalkan segala cara bukan Machiavellisme, tetapi Borgianisme.
Dikutip kompas.com, Jumat, 26 Agustus 2022

























