• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Kemiskinan yang “Dipelihara” Negara: Antara Amanah Konstitusi dan Strategi Politik yang Licik

fusilat by fusilat
February 18, 2026
in Birokrasi, Feature
0
Kemiskinan yang “Dipelihara” Negara: Antara Amanah Konstitusi dan Strategi Politik yang Licik
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Malika Dwi Ana
17 Februari 2026

Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 dengan tegas menyatakan: “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Frasa ini seharusnya menjadi panggilan suci bagi negara untuk melindungi yang paling lemah, memastikan martabat manusia terjaga, dan memutus rantai kemiskinan lintas generasi. Namun, dalam praktiknya selama puluhan tahun—termasuk hingga 2026 ini—frasa mulia itu sering dibalik menjadi tuduhan getir: negara justru mempertahankan kemiskinan pada tingkat tertentu agar rakyat tetap bergantung, mudah dikendalikan, dan tidak berani mempertanyakan kebijakan yang merugikan.

Kemiskinan di Indonesia bukan sekadar kegagalan kebijakan; ia bersifat struktural dan sering kali tampak sengaja dipelihara. Data BPS terbaru (September 2025) menunjukkan tingkat kemiskinan nasional turun menjadi 8,25%, dengan jumlah penduduk miskin 23,36 juta orang—penurunan sekitar 490 ribu dari bulan Maret 2025. Angka ini terdengar menggembirakan, tapi garis kemiskinan yang digunakan (sekitar Rp 641 ribu per kapita/bulan) masih sangat rendah, hanya mencerminkan survival minimum, bukan pake ukuran hidup layak. Jika menggunakan standar Bank Dunia atau garis kemiskinan yang lebih realistis, jutaan orang lagi akan masuk kategori miskin. Di sisi lain, kemiskinan ekstrem (di bawah US$2,15/hari) ditargetkan nol pada akhir 2026 oleh pemerintahan Prabowo—target ambisius yang sering dikritik sebagai ilusi karena kurangnya reformasi mendalam.

Pemerintah memang rajin menyalurkan bansos: PKH, BPNT, sembako, BLT, dan program serupa lainnya, dengan anggaran ratusan triliun setiap tahun, bahkan kini MBG yang mengambil anggaran pendidikan, dan kesehatan yang dinarasikan sebagai “efisiensi.” Bansos maupun MBG konon penting untuk menahan agar orang tidak jatuh lebih dalam ke jurang kelaparan. Namun, kritik tajam muncul: bansos lebih berfungsi sebagai alat politik transaksional daripada solusi permanen. Menjelang pemilu, bansos mengalir deras; setelahnya, banyak yang kembali ke kondisi semula. Demikian pula MBG juga menjadi mesin uang yang menguntungkan dan alat untuk mempertahan kekuasaan. Dua proyek yang menciptakan ketergantungan, dimana ketergantungan diciptakan secara sistematis: rakyat miskin diberi ikan setiap hari, tapi jarang diajari memancing—atau lebih parah, alat pancingnya dirampas oleh kartel dan oligarki.

Mengapa kemiskinan struktural ini bertahan?

  • Ketimpangan akses sumber daya tetap ekstrem: lahan pertanian dikuasai segelintir konglomerat, petani kecil terjebak utang dan impor pangan yang merugikan.
  • Pendidikan dan kesehatan berkualitas rendah di daerah pinggiran, membuat mobilitas sosial nyaris mustahil. Stunting masih tinggi, generasi baru lahir sudah kalah start.
  • Pekerjaan informal mendominasi: upah rendah, tanpa jaminan, tanpa jenjang karier. Kerja keras saja tidak cukup; karena sistemnya memang dirancang agar mayoritas tetap di bawah.
  • Korupsi dan oligarki menikmati kue besar: anggaran infrastruktur megah, tapi bansos warga miskin dipangkas di daerah tertentu sementara tunjangan pejabat membengkak.

Ketika rakyat mulai mandiri secara ekonomi—punya pendapatan stabil, pendidikan baik, akses informasi luas—mereka akan mulai bertanya: mengapa korupsi merajalela? Mengapa konstitusi diacak-acak? Mengapa kebijakan lebih menguntungkan elite? Pertanyaan-pertanyaan itu berbahaya bagi kekuasaan yang bergantung pada kontrol massa. Maka, kemiskinan dijaga pada level “cukup menderita untuk bergantung, tapi tidak sampai meledak menjadi pemberontakan.”

Pemerintah sering membanggakan penurunan angka kemiskinan, tapi realitas di lapangan bertolak belakang: biaya hidup melonjak, pekerjaan rapuh, dan ketimpangan (Gini ratio masih sekitar 0,36) tetap tinggi. Pidato di forum internasional seperti WEF 2026 tentang “misi hidup memberantas kemiskinan ekstrem” terdengar sangat mulia, tapi tanpa reforma agraria sungguhan, pemberantasan kartel pangan, pendidikan vokasi massal, dan penegakan hukum anti-korupsi yang tegas, target nol kemiskinan ekstrem pada 2026 hanyalah jargon baru semata—mirip janji-janji sebelumnya yang berulang tanpa perubahan hakiki.

Negara bukan musuh rakyat, tapi ketika negara memilih mempertahankan ketergantungan daripada memberdayakan, ia menjadi bagian dari masalah. Amanah Pasal 34 UUD 1945 bukan untuk “memelihara” kemiskinan sebagai komoditas politik, melainkan untuk menghapusnya secara bermartabat. Selama bansos lebih diprioritaskan daripada reformasi struktural, dan selama elite terus menikmati privilege sementara rakyat hanya diberikan remah-remah, maka tuduhan bahwa kemiskinan dipelihara negara akan terus bergema—bukan sebagai konspirasi, tapi sebagai analisis pahit atas realitas yang kita alami bersama.

Sudah saatnya rakyat berhenti sekadar menerima bantuan, dan mulai menuntut keadilan sistemik. Karena ketika rakyat mandiri, barulah negara benar-benar takut—bukan pada kemiskinannya, tapi pada kesadaran kolektif yang tak lagi bisa dibeli.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Sidang Isbat Digelar Hari Ini, Awal Puasa Berpotensi Berbeda antara Muhammadiyah dan NU

Next Post

Anti SP-3 Tapi Mengemis SP-3: Paradoks Roy Cs dalam Logika Hukum Pidana

fusilat

fusilat

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo
Birokrasi

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Next Post
Anti SP-3 Tapi Mengemis SP-3: Paradoks Roy Cs dalam Logika Hukum Pidana

Anti SP-3 Tapi Mengemis SP-3: Paradoks Roy Cs dalam Logika Hukum Pidana

Arab Saudi Tetapkan 1 Ramadan 18 Februari 2026, Indonesia Mulai Puasa 19 Februari

Arab Saudi Tetapkan 1 Ramadan 18 Februari 2026, Indonesia Mulai Puasa 19 Februari

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...