FusilatNews – Pada Senin pagi yang masih berembus sejuk di akhir Mei, ribuan wanita berbaris rapat di luar President University Convention Center, Jababeka, Cikarang Utara. Mereka tak datang untuk menimba ilmu, meski lokasinya di lingkungan universitas. Mereka datang membawa harap: pekerjaan. Ada yang mengenakan blazer lusuh pinjaman, sepatu pantofel murahan yang dipaksakan rapi, dan map plastik berisi CV yang sudah dicetak dua hari sebelumnya di tempat fotokopi dekat kos. Mereka semua hadir di Pasti Kerja Expo 2025.
Job fair itu menjadi magnet. Sekitar 35 ribu pencari kerja memadati area pameran rekrutmen yang digelar Pemerintah Kabupaten Bekasi. Namun, sorotan utama bukan hanya pada jumlah lowongan atau perusahaan bonafide yang hadir. Yang mencolok justru adalah wajah-wajah letih, tubuh-tubuh lelah, dan langkah-langkah yang mulai limbung karena berdiri terlalu lama dalam antrean. Mayoritas peserta adalah perempuan, mulai dari lulusan SMA hingga sarjana baru. Mereka datang dari berbagai sudut Bekasi dan sekitarnya, bahkan ada yang berangkat dini hari dari Karawang dan Tambun.
“Aku sudah berdiri dari jam 6 pagi. Belum masuk juga, baru dapet antrean masuk ke tenda,” ujar Lilis, 23 tahun, sambil mengipasi wajahnya dengan map cokelat. Ia adalah lulusan jurusan administrasi perkantoran dari sebuah kampus swasta di Jakarta Timur. Sudah enam bulan ia menganggur sejak terakhir kontraknya habis di sebuah perusahaan e-commerce. “Katanya ada perusahaan Jepang buka banyak lowongan,” katanya, mata berbinar di tengah kantuk dan haus.
Di tengah riuh, terdengar jeritan. Seorang perempuan muda ambruk. Panitia segera menggotongnya ke sisi tenda. Sejurus kemudian, satu lagi menyusul. Total ada belasan perempuan yang dilaporkan pingsan karena kelelahan dan dehidrasi. Minimnya tempat duduk, kurangnya titik air minum, dan cuaca panas yang menyengat menambah beban perjuangan mereka.
Fenomena ini bukan baru. Namun, pemandangan job fair yang dipadati pencari kerja perempuan selalu menyisakan ironi. Dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bekasi, angka pengangguran perempuan muda masih tinggi. Salah satu sebabnya: preferensi perusahaan yang masih banyak menempatkan laki-laki sebagai pilihan utama untuk pekerjaan teknis atau shift malam. Padahal, banyak dari perempuan ini tak kalah sigap, tangguh, dan terampil.
Di satu sisi, pemerintah setempat menyebut acara ini sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap tingginya angka pengangguran pascapandemi dan pelambatan industri. Lebih dari 80 perusahaan membuka lapak dalam bursa kerja ini. Tapi, tidak semua peserta menganggapnya efektif. Beberapa bahkan menyebutnya lebih mirip kontes ketahanan fisik ketimbang proses seleksi profesional.
“Daripada capek begini, mending semua lewat daring aja. Kami bisa unggah CV, lalu kalau dipanggil baru datang,” keluh Dewi, seorang lulusan Teknik Informatika yang gagal masuk ke dalam hall setelah lima jam mengantre.
Namun, di balik segala kekurangan itu, Pasti Kerja Expo telah menyingkapkan sesuatu yang tak tercatat di lembar statistik: daya juang perempuan. Mereka yang tak menyerah pada nasib, yang berani menembus batas tubuhnya sendiri demi satu kemungkinan: panggilan kerja. Mereka yang tahu bahwa di negeri yang menjanjikan bonus demografi, pekerjaan tetap menjadi kemewahan.
Pada senja yang memerah, sebagian pulang dengan langkah gontai, sebagian bertahan demi wawancara cepat, dan sebagian lain masih menggenggam harapan meski tubuh hampir rebah. Tak semua pulang dengan hasil. Tapi semuanya telah menunjukkan bahwa mereka bukan hanya mencari kerja — mereka sedang bertahan hidup. Dan bagi perempuan-perempuan ini, bertahan adalah bentuk perjuangan yang tak bisa disepelekan.
























